TEJAKULA, BALI EXPRESS - Dalam upaya melestarikan tradisi kuno yang memiliki nilai budaya tinggi, Gede Sedana dan Made Suparta dengan tegas mematuhi aturan ketat topeng dan pakaian dari Wayang Wong. Keduanya adalah penari sakral Wayang Wong. Saat menari mereka akan memakai topeng yang terbuat dari kayu Pule. Topeng ini disakralkan pula. Topeng itu telah diwariskan secara turun-temurun dan dianggap sebagai warisan budaya yang sangat berharga.
Menurut Sedana, topeng-topeng tersebut disimpan di dalam Pura Maksan. Topeng itu tidak boleh digunakan di luar pura. Masyarakat setempat membuat duplikat untuk pertunjukan di luar pura, termasuk kostum dan aksesori lainnya. Topeng-topeng tersebut disimpan dengan cermat di Pura Maksan, tempat yang dianggap suci dan dijaga dengan seksama. Bahan pembuatannya yang terbuat dari kayu pule telah terbukti tahan lama selama ratusan tahun tanpa perlakuan pengawet tambahan. Ketika tidak digunakan, topeng tersebut dibersihkan dan dibungkus dengan kain putih biasa untuk menjaga keutuhannya.
“Penting untuk menjaga keaslian topeng-topeng ini karena merupakan bagian dari warisan budaya kami yang sangat berharga. Kami percaya bahwa topeng-topeng ini memiliki energi spiritual dan memainkan peran penting dalam ritual keagamaan,” kata Sedana.
Proses perawatan topeng ini tidak hanya terbatas pada penyimpanan yang cermat, tetapi juga melibatkan ritual kecil sebelum digunakan. Saat akan dipakai, topeng diambil dari Pura Maksan dan diikuti dengan sebuah ritual kecil sebelum langsung digunakan dalam pertunjukan atau upacara adat.
Pakaian yang digunakan bersamaan dengan topeng juga menjalani prosedur khusus. Masyarakat setempat menjaga agar pakaian tersebut tidak terkontaminasi dengan pakaian lain yang dianggap "kotor". Saat mencuci pakaian, mereka menggunakan ember khusus yang terpisah untuk memastikan kebersihan dan kesucian pakaian yang digunakan.
Dengan kedisiplinan dan kepedulian terhadap tradisi ini, masyarakat berharap dapat melanjutkan warisan budaya mereka hingga generasi mendatang, memastikan bahwa topeng kayu pule dan segala elemen yang terkait dengannya tetap menjadi bagian integral dari identitas budaya mereka. ***
Editor : Dian Suryantini