BALIEXPRESS.ID – Sejarah Desa Dalung yang kini berada di wilayah Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung tak terlepas dari perselisihan keluarga kerajaan Mengwi.
Kisahnya bermula dari Raja Mengwi ketiga yang memiliki putra bernama I Gusti Gede Meliling dengan pusat pemerintahannya di Padangluwah.
Perselisihan dimulai sejak berpulangnya I Gusti Gede Meliling, sehingga keturunannya terpaksa melarikan diri ke Dalung.
Setelah situasi kondusif dibentuklah sebuah desa yang bernama Dalung.
Asal katanya yakni Eda Lung, yang artinya tidak patah, kemudian menjadi Dalung.
Diceritakan dalam website resmi Desa Dalung, wilayah Padangluwah memiliki kondisi yang stabil dari segi perekonomian dan politik.
Kondisi kaliyuga pun mulai muncul saat I Gusti Gede Meliling berpulang.
Keturunannya mulai tidak rukun dan menyiapkan strategi masing-masing.
Hal ini akibat adanya provokasi oleh kerajaan lain yang menginginkan kerajaan Padangluwah yang terkenal subur dan strategis.
Dalam perselisihan tersebut terjadi jebolnya terowongan sungai sehingga air tak dapat mengalir ke Dam Gumasih.
Ini menyebabkan kekeringan di wilayah tersebut, hingga masyarakat akhirnya mengalami kelaparan.
Puncak perselisihan saat pemerintahan I Gusti Gede Tibung yang merupakan cucu I Gusti Gede Meliling.
Dalam upacara pengabenan ayahnya, yakni I Gusti Gede Tegeh I, kerajaan Tibubeneng melakukan penyerangan.
Saat itu kerajaan tersebut dipimpin oleh I Gusti Gede Mangku yang merupakan saudara tiri dari I Gusti Gede Tegeh.
Akhirnya I Gusti Gede Tibung wafat dalam perang saudara dan meninggalkan empat putra.
Keempat putranya pergi meninggalkan Padangluwah menuju sebelah barat sungai Yeh Poh (kini dikenal dengan Banjar Kaja, Dalung).
Kepergian keempat ahli waris kerajaan ini tidak ingin jauh dari Padangluwah, lantaran masih ingin memberikan pertolongan rakyat yang membutuhkan.
Keempat putra I Gusti Gede Tibung berusaha meyakinkan diri dan memperkuat keyakinan tersebut untuk tidak patah semangat.
Semasih tulang tidak patah, jangan menyerah dan harus mampu membangun diri untuk rencana berikutnya.
Dari sanalah muncul istilah “jangan patah” yang berarti "Eda Lung", yang kemudian menggema ke seluruh masyarakat dari mulut ke mulut.
Seiring berjalannya waktu, semangat tersebut terus dipertahankan hingga akhirnya kedamaian didapatkan.
Sehingga nama desa pun terbentuk yakni Desa Dalung.
Terbentuknya Desa Dalung juga tidak terlepas dari peran empat putra I Gusti Gede Tibung, yakni I Gusti Gede Tegeh III, I Gusti Nengah Tegeh, I Gusti Gede Dauh, dan I Gusti Ketut Dauh.
Editor : Nyoman Suarna