Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gong Pacek Hingga Genggong Dipamerkan Sebagai Representasi Lontar Musik Tradisional

Dian Suryantini • Senin, 21 Oktober 2024 | 20:37 WIB

Pameran lontar musik tradisional Bali serta alat musik tradisional Bali di Museum Sunda Kecil, Singaraja.
Pameran lontar musik tradisional Bali serta alat musik tradisional Bali di Museum Sunda Kecil, Singaraja.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kekayaan musik tradisional Bali kembali disorot dalam pameran eksklusif yang digelar di Museum Sunda Kecil, Pelabuhan Tua Buleleng. Dengan tema Ketahanan Budaya Dalam Bingkai Alat Musik Tradisional di Era Milenial, pameran ini menampilkan sejumlah alat musik klasik yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Bali. Pameran yang digelar UPTD Gedong Kirtya, itu juga mampu  menyuguhkan pengalaman unik bagi para pengunjung yang ingin mengenal lebih dalam tentang seni musik tradisional Bali.

Alat musik yang ditampilkan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen, namun juga sebagai medium untuk memahami nilai-nilai filosofis dan spiritual yang terkandung dalam lontar-lontar musik kuno. Di antara koleksi yang dipamerkan, terdapat gong pacek, suling, serta genggong yang merupakan alat musik tradisional unik dengan suara khas melalui getaran bilah bambu.

“Tentu saja pameran ini bertujuan untuk mengenalkan alat musik khas Bali kepada masyarakat luas. Terutama bagi pelajar dan mahasiswa, agar mereka mengetahui alat music yang dimiliki,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, Senin (21/10) pagi.

Benda-benda berupa gong pacek, genggong, sangkakala, seruling, rebab, rindik hingga kendang merupakan koleksi dari Museum Gedong Kirtya dan beberapa sekaa gong yang ada di Buleleng.

Lontar musik tradisional Bali, yang dipamerkan mencatat detail-detail teknis dan estetis dalam pementasan musik klasik Bali. Tulisan-tulisan lontar tersebut memuat instruksi, makna filosofis, serta nilai spiritual yang menjadi pedoman bagi para seniman. Melalui pameran ini, lontar-lontar tersebut dipresentasikan secara visual di area pameran.

Lontar pertama adalah Lontar Aji Gurnita. Secara garis besar, lontar ini menguraikan tentang filosofi penciptaan gamelan Bali. Lontar ini juga disebutkan sebagai acuan dasar pembuatan musik tradisional Bali.

Yang kedua adalah Lontar Papatutan Suling. Lontar ini berisi tentang bahan-bahan yang digunakan untuk membuat suling. Uniknya, untuk mendapatkan suara suling atau seruling yang nyaring, bambu yang digunakan adalah bambu bekas bangunan rumah.

“Disarankan bambunya dari bekas atap rumah. Kalau tidak, biar sebagus apapun kualitas bambunya, suling yang dihasilkan tidak akan bagus. Begitu menurut lontar Papatutan Suling,” ungkap Putu Suarsana, ahli pembaca lontar di Gedong Kirtya Singaraja.

Sementara dua lontar lainnya yang dipamerkan yakni, lontar Pupuh Gending Gong dan Pupuh Gending Legong lebih banyak mengatur tentang pola nada dari alat musik Bali. Ini ibarat notasi musik dalam musik tradisional Bali. Sejatinya, Gedong Kirtya memiliki sekitar 20 lontar yang memuat tentang musik tradisional Bali. Namun, hanya empat lontar yang dipamerkan sesuai dengan benda-benda yang ditonjolkan.

Pameran ini diharapkan dapat memperluas wawasan masyarakat tentang kekayaan seni musik tradisional Bali serta memberikan apresiasi lebih terhadap upaya pelestarian warisan budaya. Dengan pameran ini, para pengunjung dapat menyelami dimensi baru dalam memahami tradisi Bali, bahwa musik tidak hanya terdengar sebagai alunan nada, namun juga terbaca dalam aksara lontar, merekam sejarah panjang yang terus berlanjut dari generasi ke generasi. ***

Editor : Dian Suryantini
#lontar #pameran #gedong kirtya #museum