Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Nagasepaha: Berawal dari kisah Ampas Nangka, Kini Jadi Pusat Kerajinan Wayang Lukis Kaca

I Putu Mardika • Jumat, 23 Agustus 2024 | 04:14 WIB

Pengrajin Wayang Lukis Kaca yang menjadi kisah sejarah Desa Nagasepaha
Pengrajin Wayang Lukis Kaca yang menjadi kisah sejarah Desa Nagasepaha
BALIEXPRESS.ID-Mendengar nama Desa Nagasepaha, tentu ingatan akan dibawa dengan kerajinan wayang Lukis kaca dan saab. Siapa sangka, jika desa yang terletak di Kecamatan Buleleng, ini memiliki Sejarah berkaitan dengan ampas buah Nangka.

Pada zaman dahulu, wilayah Desa Nagasepaha merupakan bagian dari Desa Prabakula, yang sekarang dikenal sebagai Desa Padangbulia.

Pada masa itu, Desa Padangbulia memiliki wilayah yang sangat luas, mencakup Desa Pegadungan, Desa Nagasepaha, Desa Gitgit, Desa Ambengan, Desa Silangjana, hingga Lemukih. Wilayah Nagasepaha saat itu dikenal sebagai Banjar Kelodan.

Pada suatu ketika, Desa Adat Prabakula mengadakan piodalan agung di Pura Bale Agung. Setiap banjar di desa tersebut diwajibkan untuk berkontribusi dalam pelaksanaan piodalan, dan Banjar Kelodan mendapat tugas untuk menyumbangkan buah Nangka.

Buah ini nantinya yang akan digunakan sebagai sayur dalam penyajian makanan bagi karma desa. Dengan antusias, warga Banjar Kelodan, yang pada saat itu terdiri dari 22 kepala keluarga, membawa buah nangka ke Pura Bale Agung sebagai wujud kewajiban mereka.

Namun, ketika kelian banjar diminta untuk memeriksa persembahan tersebut, ternyata semua buah nangka yang dibawa oleh warga Banjar Kelodan hanya berisi ampas, tanpa isi yang layak digunakan.

Melihat hal ini, bendesa langsung memerintahkan agar persembahan tersebut tidak digunakan, karena tidak dapat dipakai dalam upacara. Kelian Banjar Kelodan (sekarang Desa Nagasepaha) kemudian memerintahkan warganya untuk mempersembahkan kembali buah nangka yang baru untuk piodalan tersebut.

Namun, hal yang sama terjadi lagi. Setelah diperiksa, buah nangka yang baru dibawa pun hanya berisi ampas, tanpa isi yang dapat digunakan. Marah dengan kejadian ini, bendesa adat memerintahkan warga Banjar Kelodan untuk mempersembahkan buah nangka yang sesuai.

Akhirnya, melalui paruman agung, diputuskan bahwa 27 kepala keluarga yang tinggal di wilayah Banjar Kelodan akan dikeluarkan dari keanggotaan Desa Adat Prabakula.

Ke-27 kepala keluarga tersebut tidak mengikuti piodalan hingga selesai dan kemudian mendirikan sebuah pura di ujung selatan Banjar Kelodan (sekarang Desa Nagasepaha). Pura tersebut diberi nama "Nagasepaha", yang tetap ada hingga sekarang.

Desa Nagasepaha memiliki tradisi panjang dalam pembuatan wayang lukis kaca. Kerajinan ini diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi salah satu identitas budaya desa tersebut.

Wayang lukis kaca di Nagasepaha awalnya digunakan sebagai media untuk menceritakan kisah-kisah dari epik Hindu seperti Ramayana dan Mahabharata.

Para pengrajin di Nagasepaha menggunakan teknik melukis pada kaca dengan cat khusus yang tahan lama.

Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu Sejarah Desa Tiyingtali, Mulai dari Perpecahan hingga Keberadaan Pura Puseh

Prosesnya melibatkan langkah-langkah rumit, mulai dari menggambar desain awal, melukis pada kaca, hingga proses pewarnaan yang detail. Setelah lukisan selesai, kaca tersebut diberi bingkai kayu yang juga diproduksi secara lokal

Banyak keluarga di Nagasepaha yang bergantung pada kerajinan ini sebagai sumber mata pencaharian utama. Komunitas pengrajin biasanya terdiri dari beberapa generasi dalam satu keluarga yang bekerja sama dalam proses pembuatan wayang lukis kaca.

Wayang lukis kaca dari Nagasepaha dikenal karena detail dan keindahannya. Produk ini tidak hanya dijual di Bali, tetapi juga dipasarkan ke luar pulau bahkan hingga mancanegara. Beberapa pengrajin juga menerima pesanan khusus sesuai dengan kebutuhan pelanggan. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #Wayang Lukis Kaca #Nagasepaha #buleleng