Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Kuta: Dikenal dengan Nama Pelabuhan Coutaen, Sejak Dulu Jadi Tempat Persinggahan Orang Asing

Nyoman Suarna • Senin, 26 Agustus 2024 | 02:04 WIB
TUJUAN WISATA: Kuta yang kini menjadi salah satu tujuan wisata dunia, memiliki sejarah panjang sejak zaman majapahit hingga kedatangan Belanda.
TUJUAN WISATA: Kuta yang kini menjadi salah satu tujuan wisata dunia, memiliki sejarah panjang sejak zaman majapahit hingga kedatangan Belanda.

BALIEXPRESS.ID  - Sebagai salah satu destinasi wisatawan mancanegara, Kuta memiliki sejarah panjang. Kuta dikenal pertama kali sebagai kota pelabuhan, pusat perdagangan dan pelayaran baik lokal, nasional maupun internasional.

Menurut catatan sejarah, dikutif dari Buletin Fakultas Sastra Unud, tahun 1987, Kuta merupakan pelabuhan utama di Bali pada abad ke-19.

Berada di bawah kekuasan Kerajaan Badung, Kuta kerap menjadi persinggahan Belanda.

Pada masa itu Kuta sering dijadikan tempat tinggal  sementara atau persinggahan bagi pelaut-pelaut dan pejabat Belanda.

Pada zaman Majapahit, ketika Gajah Mada melakukan ekspedisi ke Bali untuk memperluas kekuasaannya, Kuta merupakan tempat mendaratnya bala tantara Majapahit pada tahun 1334.

Lokasi itu dulunya lebih dikenal dengan  nama "benteng" sesuai prasasti yang tersimpan di Pura Sanggaran.

Konon pendaratan dilakukan lewat pelabuhan Kuta bagian selatan yaitu Desa Kelan.

Ketika angkatan laut Portugis di bawah pimpinan Van Linschoten hendak menuju Blambangan, Jawa Timur tahun 1586, juga menyinggahi Kuta.

Tahun 1597 Cornelis de Houtman juga singgah di perairan Kuta. Ia tinggal selama hampir sebulan penuh, dari 25 Januari hingga 26 Februari untuk menghadap raja Gelgel, di Klungkung.

Saat itu ia sudah melihat kehidupan Pelabuhan Kuta yang sangat ramai, disebut pelabuhan Coutaen.

Pada waktu itu, orang-orang Belanda sempat menyaksikan seorang patih Kerajaan Gelgel bernama Ki Lor sedang menyeberangi selat Bali melalui Kuta untuk menyerbu Banyuwangi yang dikuasai Kerajaan Mataram.

Orang-orang yang saat itu sedang lepas jangkar di pelabuhan Kuta menjuluki pasukan Ki Lor dengan sebutan maharaja dari Bali dan Ki Lor.

Kunjungan kedua pelaut Belanda ke Kuta dilakukan tahun 1601 dipimpin Corbelis van Heemskerch.

Dua tahun kemudian, utusan Belanda di bawah pimpinan Wijbrandt van Waarwick juga mengunjungi Bali lewat Kuta.

Belanda baru dapat izin mendirikan loji di Kuta tahun 1620, tetapi dicabut kembali karena dipakai sebagai perdagangan budak.

Letak Kuta memang sangat strategis sebagai pelabuhan. Beberapa tempat di Kuta yang dijadikan tempat bongkar muat kapal-kapal barang adalah Pelabuhan Kuta di pantai barat.

Selain itu juga Pelabuhan Tuban di pantai timur, Pulau Serangan, Tanjung Benoa, tanah Genting, Bukit Kapur dan sebuah sungai kecil yang menghubungkan pantai barat dan pantai timur yang berjarak sekitar 3 km.

Sungai ini disebut kali Kuta atau Yeh Dawan. Saat air laut pasang, sungai selebar sepuluh meter dengan kedalaman satu meter dapat dilewati perahu dari pantai timur ke pantai barat.

Pantai timur digunakan pada musim angin barat karena pantai ini terlindung oleh Pulau Serangan, Tanah Genting dan Bukit Kapur.

Sebaliknya, pantai barat (Kuta) digunakan pada musim angin timur atau musim kemarau.

Van Hoevel melukiskan bahwa pelabuhan barat memiliki ombak sangat keras pada musim angin barat sehingga menyulitkan kapal-kapal untuk berlabuh.

Sebagai pelabuhan, Kuta mempunyai peranan sangat menonjol bagi lalu lintas perdagangan dan persinggahan sementara bagi para pelaut.

Tak heran kalau Kuta memiliki hubungan dekat dengan pelabuhan di pantai Jawa Timur, Sunda Kecil, Indonesia Timur bahkan Singapura.

Editor : Nyoman Suarna
#sejarah #Coutaen #pelabuhan #kuta