BALIEXPRESS.ID - Kematian remaja asal Australia inisial ACL, 18, di dasar kolam renang umum, Greenlot Residence, Banjar Dukuh Sengguan, Desa Munggu, Mengwi, Badung, pada 22 Agustus 2024, dinilai janggal oleh ibunya.
Polisi pun buka suara dan membeberkan bagaimana kronologi remaja Australia itu tewas. Perlu diketahui, kasus ini diselidiki oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Mengwi Polres Badung.
Kasi Humas Polres Badung Ipda Putu Sukarma menjelaskan, ACL sempat dilihat mengendarai sepeda motor sekitar pukul 16.30 WITA, oleh satpam perumahan tersebut inisial IWM, 40.
"Korban datang dari arah jalan raya melewati pos sekuriti menuju ke dalam perumahan," ujarnya, Sabtu (28/9). Kemudian, remaja asal negeri Kangguru ini diketahui ada di rumah sekitar pukul 16.50 WITA, oleh ibu tirinya inisial DJS, 49, yang baru pulang dari menjemput anak sekolah.
Saksi DJS mendengar suara korban yang berbicara dengan ayahnya SL di lantai dua. ACL mengatakan "I Love You daddy, you are the best dad in the world (Aku mencintaimu ayah, kamu ayah terbaik di dunia),".
Berikutnya, korban menyapa DJS sambil mengucapkan "I Love You", dan juga menyapa adik tirinya yang masih kecil dengan kata yang sama. Berselang beberapa menit kemudian, remaja berbadan kekar itu mengeluarkan sepeda dan keluar bersepeda.
Tak disangka sekira pukul 18.30 WITA, saksi IWM selaku satpam diberitahu oleh salah satu penghuni perumahan yang merupakan WN Rusia, bahwa ada orang tenggelam di kolam renang. Sehingga, IWM menuju kekolam renang.
Sesampainya di sana, dia melihat ada orang tertelungkup di dasar kolam. Lalu saksi menelepon rekannya IGA, 49, untuk datang dan membantu korban. "Saksi IGA turun ke kolam dan mengangkat korban ke atas dibantu oleh saksi IWM," tambahnya.
Setelah korban dapat diangkat, tubuh remaja itu dibalikan. Barulah mereka mengenali bahwa itu adalah ACL. Sehingga, IWM menuju rumah korban dan memberitahu orang tuanya perihal ini. Maka dari itu, SL dan DJS bergegas ke kolam renang.
Sang ayah langsung memberikan pertolongan pertama berupa CPR kepada ACL. Sementara IWM menelepon ambulans, namun tidak kunjung tiba. Maka, korban dinaikkan ke mobil pribadi untuk dibawa ke Rumah sakit.
"Mobil dikendarai oleh saksi DJS sedangkan SL terus melakukan CPR terhadap korban di bagian mobil paling belakang," tandasnya. Apesnya jalanan waktu itu macet. Demi mempercepat penanganan Korban, DJS berhenti di tempat praktek dokter terdekat yg ada di Banjar Batan Tanjung Cemagi.
Sekira pukul 19.40 WITA korban mendapatkan penanganan dari tim medis dan dinyatakan sudah meninggal dunia oleh dokter jaga. Selanjutnya DJS dan SL juga membawa korban ke RS Siloam dan sampai sekitar pukul 21.30 WITA.
Setelah diperiksa, korban dinyatakan memang sudah meninggal. Oleh karena itu, SL mengurus semua administrasi terkait kematian korban di RS Siloam dan menghubungi pihak yayasan pengurus jenazah Kristalian Funeral.
Pada 23 Agustus 2024, SL melaporkan kematian ACL ke konsulat Australia dan meminta petunjuk apakah bisa dilakukan kremasi terhadap korban. "Pihak Konsulat Australia memberi tahu bahwa keluarga korban yang ada yaitu ayahnya berhak memutuskan tindakan yang akan dilakukan terhadap korban," tuturnya.
Jenazah pun disemayamkan di rumah duka Kristalian Funeral di Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur, lalu pada Sabtu 24 Agustus 2024 dilaksanakan kremasi di krematorium Mumbul, Kuta Selatan, Badung.
Adapun berdasarkan hasil Olah TKP Polsek Mengwi dan keterangan saksi-saksi, diduga penyebab korban meninggal dunia karena tenggelam. "Saksi keluarga dan security dan pembersih kolam tidak ada melihat tanda-tanda kekerasan di tubuh korban," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, ibu kandung ACL melalui Advokat dan Konsultan hukum mempertanyakan penyebab kematian korban yang dinilai janggal. Sebab tidak ada autopsi dan pemeriksaan toksikologi terhadap jenazah remaja itu.
Mengingat, sang ayah memutuskan untuk langsung mengkremasi jenazah ACL. Ibu kandung korban yang sedang berada di Australia merasa keputusan kremasi ini dilakukan tanpa persetujuan dan komunikasi dengannya.
Padahal, sebelumnya sang ibu sudah menyiapkan liang lahat di Australia dan merencanakan pemeriksaan menyeluruh terhadap jenazah korban. Lantaran sudah dikremasi, pemeriksaan tersebut tidak bisa dilaksanakan.
Maka dari itu wanita tersebut merasa janggal anaknya disebut tenggalam di kolam renang yang dalamnya hanya dua meter. Karena ACL dikenal sebagai sosok yanh biasa melakukan surfing.
Sehingga sudah mahir berenang bahkan di laut yang arusnya kuat sekalipun. Sang ibu pun berharap ada penyelidikan lebih lanjut agar sebab kematian ACL terang benderang. (*)
Editor : I Gede Paramasutha