BALIEXPRESS.ID - Pernahkah Anda menikmati sebungkus nasi jinggo yang hangat, dibungkus daun pisang, dan penuh dengan cita rasa khas Bali?
Makanan sederhana ini ternyata menyimpan kisah menarik yang bermula dari seorang ibu rumah tangga dan sebuah film koboi.
Baca Juga: Perseroda BMB Bangli Target Kelola Dua Kawasan Parkir Tahun Ini, Tiga Lokasi Masih dalam Kajian
Di balik nama "jinggo" yang unik, tersimpan cerita tentang seorang ibu bernama Men Djenggo.
Dikutip dari postingan Facebook Henry Alexie Bloem, diceritakan bahwa pada tahun 1970-an, di tengah hiruk pikuk Pelabuhan Benoa, ibu ini memulai bisnis kecil-kecilan dengan menjual nasi bungkus.
Pilihan lauknya sederhana: ayam, sapi, atau babi. Namun, yang membuatnya istimewa adalah harga yang sangat terjangkau dan rasa yang nikmat.
Baca Juga: TPS3R di Desa Bedulu Gianyar Jadi Sasaran Pencurian, Uang dan Aksesori Sepeda Motor Raib
Kisah menarik bermula dari sini. Suami Men Djenggo, seorang pensiunan TNI, sangat menggemari film koboi "Django".
Saking sukanya, ia sering menyanyikan lagu tema film tersebut saat menidurkan anaknya, Henry Alexie Bloem. Karena sering mendengar ayahnya menyanyikan "Djenggo jago tembak...", Henry pun kerap dipanggil Djenggo oleh keluarga dan tetangganya.
Lambat laun, nama "Djenggo" melekat pada keluarga ini. Bahkan, nasi bungkus buatan ibunya pun ikut disebut "Nasi Men Djenggo".
Baca Juga: Buleleng Luncurkan Gerakan Konsumsi Pangan Sehat Berbahan Sorgum di BDF 2024
Harga yang murah dan rasa yang lezat membuat nasi bungkus ini sangat populer di kalangan pekerja pelabuhan dan nelayan.
Men Djenggo bisa membuat ratusan bahkan ribuan porsi nasi bungkus setiap hari.
Namun, karena alasan keagamaan, ia akhirnya berhenti berjualan. Meski begitu, warisan kulinernya terus hidup. Sekitar tahun 1984, muncullah nasi jinggo di berbagai penjuru Denpasar, menjadi salah satu ikon kuliner Bali.
Sampai saat ini, kita masih bisa menikmati nasi jinggo dengan berbagai variasi lauk.
Namun, di balik setiap suapan nasi jinggo yang kita santap, tersimpan kisah inspiratif tentang seorang ibu yang gigih dan sebuah keluarga yang penuh kehangatan.(ika)
Editor : Wiwin Meliana