SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di tengah kesibukan pembangunan jembatan di pinggir sungai Saba, Komang Arya, terlihat setia menemani ayahnya, Made Suardika. Ia adalah siswa kelas V di SDN 5 Ringdikit, Desa Ringdikit, Kecamatan Seririt, Buleleng. Sembari bermain dengan beberapa temannya, Arya sesekali melirik ayahnya. Ketika kedua mata mereka bertemu, keduanya saling melempar senyuman. Jembatan yang dibangun di wilayah Sungai Saba itu sebagai alternatif jalan untuk menuju sekolah Arya dan teman-temannya. Ayahnya, Made Suardika bekerja dengan semangat. Ia tidak sendiri. Ada beberapa orang tua lainnya serta anggota TNI/Polri yang turut bergotong royong, Jumat (27/9).
Ya, anggota TNI/Polri itu diterjunkan khusus oleh Kodim 1609/ Buleleng serta Polres Buleleng dalam rangka HUT TNI ke-79. Seluruhnya bekerja bahu-membahu. Proses pembuatan jembatan ini merupakan upaya warga untuk memudahkan akses pendidikan bagi anak-anak di Desa Ularan, Desa Lokapaksa, dan Desa Ringdikit.
Selama ini, Arya dan teman-temannya terpaksa menyeberang sungai setiap hari untuk menuju sekolah. Dengan sungai yang aliran airnya cukup deras dan jembatan gantung yang sudah rapuh, mereka harus rela melepas sepatu dan celana agar tidak basah saat menyeberang.
Baca Juga: SDN 5 Ringdikit, Sekolah di Bali yang Viral karena sebagian Siswanya Harus Menyeberangi Sungai
Biasanya, Arya dan teman-temannya pergi ke sekolah melalui jembatan gantung yang dibangun di bendungan Saba. Namun sejak lama, Arya sudah tidak lagi lewat di jembatan itu. Jembatan itu miring dan sudah rapuh. Meski masih bisa dilalui, tetapi Made Suardika khawatir jika anaknya mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.
Komang Arya lantas memutuskan berangkat sekolah dengan menyeberang sungai yang tepat berada di belakang rumahnya. Setiap berangkat sekolah, Arya digendong oleh Made Suardika menyeberang sungai. Sepatu dan celananya kadang dilepaskan dahulu saat menyeberang. Saat tiba di seberang barulah sepatunya kembali digunakan.
“Dulu diantar sama bapak. Berangkat sekolah bersama teman-teman. Kalau sudah selesai menyeberang sungai, sepatunya pakai di sekolah. Kadang digendong juga nyeberang sungai,” ungkap Arya sembari bermain bersama teman-temannya.
Made Suardika, ayah Arya, mengenang masa sulitnya saat sekolah pada tahun 1984. Ia juga harus menyeberang sungai dan kadang bolos sekolah saat banjir. “Dulu kami sudah seperti itu. Kami ingin anak-anak kami tidak mengikuti jejak kami. Biar kami saja,” katanya.
Baca Juga: Puluhan Tahun Tak Punya Tanggul Permanen, Petani Subak Lebah Sembawa Lokapaksa Kewalahan
Semangat warga untuk meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak ini mendorong mereka berinisiatif membangun jembatan baru. Para orang tua pun sepakat untuk menggalang dana secara swadaya agar bisa membangun jembatan seadanya. Dengan dikoordinir Dewa Ketut Darmayasa, jembatan sederhana dari bambu akhirnya selesai. Namun hal itu masih jauh dari kata layak. Seiring waktu, jembatan itu juga mulai rapuh. Arya dan teman-temannya pun kembali melepas celana dan sepatu untuk menyeberangi sungai.
“Anak-anak kami hanya dapat menikmati fasilitas itu tidak lama karena sudah rapuh lagi. Jadi kami terus meminta bantuan kesana kemari agar bisa membuat jembatan lagi,” kata dia.
Upaya untuk meningkatkan akses pendidikan itu pun akhirnya terjawab. Kini, Arya dan teman-temannya memiliki jembatan. Meski belum sepenuhnya usai, tapi jembatan itu sudah dapat dilintasi dengan nyaman. Arya tak lagi perlu menanggalkan celana dan sepatunya. Atau harus digendong menuju seberang sungai.
“Kalau sekarang kan belum kering. Mungkin dua hari lagi sudah bisa dilalui. Gak perlu lagi diantar bapak sambil lepas sepatu,” ujar Komang Arya kegirangan.
Tak dapat dipungkiri, Arya tidak dapat menyembunyikan raut kebahagiaan. Ia dapat sekolah dengan nyaman dan beban ayahnya untuk membangun jembatan sedikit berkurang. Arya tak henti-henti bersorak. Sesekali ia melirik jembatan yang baru setengah jadi. “Sebentar lagi ini jadi,” bisiknya kepada diri sendiri.
Terlepas dari kegembiraan Arya, jembatan ini dibangun bukan hanya untuk siswa, tetapi juga akan memberikan manfaat bagi seluruh warga di tiga desa yang terhubung. Terutama aktivitas pertanian yang dilakukan di tiga desa itu.
“Kami merasa bersyukur atas bantuan ini. Tapi perjuangan kami belum selesai, kami masih butuh biaya tambahan pula untuk membuat jembatan ini. Karena ini masih belum ada pegangannya. Supaya anak-anak kami saat lewat lebih aman,” ungkap Dewa Ketut Darmayasa, salah satu orang tua siswa.
Dewa Darmayasa juga merasa sedikit lega. Meski belum rampung sepenuhnya, ia merasa jembatan yang kini dibangun cukup untuk memfasilitasi para siswa dan orang tua yang beraktivitas.
“Selama ini kami sama-sama menyeberang sungai. Tapi sekarang sudah bisa lewat. Kalau lewat jalan besar itu memakan waktu 1 jam dan jauh juga. Jadi ini adalah jalan alternatif dan cepat untuk menuju ke wilayah seberang,” ujarnya.
Jembatan yang dibangun TNI/POLRI bersama masyarakat menjadi harapan baru bagi warga di Dusun Rawa, Desa Ringdikit, Dusun Sari Mekar Desa Lokapaksa dan Dusun Kuwum Desa Ularan. Tidak hanya jadi penunjang sarana pendidikan, tetapi juga penunjang aktivitas perekonomian masyarakat sekitar.
Rasa lega tidak saja ditunjukkan oleh para orang tua dan para siswa. Dandim 1609/Buleleng, Letkol Kav. Angga Nurdyana pun merasakan hal serupa. Melihat wajah polos para siswa itu membuatnya tersentuh. Ia melihat pancaran mata yang begitu semangat untuk mengenyam pendidikan. Jembatan ini diharapkan menjadi peneman langkah keseharian mereka sepanjang menempuh pendidikan.
“Melihat wajah mereka saya terharu. Selama ini mereka terpaksa lewat sini karena jembatan gantung di bendungan itu sudah tidak layak. Jadi dengan jembatan ini mereka bisa menyeberang dengan aman tanpa harus basah-basahan lagi,” ujar Dandim Angga. ***
Editor : Dian Suryantini