BALIEXPRESS.ID-Usai ramai kena hujat karena konten yang dinilai melecehkan agama Hindu, kreator asal Bali Rama Adiwiguna akhirnya minta maaf.
Melalui akun facebook pribadinya, Rama Adiwiguna membuat video permohonan maaf dan juga klarifikasi.
Pria yang akrab disapa Pak Rama itu pun mengaku tidak ada niatan melecehkan dan menodai agamanya sendiri.
“Sedikit pun saya tidak ada niat melecehkan atau menodai agama saya, dewa saya, itu hanya konten karena waktu itu saya memang benar-benar terpuruk sekali,” jelasnya pada Jumat (06/09/2024).
Pak Rama mengaku aksinya membuat konten spontan saja dan memang memohon kepada Dewa Ganesha tanpa ada maksud apa-apa.
“Saya pak Rama mohon maaf kalau ada kesalahpahaman atau salah kata yang saya buat. Dan konten yang saya buat hanya sekedar hiburan semeton,” jelasnya.
Baca Juga: Lahangan Sweet: Destinasi Wisata di Karangasem Bali dengan Pemandangan Eksotis Gunung Agung
Sebelumnya, Kreator konten asal Bali Rama Adiwiguna atau biasa dipanggil Pak Rama ramai dihujat warganet di media sosial.
Pasalnya, salah satu kontennya dinilai melecehkan agama Hindu.
Dalam sebuah video yang diunggah melalui Facebook Reels @Rama Adiwiguna17, Pak Rama terlihat sedang berdoa di depan sebuah pelinggih Ganesha.
Namun doa yang tidak biasa disampaikan oleh Pak Rama sehingga memancing emosi warganet.
Dalam doanya, Pak Rama meminta modal berupa uang kepada Palinggih Ganesha untuk dipakai berjudi tajen.
Baca Juga: Catat Ya, De Gadjah Janjikan Sekolah Serupa Bali Mandara di Karangasem dan Jembrana
“Dewa Ganesha tyang jagi metajen ke Pengotan icen tyang kerahayuan apang menang metajen, mangkin puyung niki icen tyang modal,” ujar Pan Rama dalam Bahasa Bali dikutip pada Jumat (06/09/2024).
Setelah mengucapkan kata-kata itu, seseorang pun melempar segepok uang dari belakang palinggih Ganesha.
Seolah-olah uang tersebut datang dari palinggih Ganesha.
Setelah mendapatkan segepok uang, Pan Rama pun mengucapkan terimakasih dan pergi ke Tajen.
Sontak saja, hal tersebut memancing beragam komentar negative warganet.
Warganet menilai konten tersebut sudah kebablasan sehingga dinilai melecehkan agamanya sendiri.
Editor : Wiwin Meliana