Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Keajaiban Pura Dalem Segara Madhu Pernah Dihancurkan Belanda: Tempat Suci Hindu Bali yang Bisa Buat Relief Mobil yang Diproduksi 50-an Tahun Kemudian

I Putu Mardika • Minggu, 1 September 2024 | 18:22 WIB
Pura Dalem Segara Madhu di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali.
Pura Dalem Segara Madhu di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Kekalahan pasukan Bali yang dipimpin oleh Patih Gusti Ketut Jelantik di Pura Dalem Segara Madhu, Desa Suka Pura (sekarang Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali), meninggalkan tanda tanya besar bagi Belanda.

Dengan rasa penasaran yang membara, Belanda kembali melancarkan serangan dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Perang ini tidak hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang strategi, taktik, dan keberanian yang teruji di medan pertempuran.

 

Baca Juga: Misteri Pura Petitenget: Pantangan Sakral dan Penjaga Gaib di Pantai Kerobokan, yang Melanggar Alami Peristiwa yang Sulit Dipercaya

Pada perang pertama, Belanda menemukan dirinya terperangkap dalam sistem pertahanan unik yang dikenal sebagai Supit Urang, dirancang oleh Patih Jelantik.

Taktik ini membuat Belanda harus menyusun strategi secara hati-hati sebelum melakukan serangan berikutnya ke benteng Jagaraga.

Ketika akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang kembali pada tahun 1849, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar dan persiapan yang matang, pasukan Bali tidak mampu lagi menahan gempuran musuh.

Benteng yang sebelumnya tangguh, akhirnya jatuh ke tangan Belanda, menandai titik balik dalam sejarah perlawanan rakyat Buleleng.

Ketut Suradnya, atau akrab disapa Ketut Su, seorang warga Desa Jagaraga, yang memahami seluk-beluk Pura Dalem Segara Madhu.

Menurutnya, relief yang terpahat di penyengker pura ini menjadi saksi bisu serangan kedua Belanda yang datang dari segala penjuru.

Relief tersebut menggambarkan tentara Belanda dengan atribut bendera mereka, mobil, sepeda, perahu, hingga pesawat terbang, seolah menceritakan kisah tragis dari pertempuran yang tak terlupakan.

Pasca serangan kedua yang mengakibatkan kekalahan rakyat Buleleng, Belanda menghancurkan Pura Dalem Segara Madhu.

Namun, semangat juang masyarakat tak padam.

Pada tahun 1865, pura tersebut dibangun kembali dengan nama yang sama, Pura Dalem Segara Madhu, yang mengandung filosofi gelombang kehidupan.

Masyarakat dari berbagai desa, termasuk para undagi, dikerahkan untuk membangun kembali pura yang hancur itu.

Pura ini dipilih sebagai benteng pertahanan karena diyakini mampu memberikan perlindungan khusus, terutama bagi para tokoh perang.

Patih Gusti Ketut Jelantik, bersama istrinya Jero Jempiring, bahkan melakukan pasupati senjata di pura ini, memohon kekuatan magis dari Dewa Siwa agar senjata mereka menjadi bertuah dan mampu memenangkan pertempuran.

“Inilah alasan mengapa Pura Dalem Segara Madhu dijadikan benteng pertahanan. Nama Jagaraga sendiri berasal dari istilah ‘jaga raga’ yang berarti menjaga diri, sebuah istilah yang sering digunakan masyarakat pada masa perang,” jelas Ketut Su.

Arsitektur Pura Segara Madhu hingga kini masih mempertahankan gaya aslinya, seperti ketika pertama kali direnovasi pada tahun 1865 setelah dihancurkan oleh Belanda.

Keunikan lain yang menarik perhatian adalah relief mobil, motor, dan pesawat di penyengker pura.

Menurut cerita yang diturunkan secara turun-temurun, nenek moyang yang membuat relief tersebut belum pernah melihat kendaraan modern seperti mobil atau pesawat.

Namun, mereka memiliki imajinasi yang luar biasa, mampu memvisualisasikan masa depan dengan detail yang menakjubkan.

Ketut Su mengakui bahwa ia harus berhati-hati saat menjelaskan hal ini kepada wisatawan asing agar tidak menimbulkan kebingungan.

“Misalnya, relief mobil yang mirip dengan model Ford ‘T’ buatan Amerika yang diproduksi pertama kali pada tahun 1906. Jika kami bersikeras mengatakan bahwa relief ini dibuat pada tahun 1865, tentu tamu bisa komplain. Namun, kita sebagai orang Bali memahami bahwa para spiritualis masa lalu memiliki kemampuan melihat tiga dimensi waktu: masa lalu, sekarang, dan masa depan,” jelasnya.

Saat ini, Pura Dalem Segara Madhu terbagi menjadi dua halaman, dengan struktur yang unik.

Halaman pertama, jaba tengah, dilengkapi dengan gapura kurung dan dua bangunan utama, yaitu Bale Paruman dan Bale Gong.

Sedangkan halaman paling dalam, atau jeroan, terdiri dari Bale Pegat, Bale Pelig, Gedong Dalem, Padmasana, Gedong Prajapati, Sapta Petala, dan Bale Piasan.

Relief yang paling mencolok di pura ini adalah bentuk rangda yang menghiasi setiap sisi gapura dan bangunan di gedong.

Relief ini menunjukkan bahwa pemujaan terhadap Dewi Durga (Prajapati) lebih ditonjolkan dibandingkan yang lain.

Di depan gapura juga terdapat arca Men Brayut dan Pan Brayut yang melambangkan kesuburan.

Ketut Su menambahkan, “Biasanya, semakin ke dalam, posisi areal pura semakin tinggi. Namun di pura ini, justru semakin rendah, yang secara filosofis menyimbolkan introspeksi diri atau nyiksik bulu, serta mulat sarira.”

Pura Dalem Segara Madhu bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga menyimpan sejarah dan misteri yang membuat siapa pun penasaran untuk mengungkap cerita di balik relief dan arsitektur megahnya. *** 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #desa jagaraga #benteng #belanda #Pura Dalem Segara Madhu #Relief #hindu #pesawat #mobil #buleleng