SINGARAJA, BALI EXPRESS- I Komang Edi Juliana, pemuda asal Banjar Tamblingan, Munduk, Buleleng, Bali, telah menjadi figur inspiratif dalam dunia pertanian, terutama di sektor hortikultura. Sebagai pelopor pertanian organik di Bali, Juliana tidak hanya bertahan di tengah tantangan, tetapi juga terus berinovasi melalui kelompok tani Amerta Giri Lesung yang ia dirikan. Melalui kelompok ini, ia mendorong petani untuk memanfaatkan pupuk organik dan menjaga kesuburan tanah, sebagai langkah dasar dalam membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Juliana mengungkapkan pentingnya menjaga kesuburan tanah yang ia sebut sebagai "Ibu Pertiwi". Ia menggambarkan tanah sebagai ibu hamil yang perlu dipelihara kesehatannya untuk menghasilkan panen yang baik. “Ibu Pertiwi ibarat ibu hamil. Jika ibunya sehat, bayinya pun akan sehat dan kuat. Begitu juga dengan tanah, jika tanah subur, hasil panennya pun berkualitas,” jelasnya, Rabu (2/10).
Untuk mendukung hal ini, ia mengajak petani menghindari penggunaan pupuk mentah, seperti kotoran ayam, yang dapat merusak struktur tanah. Sebagai gantinya, ia merekomendasikan pupuk kompos yang lebih ramah lingkungan.
Baca Juga: Asal Usul Desa Sekumpul: Didirikan Tahun 1912, Simbol Keberlimpahan Hasil Pertanian
Salah satu inovasi terbesar Juliana adalah pengembangan varietas wortel lokal. Melalui teknik persilangan, ia berhasil menciptakan varietas wortel dengan kualitas unggul. Wortel hasil karyanya memiliki masa panen yang lebih cepat, rasa yang lebih manis, dan tekstur yang lebih renyah. Inovasi ini tidak hanya memperbaiki hasil panen, tetapi juga menjadi dasar bagi pengembangan produk olahan berbasis wortel, seperti kerupuk dan brownies wortel. Produk ini diharapkan dapat menjadi oleh-oleh khas Bali yang diminati masyarakat.
"Kerupuk menjadi pilihan karena harganya terjangkau, disukai banyak orang, dan mudah didistribusikan," ujarnya.
Saat ini, Juliana dan timnya masih menyempurnakan produk-produk tersebut sebelum dipasarkan secara luas. Tidak hanya fokus pada inovasi produk, Juliana juga gencar memperkenalkan teknologi dalam proses bertani. Penggunaan alat-alat modern seperti traktor, mesin pemotong rumput, dan sistem penyiraman otomatis telah membantu meningkatkan produktivitas petani di kelompoknya.
Selain itu, ia bekerja sama dengan laboratorium hayati untuk melakukan riset kualitas tanah. Menurutnya, riset ini sangat penting untuk memastikan bahwa lahan yang dibudidayakan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
"Teknologi sangat membantu dalam meningkatkan produktivitas, namun riset kualitas tanah juga tidak kalah penting untuk memastikan tanah tetap subur," katanya.
Baca Juga: Pemkab Buleleng Lakukan Eksplorasi Cagar Budaya di Desa Adat Tamblingan
Sebagai petani muda yang berasal dari keluarga petani, Juliana sudah tertarik pada dunia pertanian sejak duduk di bangku sekolah. Meskipun awalnya orang tuanya tidak mendukung keputusannya untuk terjun ke dunia pertanian, Juliana tetap berpegang teguh pada pilihannya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMK Negeri 1 Petang pada tahun 2018, ia mendirikan kelompok pemuda Remaja Mandiri Bali, yang kemudian berkembang menjadi kelompok tani Amerta Giri Lesung. Kelompok ini terdiri dari petani muda dan tua yang saling berbagi pengetahuan dan teknik pertanian modern.
Juliana merasa prihatin dengan alih fungsi lahan pertanian yang semakin marak di Bali. Ia menekankan pentingnya menjaga lahan produktif untuk memastikan ketahanan pangan di masa depan. "Jika terus kehilangan lahan produktif, ancaman kekurangan pangan akan semakin nyata. Sebagai negara agraris, kita seharusnya mampu menjaga dan meningkatkan produktivitas pertanian," tegasnya.
Ia juga berharap pemerintah memperkuat regulasi mengenai kawasan hijau agar lahan pertanian tidak mudah dialihfungsikan. Melalui dedikasi dan inovasinya, I Komang Edi Juliana tidak hanya menjadi inspirasi bagi petani Bali, tetapi juga generasi muda lainnya. Harapannya, semakin banyak anak muda yang tertarik untuk terjun ke dunia pertanian.
"Pertanian bukan hanya tentang menanam, tetapi juga menjaga bumi dan memastikan ketahanan pangan," pesan Juliana. (dhi)
Editor : Dian Suryantini