SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Buleleng, Nyoman Sugawa Korry dan Gede Suardana, hingga saat ini belum gencar melakukan kampanye secara offline. Kendati jarang terdengar berbaur dengan masyarakat secara langsung, ternyata calon wakil Bupati Buleleng Gede Suardana punya strategi lain. Ia memanfaatkan platform TikTok.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap semakin besarnya peran media sosial dalam menarik pemilih muda, yang menjadi salah satu target utama dalam pemilu mendatang. Kegiatan-kegiatan kampanye online serta opini-opini Gede Suardana sebagai calon Wakil Bupati Buleleng diuungah pada akun pribadinya @gedesuardana__
Setiap viti atau video TikTok yang diunggah mendapat respon hingga ribuan viewer. Pengikutnya pun mencapai 5.735 orang. Viti utama yang disematkan saat mengenai SMAN Bali Mandara yang kini kembali seperti semua. Hingga kini video itu diputar sebanyak 27,4 ribu.
Sebelum menjadi calon wakil Bupati, Gede Suardana sudah aktif bermain TikTok. Kini akun itu oa menafaatkan untuk menarik perhatian generasi muda. TikTok, yang populer di kalangan generasi muda, dinilai efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kampanye secara kreatif dan interaktif.
Pesan Kampanye yang segar dan humanis menggunakan format video singkat, Gede Suardana menghadirkan konten-konten kampanye yang lebih ringan, dengan tetap menyampaikan informasi penting. Unggahan video terakhirnya adalah mengajak calon Gubernur Bali Made Muliawan Arya alias De Gadjah untuk mencoba ikan panggang atau plongos, makanan khas Seririt.
“Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan keterlibatan yang lebih aktif dari pemilih muda, yang seringkali merasa teralienasi dari kampanye politik konvensional,” sibgkatnya.
Langkah Sugawa-Suardana ini mendapat respons positif dari sejumlah pengguna TikTok. Pemanfaatan TikTok sebagai media kampanye merupakan bukti bahwa mereka memahami perubahan dinamika politik dan demografi pemilih. Banyak yang melihat strategi ini sebagai upaya untuk menjembatani jurang komunikasi antara generasi tua dan muda di Bali.
“Tetap merakyat, Pak. Sampai nanti,” ujar salah satu akun TikTok. Akun lainnya juga memberikan komentar sejuk. “Pilihan tetap yang muda. Muda berwibawa. Muda berkarya. Perintis bukan pewaris,” tulis pengguna lainnya di kolom komentar. Pujian juga dilontarkan. “Ini baru calom pemimpin yang merakyat,” komentarnya.
TikTok, yang dikenal dengan tantangan viral, tarian, dan konten hiburan singkat, memberikan ruang bagi kandidat untuk menghadirkan citra yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Meski demikian, tantangan terbesar dari kampanye ini adalah mempertahankan pesan substansial dalam format yang sering kali dianggap ringan.
Penggunaan TikTok dalam kampanye politik bukanlah hal baru. Namun, bagi Pilkada 2024 di Bali, ini adalah salah satu langkah paling inovatif dalam beberapa tahun terakhir. Sugawa-Suardana berharap bahwa pendekatan ini akan memberikan hasil positif dan dapat memperkuat posisi mereka dalam kontestasi politik yang semakin ketat.
Dengan peluncuran kampanye berbasis TikTok ini, Sugawa-Suardana menunjukkan bahwa mereka siap beradaptasi dengan perkembangan zaman dan mendengarkan kebutuhan serta keinginan generasi muda Bali. ***
Editor : Dian Suryantini