Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gambuh Pedungan Muncul Tahun 1836, Ada Kaitannya dengan Raja Denpasar: Begini Sejarahnya

Nyoman Suarna • Kamis, 12 September 2024 | 00:55 WIB
GAMBUH: Merupakan sebuah tarian klasik masyarakat Bali yang hingga kini masih lestari di Desa Adat Pedungan, Denpasar.
GAMBUH: Merupakan sebuah tarian klasik masyarakat Bali yang hingga kini masih lestari di Desa Adat Pedungan, Denpasar.

BALIEXPRESS.ID - Gambuh merupakan salah satu tarian klasik masyarakat Bali yang hingga kini masih hidup dan berkembang.

Tarian ini ada di berbagai desa di Bali, salah satunya di Desa Adat Pedungan, Denpasar, Bali.

Tarian gambuh  diperkirakan telah ada sejak jaman pemerintahan Raja Waturenggong di Gelgel, Klungkung.

Dikutif dari Warisanbudaya. Kemendikbud.go.id, mula-mula gambuh lahir sebagai pertunjukkan istana yang muncul saat kraton penguasa baru di Samprangan selesai.

Hal tersebut terungkap dalam teks Babad Dalem yang berbunyi, “Puput kadaton ring Samprangan, kadatwanira Dalem Wawu Rauh, wangun Gambuh para aryeng Majapahit”.

Artinya, setelah usai pembangunan kraton di Samprangan (Gianyar), yang merupakan penguasa baru, para arya Majapahit membentuk sebuah gambuh, tahunnya sunia buta segara bumi (Caka 1350 atau 1428 Masehi).

Dalam perkembangannya, gambuh kemudian hadir sebagai kesenian upacara.

Maria Cristina Formaggia, dalam bukunya berjudul “Gambuh, Drama Tari Bali”  menyatakan, kebanyakan istana abad XIX memiliki bangsal khusus yang disebut Bale Pagambuhan.

Bangsal-bangsal ini menempatkan gambuh pada pusat kehidupan umum istana, di mana rakyat bisa melakukan kewajiban ritual dan menyiapkan diri sebagai prajurit untuk raja mereka, dan tempat kedudukan raja mengatur kerajaan (2000:21).

Julius Jacobs, dalam laporannya bertajuk Eenigen Tojd onder de Balier, eene Reisbechrijving Batavia (1883) menyatakan, hingga akhir abad XIX gambuh masih merupakan tontonan penting di Bali yang dimiliki hampir semua istana pada jaman itu.

Adanya bangunan Bale Pagambuhan di setiap kraton atau puri menjadi bukti bahwa seni pertunjukkan ini mendapat tempat begitu terhormat di kalangan istana-istana di Bali.

Baru setelah istana-istana runtuh, kerajaan-kerajaan hancur, gambuh kemudian berkembang di masyarakat, tersebar ke desa-desa seantero Bali, dan bertahan hidup hingga kini.

Namun tak ada catatan pasti, sejak kapan gambuh di Pedungan mulai ada.

Menurut perkiraan mendiang I Gede Geruh, maestro penari gambuh di Pedungan, gambuh di Pedungan sudah ada sejak tahun 1836.

Informasi ini didapatkan dari sang kakek sendiri, bahwa dulu kakek dan kawan-kawannya pernah menjadi penari gambuh Puri Pamecutan.

Bersamaan dengan itu berdiri pula sekaa gambuh di Banjar Sesetan. Sebagian penari berasal dari Sekaa Gambuh Puri Denpasar.

Buku berjudul Deskripsi Tari Gambuh di Kabupaten Badung (1991), bahwa bertahannya gambuh di Pedungan sampai kini tak luput dari peran puri.

Pada saat perang Puputan Badung, seorang putra Raja Denpasar dibuang ke Lombok oleh Belanda.

Setelah dewasa ia dipulangkan, lalu diangkat menjadi Regen Denpasar.

