Hal ini terbukti dari hasil perkebunan seperti cengkeh dan kopi, yang menjadi komoditas unggulan bagi petani setempat.
Kondisi ini juga membuat Desa Sekumpul dikenal sebagai destinasi wisata dengan keindahan panorama alamnya, seperti Perkebunan dan panorama air terjun Sekumpul.
Secara tertulis, tidak ada catatan resmi mengenai sejarah Desa Sekumpul. Namun, sejarahnya dikenal melalui cerita yang diwariskan secara lisan oleh para tetua desa.
Dilansir dari Website Desa Sekumpul, berdasarkan kisah yang diturunkan dari generasi ke generasi, Desa Sekumpul pertama kali dihuni oleh penduduk dari Gunung Sari (Desa Lemukih) yang mencari lahan subur untuk bercocok tanam dan menggembala sapi.
Mereka menemukan lokasi yang cocok, dan setelah menyaksikan hasil panen yang melimpah, mereka membangun pondok-pondok untuk beristirahat. Lama kelamaan, karena merasa nyaman, mereka memutuskan untuk tinggal secara permanen.
Seiring waktu, semakin banyak penduduk dari desa-desa sekitar seperti Sudaji, Bebetin, dan Karangasem yang turut menetap di sana, membuat wilayah ini berkembang menjadi pemukiman tetap.
Karena bertambahnya penduduk, diadakan pertemuan untuk memberi nama desa tersebut. Setelah banyak pertimbangan, nama "Sari Kumpul" dipilih, di mana "Sari" berarti hasil pertanian, dan "Kumpul" mencerminkan keberlimpahan yang terus terjaga. Nama ini kemudian berubah menjadi Sekumpul.
Pada awalnya, Desa Sekumpul merupakan bagian dari Desa Gunung Bongga (sekarang Desa Galungan), namun pada tahun 1912, Desa Sekumpul resmi berdiri sebagai desa yang mandiri dengan pemerintahan sendiri.
Secara adat, Desa Lemukih, Desa Galungan, dan Desa Sekumpul masih dianggap sebagai satu kesatuan. Hal ini terlihat dari tradisi saat Desa Lemukih mengadakan Upacara Piodalan di Pura Desa.
Tujuh hari sebelum acara puncak, Prajuru Desa Lemukih mengirimkan undangan (uleman) kepada Prajuru Desa Galungan dan Desa Sekumpul.
Pada hari puncak upacara, warga dari Desa Galungan dan Desa Sekumpul secara beriringan datang ke Desa Lemukih, bahkan bermalam selama dua malam di Pura Desa Lemukih untuk mengikuti rangkaian upacara, membawa seluruh perlengkapan upacara yang diperlukan.
Menurut cerita para sesepuh, ketiga desa ini memiliki hubungan kekerabatan, di mana leluhur Desa Lemukih merupakan yang tertua, diikuti oleh leluhur Desa Galungan, dan kemudian leluhur Desa Sekumpul.
Sebelum upacara di Desa Lemukih selesai, Desa Galungan dan Sekumpul tidak diperbolehkan mengadakan upacara pujawali di pura desa mereka masing-masing. (dik)