BALIEXPRESS.ID-Herman Umbu Billy, Ketua Umum Flobamora Bali buka suara terkait maraknya kasus oknum NTT (Nusa Tenggara Timur) yang membuat onar di Bali.
Pihaknya pun membeberkan sumber masalah dihilir yang menyebabkan banyaknya kasus-kasus keributan maupun kriminal yang melibatkan oknum-oknun NTT.
Menurut Herman Umbu, oknum-oknum NTT yang kerap terlibat onar adalah mereka yang datang ke Bali sebagai buruh proyek.
Baca Juga: Warga NTT di Bali: Dari Mahasiswa Hingga Buruh Proyek, Kenali 4 Karakteristik Flobamora Bali
Mereka diangkut ke Bali oleh mandor yang bukan orang NTT khusus untuk menjadi tenaga buruh proyek.
“Adik-adik saya ini adalah tenaga murah, mereka mau dibayar dengan murah dan dunia bisnis juga senang dengan tenaga-tenaga murah,” ungkap Herman Umbu Billy dikutip dari kanya Youtube Jeg Bali, Selasa (08/10/2024).
Biasanya, tenaga-tenaga ini diambil dari satu desa, difasilitasi transportasi dan setelah sampai di Bali, mereka akan ditempatkan di bedeng-bedeng proyek.
Menurut Herman, tenaga buruh itu tidak bersosialisasi dengan masyarakat sekitar karena hanya tinggal di dalam bedeng proyek.
Namun yang menjadi persoalan, ketika proyek sudah selesai, para pekerja dari Sumba NTT ini tidak dipulangkan oleh mandornya.
Baca Juga: Buron sejak Maret 2024, Pria Buleleng Ditangkap di Denpasar dan Menyusul Adiknya ke Penjara
“Inilah yang jadi problem, mereka merekrut ini kan orang tidak sekolah semua, ketika mereka tidak dipulangkan inilah menjadi problem,” jelasnya.
Bahkan banyak kasus, tenaga buruh dari NTT ini tidak digaji sesuai dengan kesepakatan awal.
Karena banyak kasus, buruh di bedeng yang gajinya dibayar akan mengompori buruh dibedeng yang gajinya tidak atau belum dibayarkan.
“Masalah-masalah ribut kalau sudah dibedeng proyek pasti itu urusan gaji. Karena ini soal makan,” jelasnya.
Pihaknya menyebut bahwa orang-orang Sumba yang datang ke Bali untuk menjadi buruh proyek adalah orang yang tidak sempat mengenyam Pendidikan.
Lebih lanjut pihaknya menyebut bahwa di salah satu kabupaten di Sumba ada 60 SD, SMP 30, dan SMA hanya 6.
Baca Juga: Penjelasan Polisi Soal Heboh Kematian WNA Australia pada Sebuah Hotel di Kuta
“Secara sistem sekolahnya ga ada, anaknya mau sekolah, sekolahnya ga ada, ga nampung,” jelasnya.
Itu menyebabkan secara ekonomi dan Pendidikan, orang-orang Sumba tidak punya lapangan kerja selain Bertani dan berternak.
Dengan dunia digital, membuat kota menarik bagi mereka dan Denpasar adalah salah satu kota paling dekat didatangi dari laut.
Editor : Wiwin Meliana