BALIEXPRESS.ID - Desa Tiyingtali, yang terletak di Kecamatan Abang, Bali, merupakan sebuah desa yang kaya akan sejarah dan budaya.
Desa ini memiliki struktur administratif yang terdiri dari 8 Banjar Dinas, 4 Desa Pakraman, dan 8 Banjar Adat.
Dikitutip dari web desa, sejarah Desa Tiyingtali tidak dapat dipisahkan dari sejarah desa tetangganya, Basangalas, yang dulunya dikenal dengan nama Garbawana.
Pada abad ke-5 Masehi, terjadi peristiwa penting yang memengaruhi hubungan antara Desa Tiyingtali dan Basangalas.
Pada bulan purnama saat itu, Desa Adat Tiyingtali dijadwalkan untuk menghadiri pertemuan atau pesangkepan di Desa Adat Basangalas.
Meskipun cuaca sangat cerah dan tidak ada awan yang terlihat, tiba-tiba terjadi banjir besar di Sungai Nyuling, yang memisahkan kedua desa tersebut.
Akibatnya, anggota Desa Adat Tiyingtali tidak dapat menghadiri pertemuan yang telah dijadwalkan.
Peristiwa yang sama berulang pada Hari Raya Kuningan, saat upacara Tarian Sakral, Tari Rejang, akan dilakukan di Pura Basangalas.
Meskipun cuaca cerah, banjir kembali terjadi di Sungai Nyuling, menyebabkan anggota Desa Adat Tiyingtali yang telah berpakaian lengkap untuk menari tidak dapat melanjutkan upacara di Pura Basangalas.
Upacara Tarian Sakral tersebut akhirnya dipindahkan ke Balai Banjar Tiyingtali.
Baca Juga: Perseroda BMB Bangli Target Kelola Dua Kawasan Parkir Tahun Ini, Tiga Lokasi dalam Kajian
Karena kejadian serupa terus berulang setiap kali ada pertemuan atau upacara penting di Pura Basangalas, anggota Desa Adat Tiyingtali memutuskan untuk mendirikan Pura Puseh di desa mereka sendiri sebagai langkah preventif.
Permohonan pun diajukan oleh perwakilan dari kedua desa, I Bendesa dari Tiyingtali dan I Mekel dari Basangalas, kepada Raja Karangasem, Anak Agung Karangasem.
Mereka meminta restu untuk memisahkan kedua desa dengan batas Sungai Nyuling.
Permohonan ini disetujui, dan kedua desa, Tiyingtali dan Basangalas, memiliki otonomi masing-masing sesuai dengan batas yang telah ditetapkan. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana