SINGARAJA, BALI EXPRESS – Airnya jernih dan dingin. Mengalir deras menimpa batu-batu kecil di bawahnya. Pancoran ini ada di depan Pura Beji Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Air-air itu mengalir melalui mulut pancoran. Udara panas akan terasa segar jika ditimpa dengan air dari pancoran ini.
Pancoran Desa Les ini konon adalah pemandian umum. Masyarakat desa Les selalu memanfaatkan tempat ini untuk membersihkan diri. Baik pria maupun wanita, anak-anak hingga lansia, seluruhnya mandi di pancoran ini. Ada empat pancoran di masing-masing bilik. Airnya berasal dari sumber air Toya Anakan yang ada di Desa Les.
“Bilik laki-laki dan perempuan punya pancoran sendiri. Dulu ada lima pancoran, sekarang ada empat,” ujar Tokoh Adat, Desa Les, Jro Nyoman Sungerdana, belum lama ini.
Kondisi pancoran pun terbilang baik. Airnya bersih dan debitnya besar. Rencananya, jumlah pancoran di pemandian itu akan ditambah alias dikembalikan ke jumlah semula, yakni 5 pancoran.
“Akan kami kembalikan lagi. Nanti juga posisi bilik juga kami tukar. Bilik perempuan ada di timur atau di hulu dan bilik laki-laki ada di sebelah barat, seperti posisi semula,” kata dia.
Selain sebagai pemandian umum, tempat tersebut juga sebagai lokasi pemandian kuda. Kuda-kuda milik juragan atau warga, dimandikan tepat di kolam yang ada di depan area pemandian. Kuda-kuda itu diikat pada sebuah pohon dan dibiarkan bergumul pada kubangan. Ada pula pemilik yang memandikan kudanya secara langsung.
“Kudanya mandi di depan, pemiliknya mandi di pemandian. Saat pulang, pemiliknya bersih, kudanya juga ikut bersih,” ujarnya.
Tidak hanya warga Desa Les, warga dari desa tetangga pun datang untuk mandi di pemandian itu. Terutama warga dari daerah Kintamani. Mereka datang dengan berjalan kaki atau menaiki kuda.
“Dulu kan belum ada kendaraan seperti sekarang. Masih pakai kuda dan jalan kaki. Mereka semua mandi disini. Sambil ke pasar, mereka mampir untuk mandi,” ujarnya.
Dulu, pancoran yang ada di pemandian Desa Les berbentuk batu-batu bertumpuk. Seiring waktu, batu-batu tersebut mulai runtuh. Pemerintah desa pun mengambil langkah merenovasi pancoran dengan membuat plesteran semen. Begitu juga dengan pemandian kuda yang kini berubah menjadi taman air mancur.
“Rencananya, kami dari pemerintahan desa akan mengembalikan kondisi pancoran seperti semula. Berdinding batu-batu dan jumlahnya lima dengan posisi bilik yang semestinya,” ujar Kepala Desa Les, Gede Adi Wistara.
Keberadaan pancoran di Desa Les itu menunjukkan peradaban manusia serta jejak sejarah di wilayah tersebut. Sayangnya, tidak ada yang mengetahui tahun pasti keberadaan pancoran itu. Entah ada sejak zaman Kerajaan ataukah zaman penjajahan. Atau ada sejak setelah kemerdekaan.
“Saya masih kecil ini sudah ada. Kami tidak tahu tahun berapa. Yang pasti sudah lawas sekali,” imbuh Adi Wistara.
Saat ini, pemandian itu masih dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Akan tetapi intensitasnya tidak seperti dahulu. Mereka yang mandi di pemandian umum itu dapat dihitung jari.
“Karena sekarang sudah modern, jadi sudah punya pikiran malu untuk mandi di pemandian umum. Masih ada kok yang datang untuk mandi tapi tidak banyak,” ungkapnya.
Baca Juga: Sambut Sandiaga Uno Sejak Pagi, Anak SD di Desa Les Bali Sampai Begadang Menunggu Hari Esok
Tidak hanya sebagai pemandian umum, pancoran itu juga dimanfaatkan warga bila memiliki upacara yadnya. Pancoran pertama pada setiap bilik digunakan untuk mencuci beras bila terdapat upacara Metuun. Begitu juga dengan upacara tiga bulanan. Bayi dimandikan di pancoran pertama sebagai simbol penyucian diri, selanjutnya dapat mandi di pancoran berikutnya.
“Disini tidak ada ngaben. Adanya upacara Metuun. Mengawali upacara itu, ada ritual ngingsah baas atau mencuci beras. Cucinya di pancoran pertama. Kalau untuk tiga bulanan, mandinya di pancoran pertama dulu, selanjutnya bebas mau mandi di pancoran berapa saja,” tutur Adi Wistara. ***
Editor : Dian Suryantini