BALIEXPRESS.ID - Warga Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, dikejutkan oleh penemuan sesosok mayat di saluran irigasi subak yang terendam air.
Peristiwa ini terjadi di Banjar Dinas Pasek pada Senin (30/9/2024) pagi, sekitar pukul 06.30 WITA, yang memicu kehebohan di kalangan warga setempat.
Mayat tersebut belakangan diidentifikasi sebagai Ketut Supatra alias Nyangnyang (61), warga Banjar Dinas Pasek, Desa Kubutambahan.
Korban pertama kali ditemukan oleh Gede Suparsa alias Paksa (70), seorang petani dari Banjar Dinas Tegal.
Gede Paksa, yang saat itu sedang menuju sawah, tak menyangka akan menemukan tubuh Nyangnyang tersangkut di sisi selatan sungai dalam posisi miring dan sudah kaku.
Tanpa pikir panjang, Gede langsung melaporkan temuan mengerikan ini kepada Kadek Suwadesi (50), seorang ibu rumah tangga yang kebetulan sedang mencuci pakaian di dekat lokasi kejadian.
Bersama-sama, mereka segera melaporkan insiden ini kepada kepala dusun, yang kemudian menghubungi pihak berwenang, termasuk Bhabinkamtibmas dan Babinsa Kubutambahan.
Tak lama berselang, polisi dan tim medis tiba di lokasi sekitar pukul 07.00 WITA, disusul tim INAFIS Polres Buleleng untuk melakukan identifikasi korban.
Berdasarkan pemeriksaan awal, diperkirakan korban telah meninggal dunia 3-4 jam sebelum ditemukan, tanpa tanda-tanda kekerasan fisik.
Misteri di Balik Penemuan: Korban Diduga Mabuk Sebelum Tewas
Kasus ini semakin menarik perhatian setelah AKP Gede Darma Diatmika, Kasi Humas Polres Buleleng, mengungkapkan bahwa korban sempat mengonsumsi minuman beralkohol sebelum kematiannya.
Ketut Supatra diketahui minum arak Bali dan bir bersama teman-temannya, termasuk Ketut Arsada, di rumah Arsada pada Minggu (29/9/2024) malam, sekitar pukul 22.00 WITA.
Saksi mata menyebutkan bahwa sekitar pukul 03.00 WITA, korban terlihat berjalan menjauh ke arah sungai dalam kondisi diduga mabuk.
Diduga, korban terpeleset ke sungai karena jalan yang gelap dan tidak ada penerangan, sehingga ia terendam air dan meninggal dunia.
Di lokasi kejadian, polisi juga menemukan barang-barang pribadi korban, termasuk uang tunai Rp 215.000, sebungkus rokok merek Kalimas, serta pakaian yang dikenakannya, yaitu kaos putih dan kemeja batik.
Keluarga korban telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak autopsi, serta menyatakan tidak akan melakukan tuntutan hukum kepada pihak manapun.
Namun, kematian Nyangnyang yang tragis ini masih menyisakan tanda tanya bagi warga Kubutambahan.
Peristiwa ini telah membuat geger seluruh desa, dan kini menjadi buah bibir di masyarakat sekitar, terutama terkait penyebab kematian korban yang diduga akibat mabuk dan jatuh ke sungai. ***