SINGARAJA, BALI EXPRESS – Namanya Ni Ketut Cita. Ia adalah perempuan yang berasal dari Besakih, Karangasem. Dulu, ia pernah tinggal di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Semasa sekolah hingga lulus sekolah SMA, ia habiskan di Buleleng. Cita merupakan sosok perempuan sederhana, ceria tapi sedikit pemalu.
Saat ini Cita berstatus sebagai atlet atletik di bawah naungan KONI Buleleng. Sebagai seorang atlet, tentu saja postur tubuh Cita tidak sama seperti perempuan lainnya. Meski kurus, kakinya terlihat jenjeng dan kokoh. Tangannya kuat dan bentuk badannya ideal. Saat berjalan maupun berlari tubuhnya terlihat ringan.
Namun, perjalanan hidup Cita tidak seringan kecepatannya dalam berlari. Sekilas ia mengisahkan hidupnya. Cita menyebut dirinya berasal dari keluarga kurang mampu. Saat tinggal di Desa Pancasari pun ia tidak punya rumah. Ia tinggal bersama adik serta orangtuanya di atas lahan orang lain, dengan rumah yang jauh dari kata layak.
Masa muda Ni Ketut Cita diisi dengan kerja keras. Ia hampir tidak bisa menikmati waktu luang selayaknya gadis remaja yang suka bersolek maupun bermain. Setiap hari, demi mendapatkan uang saku dan uang tambahan untuk keluarga, ia mesti membantu tetangga. Menggarap ladang, membawa pupuk, mengambil air dan apa saja. Ia selalu mengiyakan permintaan dari orang-orang yang membutuhkan jasanya.
Sepulang sekolah sekitar pukul 01.00 wita kala itu, ia tidak langsung pulang. Cita justru bekerja terlebih dahulu, atau mengambil air minum ke tengah hutan. Setelah menyelesaikan tugasnya itu, barulah ia pulang. Ia akan sampai di rumahnya sekitar pukul 15.00 wita.
“Berangkat sekolah pagi-pagi bawa jirigen. Nanti jirigennya disangkutkan dulu di pagar tegalan. Pulangnya baru diambil, langsung cari air. Itu untuk air minum,” ujarnya saat ditemui, Rabu (2/10) sore.
Cita melakukan itu dengan senang. Setiap hari, bertahun-tahun, hingga terbiasa. Suatu hari putri dari pasangan I Ketut Sumatera dan Ni Wayan Widiasih ini diminta untuk berlari keliling sekolah. Guru olahraganya meminta Cita berkeliling sebanyak 2 kali putaran dengan waktu beberapa menit. Cita menurut. Ia melakukannya dengan baik. Tiba-tiba didaftarkan untuk ikut lomba lari.
“Sebenarnya saya tidak berminat jadi atlet lari. Tapi karena tidak ada pilihan. Mau olahraga yang lain, semuanya butuh modal sedangkan saya orang miskin yang gak punya uang buat beli sepatu, jersey dan lainnya. Ya sudah, lari memang paling murah buat saya saat itu,” kata dia.
Saat pertama kali berkompetisi, Cita langsung menang. Sejak saat itu ia baru dilatih dengan serius. Berkat kesehariannya yang keluar masuk hutan, naik turun bukit, membuat Cita memiliki kekuatan kaki yang tak tertandingi. Secara tidak langsung ia telah dilatih oleh alam sebelum akhirnya bertemu dengan pelatih professional.
Kini Cita adalah atlet atletik. Ia spesialis pelari jauh 800 meter. Kecepatan berlarinya sangat cepat. Ketika kakinya melangkah, ia seperti terbang. Dalam sekejap sudah masuk garis finis lalu menang. Dalam sebuah kompetisi, nama Ni Ketut Cita tidak dapat diragukan. Namanya selalu bertengger dalam urutan Top 3 atau Top 5. Setiap even lari, perempuan ini tidak mau ketinggalan.
Pengalaman berkompetisinya pun telah malang melintang. Kompetisi nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) telah 4 kali ia ikuti. Tiga kali berturut-turut, Cita membawa pulang medali perunggu. Pada PON 2024 di Sumatera Utara-Aceh yang baru saja berlalu, akhirnya Cita berdiri di podium tengah. Ia mendapat medali emas. Kebahagiannya pun tak terbendung. Ini adalah emas pertama dan terakhir yang dipersembahkan Cita untuk kontingen Bali dalam cabang olehraga atletik.
