BALIEXPRESS.ID-Warga desa adat Bualu kecamatan Kuta Selatan Badung menggelar upacara pecaruan usai terjadi insiden bentrok antar warga NTT dan warga setempat pada Minggu (29/09/2024).
Upacara pecaruan tersebut dilaksanakan di lokasi kejadian yakni di catus pata, Jalan Srikandi, Kuta Selatan pada Jumat (04/10/2024).
Baca Juga: Eightea Bali, Wisata Hidden Gem untuk Pecinta Teh di Ubud
Pecaruan ini dilakukan sebagai pembersihan secara niskala untuk menghilangkan pengaruh negatif agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Dalam video yang dibagikan oleh akun @kutaselatan.news via akun @punapibali, terlihat sejumlah warga Bali bergotong royong melakukan upacara pecaruan tersebut.
Terlihat seorang pemangku memimpin jalannya upacara tersebut.
Video tersebut direkam oleh seorang pria yang menjelaskan tujuan dari upacara tersebut.
“Melaporkan dari catus pata desa adat Bualu, hari ini Jumat diadakan upacara pecaruan serangkaian kejadian yang terjadi beberapa hari lalu di jalan Srikandi,” ujar si perekam video.
Lebih lanjut, pihaknya berharap dengan adanya upacara pecaruan tersebut dapat meredam kejadian serupa hingga menimbulkan korban.
Baca Juga: Razman Nasution Pastikan Vadel Badjideh Penuhi Panggilan Penyidik Terkait Laporan Nikita Mirzani
“Semoga kejadian ini tidak terulang lagi, sampai ada korban sampai berdarah-darah,” ujarnya.
Sebelumnya, warga di Jalan Srikandi, Banjar Penyarikan, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan, Badung membunyikan kulkus bulus lantaran ketenangan mereka diusik oleh oknum kelompok Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, yang membuat keributan pada Minggu (29/9).
Oknum kelompok Sumba Barat Daya itu dalam kondisi mabuk dan hendak menyerang warga sampai ke dalam rumah dengan bersenjatakan besi cor proyek. Bahkan, anggota mereka mengklaim tidak takut dengan Orang Bali.
Warga Banjar Penyarikan, Benoa, berani menghadapi oknum kelompok pembuat onar tersebut, sampai akhirnya lima orang dapat diamankan.
Para pelaku bernama Nikodemus Nigha Bombo alias Nikson, Yosep Ndara Milla, Agustinus Hollo, Lotensius Bali Meme, serta Imanuel Kondo.
Usut punya usut, pemicu keributan yang dibuat orang-orang Sumba Barat Daya ini karena tidak terima ditegur oleh warga.
Sontak saja video pecaruan tersebut mendapat beragam tanggapan dari warganet di media sosial.
“Pendatang buat ribut, yang bersihin tuan rumah. Dikira gampang bersih-bersih di Bali, Taunya mabuk terus bikin ulah,” tulis akun @gung_surya23.
“Semoga orang luar paham, kalau sudah begini yang repot itu desa adat, butuh biaya dan waktu persiapan dan pelaksanaan upacaranya,” tulis akun @kornia_suteja.
Editor : Wiwin Meliana