Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berasal dari Kata Rnam yang Berarti Raharja, Desa Renon Dibangun Raja Sri Kesari Warmadewa: Begini Sejarahnya Menurut Prasasti Blanjong

Nyoman Suarna • Rabu, 4 September 2024 | 02:15 WIB
BARIS CINA: Tari Baris Cina merupakan saksi bisu keberadaan Desa Renon yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.
BARIS CINA: Tari Baris Cina merupakan saksi bisu keberadaan Desa Renon yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

BALIEXPRESS.ID – Desa Renon, sebuah wilayah di Denpasar, Bali, memiliki sejarah yang panjang dan kaya, meskipun asal-usul pasti berdirinya belum sepenuhnya diketahui.

Berdasarkan Prasasti Blanjong, daerah ini sudah ada sejak tahun 913 Masehi atau 835 Caka, di masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa.

Terbentuknya Desa Renon bermula dari peristiwa Perang Blanjong yang menyebabkan banyak warga di sekitar Blanjong mengungsi ke berbagai daerah, termasuk Sukawati, Kesiman, dan kawasan yang kini dikenal sebagai Renon.

Menurut I Made Sutamai, seorang tokoh masyarakat Renon, ketika para pengungsi tiba di daerah ini, mereka harus mengubah kebiasaan dari yang awalnya sebagai nelayan menjadi petani.

“Ketika sampai di suatu daerah (Renon sekarang) seluruh masyarakat harus mengubah kebiasaan dari awalnya menjadi nelayan kini harus menjadi petani,” ujarnya.

Setelah beralih menjadi petani, kehidupan masyarakat perlahan-lahan menjadi makmur dan sejahtera, suatu kondisi yang kemudian dikenal dengan istilah "Rnam," yang berarti kebahagiaan dan kemakmuran.

Nama "Rnam" inilah yang berkembang menjadi "Renon" seiring berjalannya waktu. Hingga saat ini, istilah "Rnam" masih digunakan dalam maskot Desa Renon dengan slogan 'Rnam Raharja'.

Prasasti Blanjong juga mencatat beberapa artefak penting yang ditemukan setelah perang, seperti Gong Beri, yang terkait erat dengan gambelan perang zaman dahulu, dan tiga buah terompet perang yang sangat kuno terbuat dari batu karang.

Terompet ini masih dibunyikan dalam pertunjukan Tari Baris Cina dan disimpan di Pura Blanjong.

Setiap kali Tari Baris Cina dipentaskan, terompet ini diambil dari pura untuk digunakan.

Pada tahun 1400, seorang tokoh penting dalam sejarah Bali, Dang Hyang Niratha, melakukan perjalanan keliling Bali dan sempat singgah di Desa Renon.

Sebelum meninggalkan desa ini, beliau menancapkan tongkatnya yang kemudian tumbuh menjadi pohon Sukun.

Hingga kini, pohon Sukun dan buahnya menjadi bagian dari maskot Desa Renon, sebagai penghormatan atas kunjungan Dang Hyang Niratha.

Desa Renon juga terkenal dengan kesenian sakralnya, Tari Baris Cina, yang merupakan simbol kesiapsiagaan prajurit dalam perang.

Tari ini memiliki keunikan tersendiri, di mana kostumnya sebagian besar berasal dari luar negeri, seperti topi dari Australia dan pedang dari Cina.

Meskipun Pura Blanjong tempat Puri Baris Cina berada terletak di Desa Sanur, secara adat, pura ini merupakan sesuhunan Desa Adat Renon.

Di Pura Dalem Renon juga terdapat palinggih Baris Cina, yang menegaskan bahwa tari ini adalah sesuhunan Desa Adat Renon.

 Baris Cina selalu dipentaskan saat piodalan di Pura Khayangan Tiga Desa Adat Renon.

Tarian ini juga sering dibawakan di pura-pura yang menandai perjalanan Dang Hyang Niratha, seperti Pura Sakenan, Pura Peti Tenget, dan Pura Rambut Siwi.

Keunikan lain dari Tari Baris Cina adalah proses belajar yang tidak memakan waktu lama.

Para penari hanya perlu beberapa kali latihan untuk menyesuaikan gerakan, yang dipercaya sebagai anugerah dari sesuhunan Baris Cina itu sendiri.

Dengan warisan budaya yang kaya dan sejarah panjang, Desa Renon terus berupaya menjaga tradisi dan nilai-nilai leluhur, sambil tetap beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Editor : Nyoman Suarna
#Prasasti Blanjong #Sri Kesari Warmadewa #renon #sejarah #desa #raja #rnam