“Pada PON berikutnya saya tidak turun lagi. Karena umur saya sudah lewat. Sekarang saya umur 33, empat tahun lag ikan sudah tidak bisa. Batas umur atlet yang boleh ikut adalah 35 tahun. Terima kasih Tuhan, ini momen terakhir yang indah,” kata Cita.
Raihan medali itu ternyata tak luput dari nazar yang ia ucapkan sebelum bertanding. Jika mendapat emas pada PON 2024, maka ia akan pulang berjalan kaki dari Pancasari ke Singaraja. Tak dinyana, doa itu terkabulkan. Maka jadilah ia saat pulang harus menebus nazar yang diucapkan.
“Saya bilang seperti itu spontan. Lawannya saat itu tangguh semua. Tapi Tuhan memberikan itu kepada saya. Akhirnya, karena sudah berjanji, mau tidak mau harus dibayar tuntas,” ujarnya.
Pada 21 September 2024 lalu, Cita kembali ke Bali. Ia sampai di bandara Ngurah Rai, Bali. Cita dan beberapa atlet lainnya dijemput dan diantarkan menuju KONI Bali. Setibanya di KONI Bali, hari telah larut. Cita pun memutuskan untuk menginap di rumah kerabatnya di Denpasar. Keesokan harinya ia dijemput oleh suaminya. Putu Andika Andriawan.
“Saat pulang ke Singaraja, jam 4 sore tiba di Pacasari. Saya minta turun dari motor lalu saya berjalan kaki. Di Belakang ada suami saya yang mengikuti,” kata dia.
Rasa lelah sebenarnya masih bertengger di tubuh Cita. Namun, sekali lagi, ia mesti melunasi nazar yang ia ucapkan. Sepanjang perjalanan ia merasa bernostalgia. Tepatnya saat melintas di desa Pancasari. Ia mengenang beberapa tempat yang duu pernah dilalui untuk sekolah atau bekerja serabutan berasama orangtuanya. Rasa sedih tidak dapat ia bending hingga tak sarad ia meneteskan air mata sembari berjalan.
Beberapa pengendara yang melihat Cita mengira ia dan suaminya sedang bertengkar. Padahal ia sedang menunaikan janjinya.
“Itu lucu sih. Karena jalan saya kan gak biasa. Cepat dan bringas. Muka lelah dan ada sedih-sedihnya, dikira berantem saya dengan suami. Padahal saya sedang memenuhi janji saya kepada, Tuhan,” kata dia.
Jalan sepanjang 25 km ditempun Cita berjalan kaki selama 4 jam. Ia tiba di Kota Singaraja, tepatnya di Taman Kota Singaraja pukul 19.30 wita, Minggu, 22 September 2024 lalu. Rasa lega pun memenuhi batinnya.
“Walau lelah tapi saya mampu. Tuhan menemani saya. Saya sebenarnya tidak ingin dipublikasi. Karena ini adalah janji saya dan Tuhan. Untuk diri saya bukan untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Tapi ternyata video saya viral, diupload sama teman-teman,” terangnya.
Ternyata, nazar itu tidak hanya ia penuhi ketika pulang ke Buleleng. Ia juga membayar nazar saat berada di Aceh-Sumatera Utara. Usai bertanding, ia berjalan kaki dari stadion menuju hotel. Hanya dengan waktu singkat, jarak 4 km berhasil dituntaskan.
“Jadi sebenarnya ada 2 kaul. Satu sudah dibayar di sana (Aceh) langsung, sisanya di sini (Buleleng). Sudah semua. Bedanya di sana saya jalan ditemani pelatih, di sini saya jalan ditemani suami dan teman-teman. Jadi selalu aman,” ungkapnya.
Kini dengan raihan medali emas terakhirnya itu, Cita ingin fokus bekerja. Disinggung soal menjadi instruktur atletik, ia menjawab dengan santai. Cita masih belum percaya diri untuk menjadi seorang pelatih.
“Sudahlah ya, nanti saja soal itu. Sekarang fokus kerja dan ngurus suami dulu. Suami saya juga atlet atletik. Kami sama-sama tidak bisa berkompetisi lagi karena Batasan umur. Tapi kami masih tetap berlari. Berlari ikut kompetisi umu dan berlari membawa kehidupan rumah tangga kami menjadi lebih baik,” kata Cita menutup perbincangan. ***
Editor : Dian Suryantini