Putra raja ini menaruh perhatian besar terhadap gambuh di Pedungan, bahkan salah satu istrinya berasal dari Pedungan.

Maka putra raja ini banyak memberi dorongan serta fasilitas, di antaranya menyumbang balai tempat latihan.

Sejak terjalin hubungan baik dengan gambuh Pedungan dengan Puri Satria, sejak itu pula setiap ada kegiatan upacara di Puri Satria, gambuh Pedungan pasti diikutkan ngayah.

Lalu raja mengukuhkan desa itu sebagai pusat gambuh, yang saban hari senantiasa siap menari ke puri, mengabdi pada raja.

Dari sanalah diperkirakan seni tari dengan musik khas itu terus mengalir hingga saat ini.

Bila berpatokan dari catatan angka tahun yang diberikan Gede Geruh, bahwa gambuh di Pedungan sudah ada sejak tahun 1836.

Terlepas dari penuturan serta perkiraan para tokoh di Desa Pedungan, Jro Mangku Wayan Swandi, 59 Th, pamangku ageng Pura Puseh, Desa Pedungan memberi pandangan tersendiri.

Menurutnya, perkembangan gambuh di Pedungan berasal-usul dari perjalanan leluhurnya dari Desa Tegalalang, Gianyar yang kemudian menetap di Desa Pedungan.

Konon sebagaimana diceritakan sang kakek, kedatangan leluhur dari Tegalalang teriring serta "Batara Taksu" dari Pura Dalem Panca Pandawa Tegalalang.

Sang kakek, Jro Mangku Degeng adalah seorang pragina dan undagi serba bisa.

Orang-orang di Pedungan kerap mengagumi sang kakek sebagai "bungkak makocok". Artinya orang muda yang memiliki kemampuan dan pengetahuan di luar rata-rata orang biasa, termasuk pengetahuan yang bersifat rahasia.

Begitu menetap di Desa Pedungan, leluhur Mangku Swandi seijin Raja Badung ketika itu membangun sebuah pura, belakangan dikenal dengan nama Pura Puseh yang dulu disungsung keluarganya.

Sejak awal memang bernama Pura Puseh. Atas kesepakatan keluarga dan desa, Pura ini kemudian dijadikan Pura Puseh Desa Pedungan.

Mengenai cikal bakal gambuh di Pedungan, menurut cerita Mangku Swandi dirintis oleh sang kakek sendiri. Setelah Pura Puseh dibangun, guna meneguhkan keyakinan, sang kakek lalu menstanakan taksu berupa anugerah dari Pura Dalem Panca Pendawa itu di Pura Puseh Pedungan.

Menurut Jro Mangku Swandi, arca yang distanakan sebagai simbol Batara Taksu itu berbahan kayu, berwujud tokoh Panji.

Arca ini kemudian dimuliakan dengan sebutan Ratu Made.

Tahun 1967, di jaman Gubernur Soekarmen, Geruh dan Lemping berjasa besar mengantar gambuh Pedungan mencapai puncak kejayaan.

Geruh mengembalikan pamor gambuh yang pada jaman penjajahan Belanda maupun Jepang hampir pudar.

Namun Gambuh Pedungan tidak dipentaskan setiap hari karena sangat disakralkan.

Meski demikian, selalu ada perkecualian. Misalnya bila ada permintaan dari desa tetangga untuk masolah saat odalan di Pura tertentu, atau dimohon hadir (dipendak) sebagai pertunjukan wali (tarian upacara) dalam upacara-upacara khusus di desa-desa atau di pura-pura tertentu di seputar Denpasar.

Namun pementasan yang rutin digelar yaitu setiap odalan di Pura Puseh Pedungan, tepatnya saat hari suci Tumpek Wayang (setiap 6 bulan sekali).

Editor : Nyoman Suarna
#Raja denpasar #sejarah #gambuh #pedungan