Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Polemik Proyek Tebing Pura Uluwatu : Pengerukan Tebing Picu Pro Kontra Publik Bali

I Putu Suyatra • Minggu, 8 September 2024 | 22:43 WIB
RENCANA: Desain rencana jalan inspeksi yang melingkar di bawah areal tebing Pura Uluwatu. (Dinas PUPR Badung)
RENCANA: Desain rencana jalan inspeksi yang melingkar di bawah areal tebing Pura Uluwatu. (Dinas PUPR Badung)

BALIEXPRESS.ID - Proyek penataan tebing di kawasan Pura Uluwatu, Pecatu, Kuta Selatan, yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung, menjadi sorotan publik Bali.

Proyek pengerukan tebing ini memicu pro dan kontra di media sosial, terutama setelah muncul laporan bahwa material hasil pengerukan jatuh ke laut.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan dampak proyek tersebut terhadap kealamian kawasan suci ini.

Tebing yang berada di bawah Pura Uluwatu menjadi fokus proyek, namun pengerukan di area samping tebing juga dilakukan, yang menimbulkan tanda tanya besar di kalangan warga.

Apakah proyek ini benar-benar diperlukan atau justru berisiko merusak kawasan sakral tersebut?

Kebutuhan Teknis dan Keagamaan Dibalik Proyek

Kepala Dinas PUPR Badung, IB Surya Suamba, menjelaskan bahwa proyek ini diawali dengan pembangunan jalan akses menuju pantai di bawah tebing.

Jalan inspeksi tersebut diperlukan untuk pemeliharaan tebing dan perlindungan pantai dari abrasi.

Menurut Surya, tanpa jalan akses, penanganan keretakan tebing akan sulit dilakukan karena kondisi cekung yang terbentuk akibat abrasi laut.

"Satu-satunya cara untuk mengamankan tebing adalah dengan membuat akses jalan dan struktur pemecah gelombang," ungkapnya.

"Proyek ini tidak bisa dilakukan melalui jalur laut atau udara karena biayanya akan jauh lebih besar dari anggaran Rp76 miliar yang telah ditetapkan," terang Surya pada Sabtu (7/9).

Pro dan Kontra Pengerukan Tebing

Meski proyek ini sudah melalui kajian akademik dari Universitas Udayana dan mendapatkan izin dari pengempon pura serta desa adat, pengerukan tebing tetap menuai kritik.

Salah satu insiden yang memicu protes adalah kelalaian operator alat berat yang membuang material pengerukan ke laut, yang dianggap tidak sesuai dengan SOP.

Menanggapi hal ini, Surya Suamba menegaskan bahwa pihaknya telah memberikan peringatan keras kepada operator dan penyedia proyek.

"Kami sudah peringatkan dengan tegas agar tidak ada lagi material yang jatuh ke laut. Jika ditemukan pelanggaran lagi, kami akan langsung menghentikan petugas terkait," tegasnya.

Fungsi Religius dan Inspeksi Tebing

Surya juga menekankan bahwa jalan inspeksi yang sedang dibangun ini tidak akan dibuka untuk umum maupun aktivitas komersial.

Akses jalan tersebut hanya diperuntukkan bagi kegiatan keagamaan, khususnya upacara Melasti ke Pura Beji yang ada di bawah tebing, serta untuk keperluan inspeksi dan pemeliharaan tebing.

Akses jalan nantinya akan dilengkapi dengan gerbang yang hanya dapat dibuka oleh pengempon pura.

Jika ada pihak yang ingin menggunakan lokasi ini untuk keperluan seperti prewedding atau foto shoot, harus mendapatkan persetujuan dari pengempon pura dan rekomendasi dari Pemkab Badung.

"Kami akan selalu meminta izin kepada pengempon pura jika perlu melakukan inspeksi di area ini," pungkas Surya.

Proyek yang masih berada di tahap awal ini terus diawasi agar tidak menimbulkan dampak negatif lebih lanjut terhadap lingkungan dan kawasan suci Pura Uluwatu. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#pura uluwatu #bali #tebing #Penataan #badung