Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal Usul Desa Tigawasa: Diyakini sudah ada sejak Jaman Neolitikum, Petani bayar dengan Tiga Sana

I Putu Mardika • Jumat, 23 Agustus 2024 | 03:59 WIB

Sumber mata air sakral di Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng
Sumber mata air sakral di Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng menjadi salah satu desa Bali Aga dari lima desa yang ada di kawasan Banjar. Terdapat sejumlah peninggalan tertulis/lontar, prasasti, serta cerita dan kesaksian sejarah.

Selam aini Masyarakat Desa Tigawasa, terkait soal sejarah lebih banyak mengandalkan cerita dari para tetua sebagai saksi sejarah, serta peninggalan yang telah disesuaikan dan dianggap sakral.

Desa Tigawasa terletak sekitar 19 km ke arah barat dari Kota Singaraja, hingga mencapai Labuan Aji (Ramayana). Dari Labuan Aji, arahkan perjalanan ke selatan sejauh lebih kurang 5 km untuk mencapai Desa Tigawasa, yang terletak di tanah landai di pegunungan, dengan ketinggian antara 500 hingga 700 meter di atas permukaan laut.

Desa Tigawasa memiliki luas wilayah sekitar 1.690 hektar, membentang dari pegunungan hingga pantai Tukad Cebol (yang kini menjadi Desa Kaliasem).

Wilayah Desa Tigawasa dahulu juga mencakup Kampung Bunut Panggang, Bingin Banjah, dan Kampung Labuan Aji. Pada masa penjajahan Belanda, kampung-kampung ini berada di bawah pemerintahan Perbekel Desa Tigawasa.

Oleh karena itu, penduduk kampung yang memiliki sawah, kebun, atau ladang dalam wilayah Desa Tigawasa dikenakan "Tiga Sana" (sarining tahun) setiap tahun, yang dibayarkan dalam bentuk uang atau padi untuk dijadikan kas pura. Padi tersebut disimpan di Jineng Sanghiyang (Lumbung) di Pura Desa.

Namun, setelah Indonesia merdeka, wilayah Desa Tigawasa dibagi menjadi lima bagian, yaitu Tigawasa, Tukad Cebol (Kaliasem), Bunut Panggang, Labuan Aji, dan Bingin Banjah, yang semuanya berada di bawah Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

Sejak saat itu, penduduk kampung tidak lagi dikenakan "Tiga Sana", tetapi masih memberikan punia saat ada upacara di Pura Segara atau Pura Pemulungan.

Asal usul Desa Tigawasa belum dapat diketahui secara pasti dan masih dalam penyelidikan. Namun, yang jelas, Desa Tigawasa termasuk desa purba (Bali Aga) karena banyak mengandung peninggalan kuno. Menurut ilmu bahasa, nama desa ini terdiri dari kata majemuk "Tiga" dan "Wasa" (dari bahasa Kawi yang berarti Banjar atau Desa).

Kata Ini menunjukkan bahwa Desa Tigawasa terdiri dari tiga banjar, yaitu Banjar Sanda, Banjar Pangus, dan Banjar Kuum Munggah (Gunung Sari).

Hal ini terbukti dengan ditemukannya benda-benda peninggalan manusia prasejarah di tiga lokasi tersebut, yaitu Banjar Sanda (Wani), Banjar Pangus, dan Banjar Kuum Munggah (Gunung Sari).

Penduduk Desa Tigawasa memperkirakan bahwa desa ini sudah dihuni manusia sejak zaman batu muda (Neolitikum), terbukti dengan ditemukannya beberapa kapak batu halus di beberapa tempat.

 Kapak ini berwarna hitam, kelabu, dan putih, dan oleh masyarakat Tigawasa disebut "gigin kilap", yang dianggap sebagai batu bertuah. Batu ini digunakan dalam ritual penyembuhan padi yang terkena hama.

Caranya dengan merendam batu dalam air, lalu memercikkan air tersebut pada tanaman padi yang sakit. Kepercayaan ini dipercaya mampu menghilangkan penyakit pada padi, sehingga batu ini disakralkan.

Pada zaman batu muda hingga zaman perunggu (Megalitikum), di tiga lokasi tersebut juga ditemukan berbagai peninggalan purbakala, seperti peti mati (sarkofagus) berisi tulang manusia, cincin, gelang perunggu, spiral, manik-manik, besi tombak, dan periuk kecil di Banjar Wani.

Selain itu, di Banjar Pangus ditemukan palungan dari batu cadas dan selonding (gamelan perunggu) yang disimpan di Pura Pemulungan (Beagung) sebagai benda sakral.

Menurut keterangan dari Jawatan Purbakala yang melakukan penyelidikan dan penggalian sarkofagus, benda-benda tersebut sudah berusia lebih dari 2000 tahun.

Di dalam sarkofagus ditemukan logam, perunggu, besi, emas, tembaga, manik-manik, dan lainnya yang terkait dengan kebudayaan Dongson yang berasal dari Indocina (Tiongkok) dan tersebar di Indonesia.

Menurut sejarah, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari pegunungan Yunnan di Asia Tenggara (Tiongkok Selatan) dan berpindah ke berbagai kepulauan di Indonesia, termasuk Bali.

Salah satu kelompok kecil menetap di Tigawasa, yang dikenal sebagai Bali Kuna atau Bali Aga, yaitu masyarakat yang tinggal di pegunungan dan dekat dengan sumber air. Mereka dikenal sebagai Bali Aga, yang berarti masyarakat pegunungan.

Benda-benda yang ditemukan oleh Jawatan Purbakala masih disimpan di gedung Jawatan Purbakala di Denpasar.

 

Editor : I Putu Mardika
#tigawasa #bali #bali aga #Banjar #sejarah #buleleng