BALIEXPRESS.ID - Lalu lintas merupakan memegang peranan penting sebagai penunjang berbagai bidang kegiatan masyarakat di Denpasar, Bali, khususnya roda perekonomian.
Sayangnya, hal itu diikuti dengan munculnya berbagai permasalahan klasik. Baik itu berupa kemacetan, pelanggaran, dan yang paling parah kecelakaan lalu lintas.
Kecelakaan itu seringkali berakibat fatal, seperti jatuhnya korban jiwa. Bahkan sampai September 2024 ini saja, sudah ratusan orang tewas akibat lakalantas di Bali.
Sebagai upaya penanganan terhadap berbagai permasalahan klasik lalu lintas, Polresta Denpasar sebagai jajaran Polda Bali menggelar Operasi Zebra Agung 2024.
Apel gelar pasukan operasi tersebut telah dilaksanakan di Area Barat Lapangan GOR Ngurah Rai Denpasar, pada Senin (14/10).
Apel tetsebut dipimpin langsung oleh Kapolresta Denpasar Kombespol Wisnu Prabowo. Dia menjelaskan, berdasarkan data Ditlantas Polda Bali, tercatat ada 6.420 kasus kecelakaan lalu lintas dari Januari sampai September 2024.
Bahkan, 470 orang tewas dan diantaranya 23 orang merupakan warga negara asing (WNA). Jumlah kecelakaan tersebut meningkat 21 persen dari 2023, yakni 5.315 kasus.
Namun, angka kematiannya mencapai 481 orang termasuk 12 WNA. "Kondisi ini menimbulkan keprihatinan, terutama terkait citra pariwisata Bali," ujarnya.
Maka dari itu digelar Operasi Zebra Agung selama satu minggu, mulai 14 hingga 27 Oktober 2024. Tujuannya menciptakan kondisi (Cipkon) kemanan, keselamatan ketertiban dan kelancaran berlalu lintas (Kamseltibcarlantas).
Apalagi dalam waktu dekat akan digelar Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih hasil Pemilu 2024. Maka Kamseltibcarlantas sangat dikedepankan.
Sebanyak 1.025 personel dikerahkan. Rinciannya, 263 personel Polda Bali dan 762 personel dari jajaran Polres/ta.
Pihaknya akan menekankan upaya edukatif dan persuasif dengan pendekatan humanis, serta didukung penegakan hukum elektronik secara statis dan mobile.
"Kepatuhan dan kesadaran berlalu lintas sangat penting dalam mengatasi pelanggaran lalu lintas, kemacetan, serta kecelakaan. Partisipasi masyarakat sebagai pengguna jalan sangat diperlukan untuk mewujudkan keamanan dan keselamatan lalu lintas di Bali," ucapnya.
Tentunya sasaran operasi adalah perilaku pengendara yang berpotensi melanggar aturan. Seperti, berkendara melawan arus, mengemudi di bawah pengaruh alkohol, bermain ponsel saat berkendara, tidak menggunakan helm atau sabuk pengaman, pengendara di bawah umur, serta pelanggaran terhadap rambu lalu lintas.
Diakhir amanatnya, Wisnu memberikan beberapa pesan penting kepada personel yang bertugas.
Personel diharapkan menjaga keamanan sesuai SOP, meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, serta mengedepankan sikap humanis. (*)
Editor : I Gede Paramasutha