BALIEXPRESS.ID- Tradisi Ngaro yang diselenggarakan oleh Warga Madura di Desa Sanur, merupakan salah satu tradisi yang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu secara turun temurun.
Tradisi Ngaro yang Masih dilakukan Oleh Warga Madura di Desa Sanur ini ternyata tidak ada kaitannya dengan pulau Madura di Provinsi Jawa Timur.
Namun sejarah dari dilakukannya tradisi ini, masih memiliki kaitan erat dengan perjalanan Mpu Baradah dan Hyang Yogi Swara dari Pulau Jawa ke Pulau Bali.
Seperti hasil wawancara Koran Bali Express pada tanggal 15 Oktober 2016 dengan salah seorang pengempon Pura Dalem Segara, Nyoman Sunarta, menjelaskan tradisi Ngaro adalah sebuah upacara yang dilaksanakan oleh Warga Madura di Desa Sanur sejak abad ke 10 silam dan dilaksanakan bertepatan pada hari Purnama Kapat (keempat) kalender Bali atau pada Bulan Purnama yang jatuh pada bulan Oktober setiap tahunnya.
"Jadi jika dilihat dari sejarahnya, tradisi Ngaro ini, tidak ada kaitannya dengan Pulau Madura di Provinsi Jawa Timur. Tapi tradisi Ngaro ini, bermakna sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih warga Madura kepada Leluhur kami kepada Dewa Baruna Sebagai penguasa Samudra yang sudah memberikan berkah sepanjang tahun," jelasnya.
Adapun sejarah dari tradisi Ngaro ini, dijelaskan Sunarta, berawal dari terbentuknya kawasan yang diberi nama Madura di sekitar Desa Sanur. Awal mula terbentuknya Banjar Madura ini, menurut Sunarta, tidak terlepas dari kisah perjalanan Mpu Baradah dan Hyang Yogi Swara ke Bali.
Baca Juga: Korupsi BUMDes Jehem Bangli, Eks Bendahara Dituntut 1 Tahun 9 Bulan Penjara
Seperti yang dikisahkan, ketika kerajaan Singasari runtuh, pada abad ke 10, kondisi kondisi keamanan dan wilayah di Kerajaan Singasari menjadi sangat kacau, sehingga Sang Hyang Yoga Swara yang merupakan seorang pendeta kerajaan bersama dengan Mpu Baradah memutuskan untuk berlayar ke wilayah Timur Pulau Jawa.
Setelah menyeberangi Pulau Jawa, akhirnya Mpu Baradah dan Sang Hyang Yoga Swara sampai di sisi utara Pulau Bali, di tempat berlabuhnya tersebut, di tempat pertama kali berlabuh tersebut, Sang Hyang Yogi Swara dan Mpu Beradah mendirikan tempat pemujaan yang bernama Pura Dalem Sari yang terletak di Bukit Gondol Singaraja.
"Setelah itu perjalanan pun dilanjutkan ke arah Timur dan Sang Hyang Yogi Swara ini sampai di Tulamben yang kemudian mendirikan Pura dengan nama Pura Manik Sakti di tulamben,” paparnya.
Selanjutnya, setelah tinggal di Tulamben dalam waktu yang lama, akhirnya Sang Hyang Yogi Swara dan Mpu Baradah melanjutkan perjalanan ke arah barat melalui samudera, hingga sampailah Sang Hyang Yogi Swara dan Mpu Baradah di Kawasan Sanur.
Baca Juga: Bali United Gagal Raih Poin Penuh Usai Tahan Imbang Arema FC 0-0 di BRI Liga 1 2024/2025
Sesampainya di Desa Sanur ini, Sang Hyang Yogi Swara melakukan semedi di tengah Segara Sanur, sedangkan Mpu Baradah melanjutkan perjalanan ke daratan dan mendirikan banyak pura di wilayah Sanur dan Kabupaten Badung, hingga akhirnya juga mendirikan sebuah pura yakni Pura Dalem Madura di Desa Cemagi Kabupaten Badung.
Setelah melakukan tapa semedi tersebut, akhirnya Sang Hyang Yogi Swara dan Mpu Baradah bertemu. Tempat pertemuan itulah yang disebut dengan Madura yang berasal dari dua kata yakni Madu yang artinya bertemu dan Ara yang artinya air, jadi Madura ini berarti pertemuan daratan dan air laut.
Sehingga rawa-rawa tempat pertemuan tersebut disebut sebagai wilayah Madura dan keturunan Hyang Yogi Swara ditempat tersebut disebut dengan Warga Madura, dan sampai sekarang tempat wilayah ini disebut dengan Banjar Madura,” ungkapnya.
Baca Juga: Jelang Galungan, Harga Babi di Peternak Tembus Rp 50 Ribu per Kg
Setelah memiliki wilayah dan memiliki keturunan ini, maka Hyang Yogi Swara memerintahkan kepada keturunannya untuk membuat suatu persembahan bagi Sang Hyang Baruna dan dihaturkan di tempat Sang Hyang Yogi Swara melakukan semedi ketika air laut surut, selanjutnya ritual menghaturkan persembahan tersebut disebut dengan nama Ngaro. (gek)
Editor : Wiwin Meliana