Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tidak Ada Hubungannya dengan Pohon Bunut, Sejarah Desa Bunutan Berawal dari Pembuangan Para Musuh Raja Karangasem

I Wayan Adi Prabawa • Kamis, 29 Agustus 2024 | 19:19 WIB

 

Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, dulunya jadi tempat pembuangan musuh raja
Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, dulunya jadi tempat pembuangan musuh raja

BALIEXPRESS.ID - Dari namanya, Desa Bunutan yang berada di Kecamatan Abang, Karangasem mungkin dikira dengan keberadaan pohon bunut (ficus virens, sejenis beringin).

Ternyata, sejarah Desa Bunutan memiliki keunikan dan penuh makna, terutama terkait dengan masa lalu sebagai tempat pembuangan para musuh raja.

Dikutip dari web desa Bunutan, menurut keterangan tokoh-tokoh tua setempat, sebelum tahun 1909 Masehi, wilayah ini belum memiliki nama dan merupakan daerah rawa-rawa yang angker, belum ditempati dan dikuasai oleh Desa Adat Sega serta berbatasan dengan Desa Adat Gulinten.

Perubahan signifikan terjadi ketika Ida Anak Agung Anglurah naik tahta, yakni mulai memerintah Kerajaan Karangasem pada tahun 1909.

Berdasarkan sejarah Kerajaan Karangasem dikutip dari web sejarah-puri-karangasem.blogspot, I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem menjadi Raja Karangasem pada 1908-1950.

Pada masa pemerintahannya, daerah rawa-rawa ini digunakan sebagai lokasi pembuangan bagi individu yang dianggap bersalah atau menentang kekuasaan raja. Mereka dianggap sebagai musuh raja.

Kondisi lingkungan yang sulit dan berbahaya, dengan risiko nyamuk malaria dan binatang buas, membuat tempat ini menjadi pilihan yang menakutkan untuk pembuangan.

Meskipun demikian, para buangan yang kebanyakan adalah orang-orang intelektual dan berpengalaman, mampu bertahan hidup dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang keras.

Seiring waktu, mereka bersama pendatang baru berhasil menetap dan membangun komunitas.

Karena statusnya sebagai tempat pembuangan, penduduk awal desa ini terdiri dari berbagai kelompok yang berasal dari desa-desa di wilayah Kerajaan Karangasem, seperti Jasi, Seraya, dan Bugbug.

Mereka yang merasakan nasib serupa sepakat untuk menamai daerah ini dengan nama "Bungutan," yang berasal dari kata "bungut" (mulut), sebagai simbol keberanian mereka dalam menghadapi raja.

Seiring waktu, pelafalan "Bungutan" mengalami perubahan menjadi "Bunutan," yang dikenal hingga sekarang. ***

Editor : Y. Raharyo
#pohon bunut #raja karangasem #sejarah #karangasem #desa bunutan