Dilansir dari Website Desa Sembiran, M nama "Sembiran" berasal dari kata "sembir" yang berarti bagian atau pecahan. Dikisahkan bahwa pada zaman dahulu, ketika belum ada penduduk, seorang pertapa yang dikenal sebagai Ida Betara Guru melakukan yoga di bawah pohon kayu Kastuban.
Di pohon tersebut terdapat empat kepompong yang berubah menjadi dua bayi laki-laki dan dua bayi perempuan. Untuk merawat bayi-bayi ini, sang pertapa memanggil seorang perawan tua melalui meditasi.
Setelah bayi-bayi ini tumbuh dewasa, pertapa tersebut kembali bertapa untuk melindungi mereka. Bayi laki-laki diberi anugerah kekuatan dan menjadi cikal bakal Desa Julah, sedangkan bayi perempuan diberi anugerah kemenangan tanpa perang, menjadi cikal bakal Desa Sembiran.
Kedua desa ini dipisahkan oleh sungai yang bernama Tukad Kayehan Kangin, dengan laki-laki ditempatkan di sebelah timur (Desa Julah) dan perempuan di sebelah barat (Desa Sembiran).
Namun, setelah dipisahkan, penduduk di kedua desa tersebut tidak berkembang hingga akhirnya salah satu dari laki-laki menikahi salah satu perempuan dari Sembiran dan pindah ke Julah.
Untuk menjaga agar desa tidak kosong, laki-laki yang lain dibawa ke Sembiran. Dari sinilah populasi kedua desa mulai berkembang.
Setelah itu, ditetapkan sebuah bisama yang melarang pernikahan antara keturunan dari kedua desa tersebut, aturan yang masih dipegang hingga sekarang.
Selain cerita tersebut, penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Drs. R.P. Soejono di Desa Sembiran pada tahun 1961 menemukan berbagai alat batu tua seperti kapak tangan dan palu batu, yang menunjukkan bahwa desa ini telah dihuni sejak zaman pra-sejarah.
Benda-benda megalitik juga ditemukan di desa ini, memperkuat dugaan bahwa Desa Sembiran telah menjadi tempat tinggal manusia sejak zaman Neolitikum.
Selain itu, ditemukan pula prasasti-prasasti perunggu dari berbagai periode, termasuk dari zaman Ratu Ugrasena dan Raja Jaya Pangus. Prasasti ini memuat aturan-aturan yang berlaku di Desa Sembiran dan sekitarnya. Desa ini juga memiliki Awig-Awig, yaitu aturan adat yang ditulis di atas lontar dalam bahasa Bali-Kawi.
Desa Sembiran dikenal memiliki keunikan tersendiri, termasuk bahasa, adat istiadat, dan tradisi lokal yang berbeda dari desa-desa lain di Bali. Lambang desa ini berbentuk seperti dupa, melambangkan kebulatan tekad, persatuan, dan kedamaian yang diwariskan dari nenek moyang mereka.
Desa ini awalnya terdiri dari dua dusun, namun pada tahun 1986 berkembang menjadi enam dusun karena perluasan wilayah dan peningkatan populasi.
Selain apa yang telah dijelaskan sebelumnya, Desa Sembiran juga memiliki peninggalan dalam bentuk Awig-Awig atau Sima Desa. Peninggalan ini ditulis di atas lontar dalam bahasa Bali-Kawi, atau yang juga dikenal sebagai Bali Tengahan, dengan judul Awig-Awig Desa Sembiran.
Aturan-aturan ini kemungkinan besar sudah ada sebelumnya dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Bali Tengahan. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Desa Sembiran memiliki bahasa yang berbeda dari sebagian besar desa di Bali.
Desa Sembiran memang memiliki keunikan tersendiri, seperti nama desa, bahasa, adat istiadat, kalender Sembiran, dan keunikan-keunikan lainnya.
Dalam Awig-Awig Desa Sembiran pada bagian Riwayat Pemimpin Desa Adat, dijelaskan bahwa Ida Bhatara Wisnu menjelma di Medang (Jawa) dengan nama Rahyangta Kandyawan. Beliau menjadi raja di Medang, yang juga dikenal sebagai Medang Kemulan, dan memiliki lima putra.
Putra yang bungsu tetap menjadi raja di Jawa, sementara Raja dan putra-putra lainnya bersama dengan pengiringnya berlayar hingga tiba di Sembiran. Di tempat yang baru ini, mereka membuka hutan, membangun sawah, ladang, dan gaga (kebun).
Setelah pekerjaan ini selesai, mereka mengadakan upacara yadnya (kurban) besar untuk keselamatan lahan yang baru dibuka tersebut. Berdasarkan sejarah, Kerajaan Medang Kemulan merupakan kerajaan tertua di Jawa Tengah, sekitar abad ke-7.
Berdasarkan kisah ini, simbol desa dibuat menyerupai bentuk dupa, perahu layar, dan bukit yang berhutan.
Perahu layar melambangkan perjalanan Sri Baginda beserta pengiringnya dari Jawa ke Desa Sembiran, sementara bukit menggambarkan lokasi desa ini yang berada di daerah perbukitan, sesuai dengan sebutan Bali Aga.
Bulatan di tengah simbol melambangkan tekad dan persatuan yang kuat, warna dasar merah melambangkan fajar menyingsing sebagai tanda kebangkitan, dan gambar berwarna kuning emas melambangkan kedamaian.
Di tengah simbol terdapat tulisan "Wukir Samirana" berwarna hitam, yang berarti ketenangan. "Wukir" berarti bukit atau hutan, sementara "Samirana" berarti angin sepoi-sepoi, yang merupakan kekuatan yang menciptakan kedamaian.
Secara keseluruhan, "Wukir Samirana" menggambarkan daerah perbukitan yang penuh kedamaian.
Desa Sembiran awalnya terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Kawanan dan Dusun Kanginan. Namun, karena luas wilayah dan kepadatan penduduk, pada tahun 1986 desa ini dikembangkan menjadi enam dusun, yaitu Dusun Kanginan, Dusun Kawanan, Dusun Dukuh, Dusun Anyar, Dusun Bukit Seni, dan Dusun Panggung. (dik)
Editor : I Putu Mardika