BALIEXPRESS.ID - Pura Tanah Lot yang berlokasi di atas batu karang, berjarak sekitar 300 meter dari garis pantai di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, dijaga lelipi (ular) poleng.
Ular atau lelipi poleng ini dipercaya berkaitan dengan sejarah kedatangan Dang Hyang Dwijendra ke Bali.
Menurut Penganceng Pura Luhur Tanah Lot dari Puri Kediri, Anak Agung Ngurah Gede Sugiarta, asal-usul Pura Luhur Tanah Lot tidak bisa dilepaskan dari kisah perjalanan suci Dang Hyang Dwijendra ke Bali pada tahun 1498.
Saat kedatangan Dang Hyang Dwijendra, Pulau Bali diperintah oleh Raja Dalem Waturenggong.
Raja sangat menyambut baik kedatangan Dang Hyang Dwijendra, dan mengangkatnya sebagai penasihat kerajaan.
Setelah lama tinggal di Kerajaan Gelgel, Dang Hyang Dwijendra meminta izin untuk berkelana mengunjungi pura-pura suci yang dibangun raja, dan pura-pura suci lainnya di Bali.
Dalam perjalanannya, Dang Hyang Dwijendra tiba di Gunung Batukaru. Di sana Dang Hyang Dwijendra bersemedi.
Dalam semedinya, Beliau melihat asap mengepul dari arah tenggara Pegunungan Batukaru.
Diketahui asap tersebut berasal dari wilayah pesisir pantai yang berlokasi di Desa Beraban.
Setelah diketahui, akhirnya Dang Hyang Dwijendra menuju ke Desa Beraban.
Sampai di Beraban, Dang Hyang Dwijendra mengetahui asap tersebut berasal dari sebuah Lingga Yoni.
Kemudian Beliau bersemedi di atas karang berbentuk burung beo.
Sesekali ia ke Pura Pekendungan untuk memberikan dharma wacana kepada warga sekitar.
Desa Beraban kala itu dipimpin oleh Ki Bendesa Beraban atau disebut Bendesa Beraban Sakti.
Ki Bendesa Beraban tidak menyukai kedatangan Dang Hyang Dwijendra, karena ajarannya menarik murid-murid Bendesa Beraban.
Bersama pengikutnya yang tersisa, Bendesa Beraban menyerang Dang Hyang Dwijendra yang saat itu sedang bersemedi di atas karang berbentuk burung beo.
Dengan kesaktiannya, Dang Hyang Dwijendra memindahkan karang tersebut ke tengah laut.
Kemudian Beliau melambaikan selendangnya sehingga muncul ular poleng (warna hitam putih) dan menyerang Bendesa Beraban bersama pengikutnya.
"Di sinilah asal-usul mengapa Pura Tanah Lot berada di tengah laut dan ular poleng yang bisa ditemukan hingga saat ini," ungkapnya.
Sedangkan nama Tanah Lot, Sugiarta menyebut, sejak awal namanya memang Tanah Let yang terdiri dari dua suku kata, tanah dan let. Tanah artinya daratan, dan let artinya laut.
"Nama Tanah Let tersebut, lama kelamaan menjadi Tanah Lot yang tetap memiliki arti yang sama yakni daratan dan laut sebagai lokasi tempat Pura Tanah Lot berdiri," tambahnya.
Editor : Nyoman Suarna