Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Duaaaar! Pesawat Pan Am World Airwaiys Jatuh di Hutan Tinga-Tinga 50 Tahun Silam, Begini Kisahnya

I Putu Mardika • Minggu, 18 Agustus 2024 | 16:34 WIB

Bangkai Pesawat Pan Am Air yang jatuh di hutan Desa Tinga-Tinga Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng pada 22 April 1974 silam
Bangkai Pesawat Pan Am Air yang jatuh di hutan Desa Tinga-Tinga Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng pada 22 April 1974 silam
BALIEXPRESS.ID-Kecelakaan pesawat Pan Am (Pan American World Airways) di Desa Tinga-Tinga, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, merupakan salah satu tragedi penerbangan yang terjadi di Indonesia. Peristiwa ini dikenal sebagai jatuhnya Pan Am Flight 812. 

Dilansir dari berbagai sumber menyebutkan peristiwa itu terjadi pada 22 April 1974 silam yang dialami Pesawat Boeing 707-321B milik Pan American World Airways dengan Nomor Penerbangan Pan Am Flight 812. Penerbangan ini memiliki rute dari Hong Kong menuju Los Angeles dengan beberapa pemberhentian, salah satunya di Denpasar, Bali.

Pada tanggal 22 April 1974, Pan Am Flight 812 yang berangkat dari Hong Kong menuju Los Angeles, mengalami insiden tragis ketika hendak mendarat di Bandar Udara Ngurah Rai, Bali. Ketika mendekati Bali, pesawat kehilangan kontak dan kemudian jatuh di perbukitan Desa Tinga-Tinga, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali.

Pesawat nahas tersebut menabrak area pegunungan yang terjal saat bersiap untuk mendarat di landasan pacu 09 menuju Denpasar setelah penerbangan selama 4 jam 20 menit dari Hong Kong.

Semua 107 orang di dalam pesawat meninggal dunia. Lokasi kecelakaan berada sekitar 42,5 mil laut (48,9 mil; 78,7 km) barat laut dari Bandara Internasional Ngurah Rai, tepatnya di Desa Tinga-Tinga, Buleleng, Bali.

Penerbangan 812 merupakan penerbangan reguler yang dijadwalkan dari Hong Kong ke Los Angeles dengan beberapa pemberhentian di Bali, Sydney, Nadi, dan Honolulu, dan berangkat dari Hong Kong pada 22 April 1974, pukul 11:08 UTC (19:08 waktu Hong Kong). Waktu tempuh ke Bali diperkirakan sekitar 4 jam 23 menit.

Pada pukul 15:23 UTC (12:23 waktu Bali tahun 1974), Penerbangan 812 berada dalam tahap akhir mendekati Bali. Pesawat dilaporkan berada pada ketinggian 2.500 kaki.

Menara kontrol di Bandara Ngurah Rai memberikan instruksi kepada pesawat untuk melanjutkan pendekatan dan melaporkan saat landasan sudah terlihat. Penerbangan 812 mengkonfirmasi dengan mengatakan, "Check inbound". Pada 15:26, kapten pesawat meminta informasi tentang visibilitas dengan bertanya, "Hei - Tower, bagaimana visibilitas Anda di luar sana sekarang?"

Namun, berdasarkan transkripsi rekaman suara Air Traffic Control, pesan tersebut tidak pernah diterima oleh Menara Bali. Pesan ini ternyata merupakan komunikasi terakhir yang dikirim oleh pesawat.

Investigasi mengungkapkan bahwa penyebab utama kecelakaan adalah kesalahan navigasi oleh pilot. Pilot diduga menurunkan pesawat terlalu cepat pada pendekatan terakhir sebelum mendarat, sehingga pesawat menabrak bukit yang berada di area tersebut.

Pada saat itu, pesawat berada di ketinggian yang terlalu rendah dan cuaca buruk diduga juga menjadi faktor penyebab kesalahan navigasi.

Seluruh 107 penumpang dan awak pesawat tewas dalam kecelakaan ini, menjadikannya salah satu kecelakaan penerbangan paling tragis di Indonesia.

Kecelakaan ini menjadi salah satu insiden yang mengubah pendekatan dalam pelatihan dan prosedur navigasi penerbangan di area yang memiliki kondisi geografi yang kompleks seperti Bali. Kejadian ini juga menyoroti pentingnya peralatan navigasi yang lebih canggih dan peningkatan pelatihan bagi pilot dalam menghadapi medan yang sulit.

Peristiwa ini menjadi bagian penting dalam sejarah penerbangan Indonesia dan dunia, serta meninggalkan kenangan pahit bagi keluarga korban dan masyarakat Indonesia.

Demi mengenang tragedi jatunya Pan Am Flight 812 maka dibangunlah Monumen untuk menghormati dan mengenang para korban dari kecelakaan tragis yang terjadi pada 22 April 1974 silam.

Pengunjung saat melihat makam korban pesawat Pan Am Air di Desa Tinga-Tinga Kecamatan Gerokgak
Pengunjung saat melihat makam korban pesawat Pan Am Air di Desa Tinga-Tinga Kecamatan Gerokgak

Monumen ini terletak di Pantai Matahari Terbit, Sanur, Denpasar Bali. Monumen ini memiliki desain sederhana namun penuh makna.

Terdapat sebuah plakat peringatan yang berisi nama-nama seluruh penumpang dan awak pesawat yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. Selain itu, monumen ini dilengkapi dengan tulisan yang memberikan informasi singkat mengenai peristiwa kecelakaan.

Monumen ini selain sebagai tempat untuk mengenang para korban, juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya keselamatan dalam penerbangan dan sebagai simbol solidaritas bagi keluarga korban.

Setiap tahun, terutama pada tanggal 22 April, beberapa orang, terutama yang memiliki hubungan dengan para korban, datang ke monumen ini untuk mengenang dan memberikan penghormatan.

Monumen ini tidak hanya menjadi tempat peringatan bagi tragedi Pan Am Flight 812, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah Bali yang mengingatkan kita akan pentingnya keselamatan dan kehati-hatian dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam perjalanan udara. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #sanur #hutan #Pan Am #Tinga Tinga #monumen #gerokgak #denpasar #pesawat #sejarah #buleleng #jatuh