BALIEXPRESS.ID – Dua warga Buleleng, Kadek Agus Ariawan alias Agus Moncot dari Kelurahan Liligundi, Buleleng dan Nengah Sunaria dari Desa Jinengdalem, Buleleng, diduga menjadi korban perdagangan manusia. Keduanya kini terjebak di Myanmar.
Keduanya dijanjikan bekerja di Thailand, namun namun berakhir di Myanmar.
Kabar ini disampaikan oleh perwakilan kuasa hukum keluarga, Putu Sugiarta, yang menjelaskan bahwa Kadek Agus awalnya dijanjikan bekerja sebagai pelayan restoran di Thailand.
Kadek Agus berangkat pada 5 Agustus 2024 menuju Jakarta dan transit di Malaysia.
Ia sempat menghubungi keluarganya pada 6 Agustus 2024, namun pada 9 Agustus 2024, Kadek Agus mengirim pesan melalui WhatsApp sudah berada di Thailand, namun mengaku ponselnya disita. Sejak saat itu, Kadek Agus tidak bisa lagi dihubungi oleh keluarga.
Kecurigaan semakin menguat setelah beredar video yang viral menunjukkan warga negara Indonesia (WNI) yang ditipu bekerja di Thailand namun dibawa ke Myanmar.
Dalam video tersebut, para WNI mengaku disekap dan dipaksa bekerja tanpa gaji, serta mengalami penyiksaan jika tidak mencapai target kerja.
Keluarga Kadek Agus dan Nengah Sunaria, menduga kuat keduanya termasuk di antara korban yang berada di Myanmar.
Dugaan ini muncul setelah keluarga menerima video dan beberapa foto, termasuk foto KTP keduanya yang dikirim oleh salah seorang korban.
Plt. Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Kawasan Asia Afrika, Firman menyatakan, pihaknya mengaku telah berkonsultasi dengan Kementerian Luar Negeri.
Komunikasi dengan KBRI Myanmar disebutkan telah melakukan upaya hukum. Proses pemulangannya pun telah diupayakan.
“Kami kurang tahu jumlah pasti korban yang ada disana. Informasi detail tentang mereka juga kami masih minim. Dan kami juga tidak tahu pekerjaan mereka apa. Untuk komunikasi dengan korban baru dilakukan lewat keluarga, dan sepertinya mereka adalah tenaga kerja yang tidak tercatat,” ujarnya, Kamis (5/9) saat melakukan pertemuan di Dinas Ketenagakerjaan Buleleng.
Di sisi lain, Penjabat (Pj) Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana, mengonfirmasi bahwa kedua warga tersebut diduga berangkat melalui jalur ilegal. Ia telah memerintahkan Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng untuk menyelidiki pihak-pihak yang terlibat dalam pengiriman tenaga kerja ilegal ini.
“Harus dicari untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas pengiriman ilegal ini, karena kemungkinan besar masih ada jaringan lain yang belum terungkap,” tegas Lihadnyana.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah desa dan keluarga dalam memberikan pemahaman kepada warga tentang risiko perdagangan orang.
“Pencegahan harus dimulai dari desa. Orang tua harus paham betul risiko yang dihadapi jika anak-anak mereka bekerja di luar negeri secara ilegal. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk memberikan pemahaman yang benar,” pungkasnya.
Saat ini, pihak keluarga korban berharap ada bantuan dari pemerintah pusat untuk memulangkan kedua korban, yang diduga terjebak dalam jaringan tenaga kerja ilegal di Myanmar. ***
Editor : Y. Raharyo