Konon Sejarah desa erat dengan tokoh Ki Gusti Ngurah Tambahan, seorang utusan dari Kerajaan Gelgel, datang ke desa ini pada saat keadaan semakin genting akibat ancaman dari seorang raksasa.
Dengan persetujuan para pemimpin desa, ia berhasil mengalahkan raksasa tersebut dan sebagai imbalannya, ia diberikan tanah untuk dijadikan lahan pertanian. Ki Gusti Ngurah Tambahan kemudian membangun kubu atau benteng di lokasi yang sekarang dikenal sebagai Desa Kubutambahan.
Dilansir dari Website Desa Kubutambahan, diceritakan bahwa pada masa lampau, Desa Kubutambahan terletak di sebelah timur dari lokasi saat ini, di tepi pantai dan dikenal sebagai desa (kerajaan) Besi Mejajar.
Pusat pemerintahannya berada di sekitar Pulo Kerta Negara Loka sekarang, di daerah pantai yang dikenal dengan nama Kutabanding.
Di daerah ini terdapat Pura yang dihormati oleh para warga, dengan salah satunya bernama Ratu Gede Subandar (mungkin berasal dari Syah Bandar) dan Ida Betara Solo.
Penguasanya saat itu bergelar Ida Ratu Hyang Ing Hyang (yang berarti Raja di Raja) dan konon memiliki wilayah sebanyak 18 Bale Agung dari Desa Tianyar di timur hingga Desa Pemuteran di barat.
Sebelum masa kemerdekaan, Ida Batara Hyang Ing Hyang sering berziarah sampai ke pelabuhan Aji dan Desa Patemon. Bukti ini terlihat dari adanya Pura di Desa Kubutambahan yang memiliki nama yang sama dengan salah satu Pura di Desa Patemon, yaitu Pura Ratu Gede Patih.
Pada masa itu, Pura tersebut menyelenggarakan upacara besar yang juga melibatkan tata krama adat seperti kuntab (hadir).
Nama Besi Mejajar untuk Desa Kubutambahan mungkin berkaitan dengan beberapa Pura yang ada di Desa Kubutambahan yang terletak berjajar sepanjang pantai dan mengelilingi desa tersebut, membentuk pertahanan yang melindungi dari serangan musuh dari seberang lautan.
Pada suatu ketika, Desa Besi Mejajar diserang oleh musuh dari seberang lautan yang bertepatan dengan terjadinya banjir besar di daerah Yeh Buah, yang berasal dari kata Yeh Wah (banjir).
Untuk menyelamatkan raja, pusat pemerintahan dipindahkan ke selatan karena tempat sebelumnya mudah diserang oleh musuh dan merupakan muara aliran air besar dari atas (Desa Bila), Bengkala, dan Tamblang.
Pemerintahan kemudian dipusatkan di satu tempat yang disebut Desa Bulian, yang berarti abulih (satu).
Sampai sekarang, tradisi ini masih berlangsung, di mana warga Desa Bulian tetap harus melintasi jalan yang sama ketika melakukan ziarah dengan membawa sesembahan ke pura Penyusuhan di Yeh Buah, yang berasal dari kata Banyu suan (pembersihan).
Setelah keadaan stabil kembali, ancaman baru muncul dari seorang raksasa yang mengganggu penduduk Desa Besi Mejajar. Semua upaya untuk mengalahkan raksasa itu gagal, dan para ksatria kerajaan mulai putus asa.
Saat keadaan semakin genting, datanglah utusan dari kerajaan Gelgel Klungkung yang mencari daerah pertanian baru di wilayah Den Bukit. Utusan ini bernama Ki Gusti Tambahan dari Desa Bangli.
Menyadari situasi yang gawat, Ki Gusti Tambahan setuju untuk membantu mengalahkan raksasa tersebut dengan syarat jika berhasil, ia akan diberi tanah untuk dijadikan lahan pertanian.
Setelah syarat-syarat tersebut disepakati oleh para pemuka pemerintahan, termasuk Ki Pasek Menyali, Ki Pasek Bebetin, dan Ki Pasek Bayan, Ki Gusti Ngurah Tambahan memohon restu dan petunjuk dari Ki Dukuh Bulian dan diberi keris bernama Ki Baan Kawu.
Akhirnya, Ki Gusti Ngurah Tambahan berhasil membinasakan raksasa tersebut, namun dengan pesan yang harus dipenuhi, yaitu Raksasa hanya dapat dibinasakan dengan keris Ki Baan Kawu oleh Ki Gusti Ngurah Tambahan.
Setelah raksasa mati, Ki Gusti Ngurah Tambahan harus menjaga dua bilah keris yang bernama Ki Baru Sembah dan Ki Baru Ular yang bermanfaat sebagai penolak bala.
Ki Gusti Ngurah Tambahan harus menjadi penguasa di sebelah utara Desa Bulian dan tidak kembali ke Gelgel, karena hal ini sudah menjadi kehendak Dewata agar ia menetap di sana.
Setelah semua pesan tersebut disanggupi, raksasa itu pun mati. Pucuk pimpinan di Bulian dan kerabatnya, termasuk Ki Pasek Menyali, Ki Pasek Bebetin, dan Ki Pasek Bayan, sepakat memberikan tanah untuk dibuka oleh Ki Gusti Ngurah Tambahan, meliputi Daerah Tukad Aya (Daya) hingga ke timur Desa Sangsit dan Daerah Alas Agung (alas sarum) Bungkulan dan sekitarnya
Ki Gusti Ngurah Tambahan dan para pengikutnya kemudian membangun pondok (kubu) untuk tempat istirahat dan menyimpan alat-alat yang digunakan untuk membuka lahan tersebut. Tempat ini dinamakan Kubu Ki Gusti Ngurah Tambahan, yang lama-kelamaan berubah menjadi Kubutambahan.
Seiring bertambahnya pengikut dan semakin suburnya daerah tersebut, Ki Gusti Ngurah Tambahan juga membangun pura untuk tempat ibadah para pengikutnya, sehingga mereka tidak perlu lagi ke Desa Bulian.
Pura-pura tersebut merupakan cabang dari pura di Desa Bulian, sehingga tidak diperkenankan membuat Meru yang menyerupai induknya di Desa Bulian.
Upacara-upacara di Kubutambahan juga dilaksanakan sehari setelah upacara di Desa Bulian, sehingga sampai sekarang peringatan Purnama dan Tilem di Desa Kubutambahan berbeda sehari dengan umat Hindu lainnya.
Upacara-upacara ritual untuk Ida Bhatara Ratu Hyang Ing Hyang atau Ratu Pingit juga dilakukan bergiliran dengan Desa Bulian.
Untuk mempermudah pemasaran hasil pertanian, sebuah pasar (peken) dibangun di antara Bulian dan Kubutambahan, yang sampai sekarang disebut pasar Gelgel.
Pada bulan kelima (November), semua warga Subak di Desa Kubutambahan pergi ke pura Yeh Basang di Desa Bulian untuk memohon berkat agar hasil tanaman pada musim tanam berikutnya lebih baik.
Ketika hama atau penyakit menyerang tanaman atau manusia di Desa Kubutambahan, masyarakat percaya pada kekuatan keris peninggalan Ki Gusti Ngurah Tambahan yang bernama Ki Baru Sembah. Salah satu kerisnya yang bernama Ki Baru Ular disimpan di Desa Patemon dan dijaga oleh Rkyan Arya Ularan. (dik)
Editor : I Putu Mardika