Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Taro: Jejak Perjalanan Rsi Markandeya, Jadi Tempat Subak diperkenalkan Pertama Kali

I Putu Mardika • Minggu, 25 Agustus 2024 | 04:07 WIB

Patung Rsi Markandeya di Pura Gunung Raung, di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar yang menjadi jejak sejarah perjalanan suci Maha Rsi Markandeya
Patung Rsi Markandeya di Pura Gunung Raung, di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar yang menjadi jejak sejarah perjalanan suci Maha Rsi Markandeya
BALIEXPRESS.ID-Jejak sejarah Maha Rsi Markandeya tercatat jelas di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar. Salah satu peninggalan penting beliau dapat ditemukan di Pura Gunung Raung yang terletak di desa ini.

Perbekel Desa Taro, I Wayan Warka, menjelaskan bahwa nama "Desa Tua Taro" muncul sejak era Markandya Purana. Menurut purana ini, Rsi Markandeya lahir di India dengan restu dari Siwa pada abad ke-4.

Beliau kemudian melakukan perjalanan ke Asia Tenggara, termasuk Kalimantan Timur, sebelum akhirnya sampai di Pulau Jawa.

Karena mendapatkan restu dari Siwa, beliau diberi gelar Maha Yogi Markandya, yang menunjukkan bahwa kekuatan pertapaannya sangat kuat, bahkan tidak tergoyahkan oleh godaan Indra.

Akhirnya, Siwa menganugerahi beliau gelar "Maha," yang berarti besar, dan "Yogi," yang berarti pertapa yang meminta umur panjang kepada Tuhan.

Rsi Markandeya kemudian melanjutkan perjalanan ke Gunung Dieng, di mana beliau berhasil mengalahkan raksasa yang ada di Gunung Damalung.

Selanjutnya, beliau menuju Gunung Raung di Jawa Timur, dan dari sini, beliau melihat sinar yang berasal dari timur, yang ternyata adalah Gunung Toh Langkir (Gunung Agung).

Dengan restu Siwa, beliau mengetahui bahwa puncak Gunung Agung merupakan puncak Himalaya yang ada di India.

Perjalanan beliau berlanjut ke Gunung Raung, dan setelah melakukan yoga yang kedua dengan Panca Datu, beliau berhasil mengumpulkan 8000 pengikut dan membawa Panca Datu tersebut ke Gunung Agung, di mana Panca Datu ditanam.

Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan ke Barat dan sampai di Ponorajon (Penulisan). Di sini, beliau membagi-bagikan tanah perkebunan subak yang sekarang dikenal sebagai Desa Puakan, sebelum melanjutkan perjalanan ke selatan hingga mencapai Sungai Wos Campuhan.

Di tempat ini, beliau melakukan yoga dan mendirikan pelinggih bernama Pura Gunung Luah.

Di Desa Taro, peninggalan Rsi Markandeya yang disucikan termasuk batu, emas, lingga yoni, arca kayu, serta tombak yang dikenal sebagai Ratu Madeg.

Tombak ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang dapat memprediksi peristiwa alam, seperti kebakaran hutan, tergantung arah kemiringannya.

Keberadaan Desa Taro sangat erat kaitannya dengan perjalanan spiritual sang Maha Yogi, Ida Maha Rsi Markandeya.

Setelah membuka lahan hutan, beliau mendirikan tempat suci sebagai pusat penyebaran ajaran Dharma, yang bertujuan untuk membimbing masyarakat hidup harmonis.

Menurut Wayan Warka, Rsi Markandeya juga memperkenalkan teknik bercocok tanam dan ritual-ritual penting dalam agama Hindu, yang hingga kini masih dijalankan.

Sistem pertanian Subak yang terkenal luas diyakini pertama kali diperkenalkan di Dusun Puakan, salah satu dusun di Desa Taro.

Ritual-ritual keagamaan yang diwariskan sejak abad ke-7, saat Rsi Markandeya tiba di Bali, terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Tradisi-tradisi unik seperti tegen-tegenan, negtegin, nyaciin, dan mebegal-begalan penuh dengan simbolisasi religius.

Salah satu kepercayaan yang masih dipegang oleh masyarakat Desa Taro adalah terkait Wuku Watugunung.

Pada waktu ini, penduduk dan tamu tidak diperkenankan memasuki tempat-tempat suci, seperti Pura atau Merajan. Mereka hanya diperbolehkan berdoa dari luar, dalam kondisi yang disebut cuntaka, sebuah tradisi yang masih hidup hingga sekarang.

Menurut legenda, peristiwa keramat ini berkaitan dengan musibah yang pernah menimpa beberapa banjar di desa, seperti banjar Puakna, Taro Kaja, Taro Kelod, Pakuseba, dan Patas. Meskipun Desa Taro memiliki 14 banjar, penerapan tradisi ini berbeda-beda di setiap banjar. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#gianyar #tegalalang #Rsi Markandeya #sejarah #desa taro