BALIEXPRESS.ID - Desa Megati, yang kini menjadi ibu kota Kecamatan Selemadeg Timur di Kabupaten Tabanan, Bali, memiliki sejarah yang penuh dengan mitos dan cerita turun-temurun. Desa yang berada di jalur Denpasar-Gilimanuk, ini terkenal dengan hasil pertanian, salah satunya adalah alpukat.
Sejauh ini belum ditemukan bukti tertulis yang jelas mengenai asal-usul Desa Megati, berbagai cerita dari para tetua desa memberikan gambaran mengenai bagaimana Desa Megati terbentuk dan berkembang.
Dilansir dari web desa, nama "Megati" diyakini berasal dari kata "Pagat" atau "Pegat," yang berarti "putus," dan diubah menjadi "Megati," yang secara etimologi berarti "memutuskan." Nama ini mungkin terkait dengan peran leluhur desa dalam membuka hutan dan menjadikan tempat itu sebagai wilayah pemukiman dan pertanian.
Menurut cerita, para leluhur Desa Megati dahulu membuka hutan dengan melakukan payogan (meditasi) yang khusyuk, sehingga tempat tersebut dianggap memiliki kekuatan spiritual tersendiri.
Dalam proses ini, seorang tokoh suci yang memiliki banyak pengikut diyakini tinggal di wilayah tersebut dan memberikan petunjuk penting kepada para pengikutnya.
Salah satu cerita yang menarik adalah tentang bagaimana para pengikut tokoh suci tersebut diberkati dengan bahan makanan berupa biji-bijian setelah memohon anugerah di Pura Dalem.
Biji-bijian ini dikenal sebagai "jijih," dan tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama "Jelijih." Saat ini, wilayah tersebut masuk dalam banjar Jelijih. Yakni Banjar Jelijih Tegeh, Jelijih Lebah, dan Jelijih Pondok. Jelijih juga merupakan desa adat sendiri.
Para pengikut tokoh suci tersebut kemudian mulai membuka lahan pertanian dan menciptakan sistem irigasi yang mengandalkan air dari hulu, yang kemudian dikenal sebagai "temuku aya." Hingga kini, tempat ini dianggap suci oleh penduduk Desa Megati.
Seiring berjalannya waktu, Desa Megati berkembang pesat dengan penduduk yang semakin banyak.
Para pendatang baru yang mengikuti jejak pendahulu mereka, membangun sawah dan ladang yang semakin meluas ke hilir. Etika yang mereka pegang erat membuat mereka enggan membangun pemukiman di hulu, sehingga lahan pertanian mereka terus berkembang ke arah hilir.
Pada masa berikutnya, seorang tokoh suci yang dikenal sebagai Mpu Magati-Magati, yang dipercaya sebagai penerus dari leluhur sebelumnya, juga meninggalkan jejak spiritual di Desa Megati.
Konsep pelinggih (tempat suci) di desa ini, termasuk Pelinggih Gedong Jempeng atau Pelinggih Sri Shadana, diduga berasal dari ajaran Mpu Magati-Magati, yang juga dikenal sebagai Mpu Sri Shadana. Cerita ini diabadikan dalam lontar-lontar kuno seperti Lontar Anda Tatwa dan Siwa Buwana Tatwa.
Meskipun banyak kisah yang bersifat mitos, Desa Megati kini telah tumbuh menjadi pusat pemerintahan dan kehidupan masyarakat di Kecamatan Selemadeg Timur.
Perkembangan desa ini tidak lepas dari peran leluhur yang mewariskan nilai-nilai luhur yang terus dijaga oleh penduduk setempat.
Dalam konteks pemerintahan, Desa Megati mulai terbentuk sejak tahun 1950-an, meskipun rincian lebih lanjut mengenai struktur pemerintahan desa sejak masa awal terbentuknya masih belum sepenuhnya terungkap.
Namun, beberapa sumber lain, seperti website Desa Susut, disebutkan bahwa Jelijih di Desa Megati ini sangat erat kaitannya dengan Desa Susut.
Diceritakan bahwa sekitar Abad 16, wilayah Bangli diperintah oleh seorang raja kesatria keturunan Tirta Harum dari Taman Bali, yang merupakan salah satu putra dari Puri Nyalian. Raja Puri Nyalian ini memiliki tujuh putra, di mana putra bungsunya adalah I Dewa Gede Korian.
I Dewa Gede Korian kemudian dinobatkan di Puri Tusan dan memiliki dua putra, yaitu I Dewa Gede Sekar dan I Dewa Gede Siangan. I Dewa Gede Sekar inilah yang menjadi cikal bakal raja yang memerintah di Puri Susut.
Namun, I Dewa Gede Sekar membuat suatu kesalahan di Puri Tusa (Klungkung) yang menyebabkan ia diasingkan ke Pulau Nusa Penida. Dalam pengasingan tersebut, ia membawa putranya, I Dewa Putu Sekar.
Setelah beberapa waktu, I Dewa Putu Sekar, yang telah memiliki dua putra, kembali ke Bali dan menetap di Jelijih, Tabanan. Kedua putranya, I Dewa Gede Dauh dan I Dewa Gede Dangin, tetap tinggal di Jelijih, sementara I Dewa Putu Sekar melanjutkan perjalanan ke Puri Bangli untuk mengabdi kepada Raja Bangli.
Dalam Babad Bangli Nyalian, disebutkan pula kisah I Dea Putu Sekar dan kedua anaknya tersebut. Setelah kembali dari pembuangan ke Nusa Penida, I Dewa Putu Sekar menjadi kepercayaan raja Bangli (I Dewa Gede Tangkeban) dan ditempatkan di Susut.
"Putra-putra yang di Nusa Penida I Dewa Gde Dauh dan I Dewa Gde Dangin kemudian menjadi kepercayaan Raja Tabanan ditempatkan di Desa Jelijih," demikian dalam babad.
I Dewa Gde dauh dan I Dewa Gde Dangin kemudian mempunyai keturunan di Jelijih. Namun, I Dewa Gde Dangin gugur dalam dalam perang Tabanan melawan Badung dan Mengwi. Saat itu, Kerajaan Tabanan kalah. Putra-putra I Dewa Gde Dangin pindah ke Jembrana.
"I Dewa Gde Dauh tetap di Jelijih bersama anak-anaknya," kata babad tersebut. ***
Editor : Y. Raharyo