Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengapa Tiang Pancang di Tol Bali Mandara Berdiri Miring? Ini Alasannya!

I Putu Suyatra • Senin, 19 Agustus 2024 | 19:40 WIB

Tiang miring di Tol Bali Mandara
Tiang miring di Tol Bali Mandara

BALIEXPRESS.ID - Ketika melintas di bawah Tol Bali Mandara, Anda mungkin memperhatikan beberapa tiang pancang yang berdiri miring.

Meskipun tampaknya tidak lazim, pemasangan tiang pancang miring ini adalah bagian dari strategi untuk mengantisipasi siklus gempa besar yang mungkin terjadi dalam seribu tahun ke depan.

Menurut Pimpro Paket 3 proyek Tol Bali Mandara dari PT Hutama Karya I, Nyoman Sujaya, tiang pancang miring ini merupakan bagian dari "expansion joint" yang dirancang khusus.

“Tiang pancang dipasang miring ini memang sengaja dilakukan di paket 3. Sementara itu, expansion joint juga dipasang di paket 1 di Nusa Dua, paket sambungan Nusa Dua-bandara, dan paket 4 di Pelabuhan Benoa, tetapi untuk paket kami, pemasangan ini dilakukan dengan kemiringan khusus,” jelas Sujaya.

Pemasangan tiang pancang miring bertujuan untuk mengurangi dampak getaran, terutama dalam kasus gempa.

“Tiang pancang miring dipasang setiap 85 meter untuk menahan getaran dari gempa. Dengan cara ini, jika terjadi gempa besar, hanya bagian sepanjang 85 meter yang akan bergetar, sementara sisa jalan tidak akan terganggu,” tambah Sujaya.

Tak hanya di jalur lurus, pemasangan expansion joint miring juga dilakukan di jalur interchange melingkar.

“Di paket 3, ada total 67 tiang pancang yang dipasang miring. Ini adalah bagian dari teknik konstruksi untuk memperkuat struktur,” ujar Sujaya.

Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa, atau dikenal sebagai jalan di atas perairan (JDP), merupakan proyek prestisius yang bertujuan untuk menyambut delegasi APEC dan menunjukkan keandalan teknologi konstruksi Indonesia.

Proyek ini dirancang untuk bertahan menghadapi siklus gempa seribu tahun dengan kekuatan hingga 9 SR.

“Rancangan JDP telah dihitung menggunakan program gempa yang memodelkan bagaimana konstruksi akan berperilaku saat terjadi gempa besar," jelas Eddy Bambang Susilo Tomo, Tenaga Ahli Dewan Komisaris Jasamarga Bali Tol (JBT).

"Konstruksi JDP dirancang untuk lebih lentur dan canggih, sehingga tetap aman meskipun mengalami defleksi,” tambah Eddy Bambang Susilo Tomo.

Bali, yang terletak di jalur The Pacific Ring of Fire, memiliki potensi gempa tinggi karena pertemuan dua lempeng bumi, yaitu Lempeng Samudera Indo-Australia dan Lempeng Benua Euroasia.

“Kami memperhitungkan semua risiko dengan matang. Mutu konstruksi sangat kami jaga karena investasi besar yang terlibat. Kami berkomitmen untuk memastikan kualitas dan ketahanan infrastruktur kami,” pungkas Sujaya. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#tol bali mandara #gempa #Tiang Pancang #miring