Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Susut, Pernah Jadi Benteng Kerajaan Bangli saat Perang Lawan Kerajaan Gianyar

Y. Raharyo • Minggu, 1 September 2024 | 20:14 WIB
Desa Susut, Bangli memiliki sejarah panjang sejak era Kerajaan Bangli.
Desa Susut, Bangli memiliki sejarah panjang sejak era Kerajaan Bangli.

BALIEXPRESS.ID - Desa Susut, sebuah wilayah yang terletak di Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali, memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan dinamika politik dan peperangan antar kerajaan di masa lampau.

Dilansir dari web desa, keberadaan Desa Susut ini tidak lepas dari cerita tentang para raja dan peperangan yang berlangsung sebelum era kolonial Belanda.

Pada masa sebelum Belanda datang menjajah, Pulau Bali diperintah oleh berbagai raja yang sering kali terlibat dalam konflik untuk memperluas pengaruh mereka.

Termasuk adalah ketika Bali mulai dikuasai Majapahit pada 1343 Masehi, Kerajaan Bali di Gelgel kemudian pecah jadi beberapa kerajaan kecil.

Salah satu wilayah yang terlibat dalam konflik ini adalah Bangli, yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja keturunan Tirta Harum, Taman Bali dari Abad 16.

Raja ini merupakan salah satu putra dari Puri Nyalyan (Nyalian, Klungkung), yang memiliki tujuh putra, di mana putra bungsunya adalah I Dewa Gede Korian.

I Dewa Gede Korian dinobatkan di Puri Tusan (Klungkung) dan memiliki dua putra, yakni I Dewa Gede Sekar dan I Dewa Gede Siangan. I Dewa Gede Sekar inilah yang kemudian menjadi cikal bakal raja yang memerintah di Puri Susut.

Namun, kisah hidup I Dewa Gede Sekar tidak berjalan mulus. Karena suatu kesalahan yang ia lakukan di Puri Tusan, Klungkung, ia diasingkan ke Pulau Nusa Penida.

Dalam pengasingannya, ia membawa serta putranya, I Dewa Putu Sekar. Setelah lama menetap di Nusa Penida, I Dewa Gede Sekar dan putranya kembali ke Pulau Bali dan menetap di Jelijih, Tabanan.

Kelak, Jelijih ini masuk dalam bagian Desa Megati, Selemadeg Timur. Sampai saat ini ada tiga banjar Jelijih di Desa Megati.

I Dewa Putu Sekar kemudian memiliki dua putra, I Dewa Gede Dauh dan I Dewa Gede Dangin, yang menetap di Jelijih, sementara I Dewa Putu Sekar melanjutkan perjalanan ke Puri Bangli untuk mengabdi kepada Raja Bangli.

Pada masa itu, terjadi pertentangan antara Kerajaan Bangli dan Gianyar yang berujung pada peperangan. I Dewa Putu Sekar ditugaskan memimpin pasukan Kerajaan Bangli di wilayah barat, yang kini dikenal sebagai Desa Susut.

Dalam konteks ini, Susut berperan sebagai benteng pertahanan paling depan melawan serangan dari Gianyar. Perbatasan wilayah tersebut meliputi Selat Peken, Selat Tengah, dan Selat Kaja Kauh.

Meskipun pasukan Bangli berhasil memenangkan pertempuran, ketika Belanda mulai menguasai Bali, daerah-daerah rampasan perang dari Kerajaan Gianyar diserahkan kembali kepada Gianyar oleh Belanda. Namun, wilayah Susut dan sekitarnya tetap berada di bawah kendali I Dewa Putu Sekar.

Sejak saat itu, wilayah Susut diperintah secara turun temurun oleh keturunan I Dewa Putu Sekar hingga Indonesia merdeka.

Setelah kemerdekaan, pengaturan pemerintahan di wilayah Susut berubah dari sistem kerajaan menjadi wilayah pedesaan yang dikelola oleh seorang Kepala Desa atau Perbekel, yang bertanggung jawab atas administrasi dan kesejahteraan masyarakat desa hingga saat ini.

Perbekel Desa Susut saat ini dipegang AA Ketut Anggradiguna. ***

Editor : Y. Raharyo
#kerajaan bangli #puri nyalian #bangli #sejarah #kerajaan gianyar #Desa Susut