BALIEXPRESS.ID - Cekcok antara seorang wanita pengemudi mobil dengan warga di Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Karangasem, menjadi viral. Kini ada dua versi kronologi awal kejadian sebelum cekcok.
Versi Pertama, disampaikan oleh akun Facebook Komang Arianta yang memberikan komentar di akun Facebook Cattaleya InBali.
Facebook Cattaleya InBali membagikan siarang langsung di akunnya tentang kronologi peristiwa tersebut. Kemudian mendapat komentar dari Komang Arianta yang mengaku warga dari Desa Antiga.
Arianta mengklaim, masalah ini berawal dari wanita ini yang yang terus maju padahal di ujung mobil yang parkir wanita ini ditanya warga setempat mau kemana.
"Ibu jawab mau ke Gegelang dan warga tersebut sudah bilang bahwa dengan situasi seperti ini ibu tidak bisa lewat sini namun ibu terus klakson dan maju seolah-olah anda benar dan sekitar setelah 100 meter maju kemudian ada mobil keluar dan alhasil terjadilah kemacetan," kata dia.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa di ujung mobil parkir terakhir sudah diisi plang penunjuk arah, yakni diarahkan ke kiri dari arah wanita yang datang masuk gang beton.
"Itu gang tembus dan bisa menuju ke Gegelang namun ibu tidak mengikutinya. Lagian itu jalan penghubung antar desa di mana ketika ada acara ngaben sudah pasti ditutup dan dialihkan. Mungkin karena ibu orang luar yang tumben masuk ke desa kami jadinya ibu tidak tahu dan merasa benar sehingga ibu ngeyel," papar dia.
Versi Kedua, disampaikan oleh akun Facebook Cattaleya InBali. Dalam live di facebook itu dia sedang berada di hotel. Dia mengaku sedang di Papua.
Dia memberikan klarifikasi soal kronologi hingga terjadinya cekcok. Dia menjelaskan waktu itu daia akan ke tempat ngaben. Kemudian, di jalan besar itu macet terus ada pengalihan jalan ke kiri.
"Terus aku ikut pengalihan ke kiri. Aku ikut ke situ. Di situ ada polisi yang jaga. Akhirnya aku masuk sampai jauh, sampailah di desa itu, yang jelas di Antiga, mobil parkir kiri-kanan. Emang boleh parkir kiri-kanan?" tanya dia.
Kemudian, lanjut dia, saat sampai di sana tidak ada yang memberi sign (tanda) jalan ini ditutup atau pecalang yang memberi tahu larangan lewat apabila ada upacara keagamaan.
"Karena cang jeleme Bali, amun cang ngelah acara, cang lakar nutup jalan segala macam, cang kasih sign, you know?" katanya.
Nah, karena tidak ada tanda larangan, maka dia jalan terus. Kemudian dia mengaku diarahkan orang lokal masih muda di situ, tapi bukan bapak berbaju merah yang diajaknya cekcok.
Akhirnya mobilnya berpapasan dengan mobil Avanza yang membawa tamu orang asing. Maka, dia pun harus mundur.
"Its okay, gak apa-apa (mundur), awalnya legawa. Tiba-tiba dia gebrak mobil, terus bilang kenapa udah macet bla bla bla. Kan aku nanya kenapa gak ada pecalang, terus dia bilang kalau sudah macet begini harusnya aku punya inisiatif untuk tidak maju, jangan nerobos. Gue ga nerobos, gua masih punya otak," katanya.
Maka, terjadilah cekcok antara wanita itu dengan lelaki berbaju merah. Kemudian datang lagi seorang lelaki lebih muda yang mengenakan udeng putih yang membentak wanita itu sehingga tambak cekcok.
"Dia bentak-bentak. Kenapa nadanya tinggi, akhirnya jadi kayak adu mulut," papar dia.
Potongan kejadian itu divideokan oleh orang lain dan menjadi viral.
Disingging sal versi lain dari pihak Ariawan yang komentar di akun facebooknya, dia mengatakan tidak seperti itu. Dia berani diadu berdua soal kebenaran peristiwa itu. Tapi masalahnya sedang di Papua.
"Sing ade keto (versi lain, red). Itu kan bahasanya untuk menjatuhkan orang," kata perempuan yang mengaku asal Bali ini. ***