Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tiga Pelinggih di Pura Desa Bulian Terbakar, Sumber Api Belum Diketahui, Anehnya Patung dan Wastra Masih Utuh

I Putu Mardika • Sabtu, 28 September 2024 | 01:57 WIB

Tiga pelinggih di Pura Desa Bulian Kecamatan Kubutambahan Buleleng terbakar pada Jumat (27/9) siang
Tiga pelinggih di Pura Desa Bulian Kecamatan Kubutambahan Buleleng terbakar pada Jumat (27/9) siang
BALIEXPRESS.ID-Tiga buah pelinggih yang berada di Pura Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng ludes terbakar pada Jumat, (27/9) siang sekira pukul 13.12 Wita. Akibatnya desa adat Bulian menderita kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) di lokasi terlihat tiga pelinggih sudah hangus dilahap si jago merah. Bagian kayu bahkan tidak tersisa satupun. Namun, uniknya patung yang berada di pelinggih itu justru masih utuh dengan wastra (busana) tanpa sedikitpun terbakar.

Api diduga muncul dari atas pelinggih meru tumpeng lima yang merupakan pelinggih Ida Ratu Sesuhunan Maduwe Sari.

Kemudian merembet hingga ke pelinggih di samping kanannya yakni Pelinggih Ratu Pasek dan sebelah kiri Pelinggih Ida Ratu Gede Penyarikan.

Bendesa Adat Bulian, Jro Ketut Pasek menceritakan dirinya belum mengetahui pasti sumber api yang menjadi penyebab peristiwa terbakarnya ketiga pelinggih tersebut. Terlebih di atas pelinggih tidak ada kabel ataupun pepohonan. Bahkan, pada saat itu tidak ada api dupa yang menyala.

Jro Pasek menceritakan, sekitar pukul 12.30 Wita ada Jro Kelian Pecalang yang menyewakan terob di areal Utama Mandala Pura Desa hendak mengangkut terob yang digunakan setelah Hari Raya Galungan

Pada saat itu kondisi pelinggih masih aman belum terbakar. Namun jam 13.00 Wita Mekel Bulian hendak menunggu tim Kajian dari Unud Denpasar untuk meneliti bangunan pura desa yang merupakan cagar budaya.

Nah pada saat itulah ditemukan asap dan api. Selanjutnya Mekel Bulian menghubungi Ketua LPD yang merupakan Prajuru, dan menghubungi Jro Bendesa Adat, serta kelian desa Linggih. Karena kondisi panik, Kelian Desa Linggih lantas membunyikan kulkul hingga krama berkumpul untuk memadamkan api.

“Awalnya krama desa mencoba memadamkan dengan air seadanya. Kemudian setelah tim damkar datang, barulah mendapat pertolongan. Tetapi karena api sudah membesar sehingga pelinggih habis terbakar,” ungkapnya.

Dijelaskan Jro Pasek, Pura Desa Bulian ini usianya bahkan sudah ribuan tahun lamanya. Meski demikian, pura ini sempat mengalami pemugaran di bagian struktur kayunya maupun atapnya.

Sedangkan struktur pondasi masih asli seperti awal didirikannya pura tersebut. “Desa Bulian ini merupakan desa tua. Jadi struktur bangunan pura memang menggunakan paras yang sangat klasik,” paparnya.

Jro Pasek tak menampik, jika patung-patung yang mengelilingi pelinggih Ida Ratu Sesuhunan Maduwe Sari. Bahkan, wastra sama sekali tidak menunjukkan kondisi hangus akibat terbakar api.

“Ini yang aneh, patung-patung masih utuh. Ini memang keajaiban. Logikanya patungnya, wastra atau busana Beliau pasti ikut terbakar, padahal di atasnya sudah ambruk karena ditimpa kayu struktur bangunan pelinggih,” imbuhnya.

Atas peristiwa itu, pihaknya berharap agar perbaikan segera dilakukan, dengan bantuan dana dari pemerintah untuk meringankan krama Desa Bulian.

“Kami sudah ikhlas, kebakaran ini adalah musibah. Tentu kami harus pikirkan solusinya agar segera diperbaiki. Harapan kami ada jalan keluar, dan bisa pemerintah membantu meringankan untuk perbaikannya,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#pura desa #pelinggih #terbakar #Desa Bulian Kubutambahan