Desa Kayuputih sudah ada sejak zaman prasejarah, yang dibuktikan dengan adanya peninggalan-peninggalan seperti sarkofagus atau peti mati yang terbuat dari batu andesit. Beberapa sarkofagus ditemukan di beberapa rumah warga, kemungkinan besar ditemukan ketika mereka menggali tanah untuk membangun rumah.
Sebanyak sembilan sarkofagus ditemukan, satu di antaranya utuh dan delapan lainnya pecah. Selain itu, ditemukan juga Pura Munduk Duur yang berisi ponjokan-ponjokan batu yang diyakini sebagai peninggalan kepercayaan leluhur pada zaman Bali kuno.
Setelah zaman prasejarah, Desa Kayuputih mengalami perkembangan kepercayaan, terutama ajaran Siwa, yang dibuktikan dengan adanya patung Siwa Pasupata dan peninggalan lainnya. Di Pura Bale Agung, terdapat palus yang menyerupai alat kelamin laki-laki yang terbuat dari batu andesit, dan dikenal sebagai Dewa Gede Celak Kontong.
Selain itu, terdapat juga patung terakota yang menggambarkan seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. Di Pura Munduk, ditemukan peninggalan seperti Lingga Yoni, Stupa Buddha, dan dua patung kuda yang terbuat dari batu andesit, yang diyakini sebagai penjaga.
Pada masa Kerajaan Ki Barak Panji Sakti, Desa Kayuputih dikenal dengan nama Desa Tarupingi, yang mencakup wilayah Banyuatis dan dipimpin oleh Ki Pasek Gobleg sebagai prajuru dari Ki Barak Panji Sakti.
Kepercayaan yang dianut di Desa Tarupingi berbeda dengan kepercayaan Ki Pasek Gobleg. Saat itu, seorang Bagawanta bernama Dang Hyang Wiraga Sandhi dari Kerajaan Gelgel melewati Desa Tarupingi dalam perjalanan menuju Jawa. Ki Pasek Gobleg memohon izin kepada Raja Ki Barak Panji Sakti agar Bagawanta tersebut diizinkan tinggal di Tarupingi untuk melaksanakan Catur Asrama.
Pada masa penjajahan Belanda, Desa Tarupingi berganti nama menjadi Desa Kayuputih dan dibagi menjadi tiga desa Desa Banyuatis, Desa Bangkangan (Tirta Sari), dan Desa Kayuputih.
Pemerintahan desa dipimpin oleh seorang Perbekel, dengan Ida Bagus Kepasekan sebagai perbekel pertama, yang kemudian digantikan oleh Ida Bagus Oka dan akhirnya Bagus Gede Suanda. Perbekel dibantu oleh Sedaan, yang mengatur persubakan, dan Bendesa, yang mengurus upacara yadnya.
Desa Kayuputih berada di ketinggian 400 hingga 550 meter di atas permukaan laut, dengan luas wilayah mencapai 383.165 hektar/m².
Sebagian besar lahan di desa ini dimanfaatkan untuk pertanian, yang menunjukkan bahwa mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, terutama dalam bidang perkebunan seperti cengkeh, kopi, dan berbagai jenis hortikultura, serta petani sawah sebagai penghasil beras.
Hasil bumi yang beragam juga mendorong beberapa penduduk untuk berwirausaha, seperti berdagang hasil bumi yang mereka peroleh langsung dari produsen setempat, dan kemudian dipasarkan ke luar daerah seperti Denpasar, Singaraja, dan kota-kota lainnya di Bali.
Baca Juga: Menguak Sejarah 4 Desa di Bali yang Berasal dari Nama Pohon dan Keunikannya
Di sektor persawahan, Desa Kayuputih memiliki enam subak basah, yaitu Subak Kayuputih, Subak Menagung, Subak Sanda, Subak Belong, Subak Bebau, dan Subak Bolangan. Salah satu subak terkenal sebagai penghasil beras merah lokal, yang memiliki nilai gizi tinggi serta cita rasa khas.
Namun, seiring waktu, luas area sawah terus menyusut, mengakibatkan penurunan produksi beras merah. Pemerintah desa berkomitmen untuk melestarikan produk unggulan ini melalui bantuan bibit dan pupuk organik, serta dukungan dalam pemasaran pasca panen.
Selain pertanian, masyarakat Desa Kayuputih juga bergantung pada sektor peternakan. Hasil peternakan mencakup sapi, kambing, babi, dan ayam broiler.
Beberapa warga bahkan telah memanfaatkan limbah ternak kambing sebagai pupuk organik untuk pertanian, menunjukkan bahwa peternakan di desa ini sudah mendukung pertanian terpadu yang berbasis agrobisnis.
Di samping potensi pertanian dan peternakan, Desa Kayuputih juga memiliki potensi pariwisata yang signifikan.
Desa ini menawarkan panorama alam yang indah, didukung oleh objek wisata seperti air terjun dan jalur tracking.
Selain itu, Desa Kayuputih juga berperan sebagai penyangga bagi Desa Munduk, yang telah memiliki potensi wisata yang dikelola dengan baik. (dik)
Editor : I Putu Mardika