Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal-Usul Desa Menyali: Dahulu Bernama Pahit Hati, Dikenal dengan Kerajinan Bokor

I Putu Mardika • Selasa, 3 September 2024 | 03:20 WIB

Pintu masuk Desa Menyali Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng
Pintu masuk Desa Menyali Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Desa Menyali berada di Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, sekitar 14 km timur laut dari Singaraja. Desa yang dikenal dengan kerajinan bokornya ini memiliki Sejarah panjang yang menarik diketahui.

Dilansir dalam website Desa Menyali, terdapat beberapa versi mengenai sejarah berdirinya Desa Menyali. Salah satu versi yang disampaikan oleh I Ketut Suamba, seorang tokoh masyarakat setempat, menyebutkan bahwa Desa Menyali awalnya dikenal dengan nama "Pahit Hati."

Nama ini terkait dengan kata "Nyali" atau "Empedu," organ dalam manusia yang memiliki rasa pahit dan berada dekat dengan hati. Sebelum dikenal dengan nama Pahit Hati, desa ini disebut sebagai "Basang Alas."

Berdasarkan catatan sejarah, saat masih bernama Pahit Hati, Desa Menyali diperintah oleh Pasek Sakti Batu Lempang dan mencakup wilayah-wilayah yang kini menjadi Desa Jagaraga, Sangsit, dan Bungkulan.

Konon, nama desa ini berubah dari Pahit Hati menjadi Menyali sekitar tahun 1920-an, mungkin antara 1924 hingga 1934, yang diperkuat dengan penemuan prasasti berupa bendera Saraswati dengan tulisan "Kapaica ring sang wikan makardi Tabuh saraswat-Menyali."

Berdasarkan berbagai catatan sejarah, Desa Menyali merupakan desa tertua di Kecamatan Sawan, mendahului desa-desa seperti Jagaraga, Bungkulan, dan Sangsit.

Versi lain dari sejarah Desa Menyali menyebutkan bahwa desa ini dulunya bernama "Ume Nyale." Nama ini muncul karena letak desa yang berada di posisi "nyalah" (tanggung) di antara desa-desa sekitarnya.

Karena posisinya yang demikian, wilayah Menyali yang dulunya merupakan hamparan sawah atau tegalan dinamai Ume Nyalah, yang kemudian dikenal sebagai Umanyali atau Menyali.

Secara topografi, Desa Menyali memiliki luas sekitar 4,27 km persegi. Mayoritas penduduk desa ini (sekitar 36 persen dari penduduk produktif) bekerja sebagai petani, memanfaatkan lahan basah dan subur yang cocok untuk persawahan.

Sekitar 21 persen dari penduduk terlibat dalam kerajinan, seperti pembuatan alat musik tradisional (rindik, tingkelik, gerantang, kebyur, dan lainnya), batu bata, pengobatan alternatif dengan sengat lebah, serta kerajinan bokor yang terkenal.

Kerajinan Bokor di Desa Menyali yang menjadi ikon penghasilan desa
Kerajinan Bokor di Desa Menyali yang menjadi ikon penghasilan desa

Selain itu, sekitar 15 persen penduduknya berkebun dan beternak, dengan tanaman perkebunan yang meliputi kopi, cokelat, kelapa, rambutan, dan durian Bangkok, serta ternak sapi, ayam, dan babi.

Desa Menyali terdiri dari dua banjar yang dipimpin oleh seorang perbekel (kepala desa). Banjar tersebut adalah Banjar Dinas Kawanan dan Banjar Dinas Kanginan.

Banjar Dinas Kawanan terdiri dari empat tempekan, yaitu Tempekan Campurasa, Tempekan Pancayasa, Tempekan Eka Sila, dan Tempekan Kajanan, yang juga disebut sebagai "tinggi kelod" dan "tinggi sampingan."

Sementara itu, Banjar Kanginan terdiri dari lima tempekan: Tempekan Dharma Karya, Tempekan Tamansari, Tempekan Kubuanyar, Tempekan Paninjoan, dan Tempekan Tri Tunggal. Setiap banjar dipimpin oleh Kelian Banjar, sedangkan adat istiadat diatur oleh Kelian adat setempat. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Bokor #pahit #sawan #menyali #hati #sejarah #buleleng