Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Disebut Melawan Alam, Ribuan Mangrove Tulisan G20 di Tol Bali Mandara Mati, Ahli ‘Media Tanam Tidak Sesuai’

Rika Riyanti • Rabu, 23 Oktober 2024 | 02:57 WIB

MATI: Ribuan tanaman mangrove yang ditanam membentuk tulisan G20 di Tol Bali Mandara, kini tampak gersang dan mati
MATI: Ribuan tanaman mangrove yang ditanam membentuk tulisan G20 di Tol Bali Mandara, kini tampak gersang dan mati

 

 

BALIEXPRESS.ID - Ribuan tanaman mangrove yang ditanam membentuk tulisan G20 di Tol Bali Mandara, kini tampak gersang dan mati.

Tanaman tersebut awalnya ditanam untuk mempercantik kawasan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tahun 2022 lalu.

Kepala UPT Tahura Ngurah Rai, Ketut Subandi, menjelaskan dalam rangka penyelenggaraan G20, mangrove ditanam agar pemandangan tol tidak kering dari pengelola Bali Tol menginisiasi untuk melakukan penghijauan.

Baca Juga: Masalah Mental Health Semakin Serius, RSUD Singasana di Desa Nyitdah Bissa Tangani 100 Kasus Per Bulan

Menurutnya, penyebab matinya mangrove bukan karena kurangnya perawatan, melainkan karena lokasi yang tidak sesuai untuk penanaman.

Pasang surut air laut dan serangan hama tritip menghambat pertumbuhan, ditambah media tanam yang tidak cocok di tengah laut, sehingga sejak awal diprediksi mangrove tidak akan bertahan lama.

Pihaknya menambahkan, sejak awal lokasi penanaman mangrove membentuk tulisan G20 dianggap tidak sesuai karena berada di tata ruang laut.

Baca Juga: Dugaan Malpraktek Keliru Beri Obat, Dokter Perempuan asal Kalteng Mulai Disidang di PN Denpasar

Namun, penanaman tetap dilakukan demi menampilkan yang terbaik bagi delegasi dan tamu negara saat KTT G20.

"Dalam tulisan G20 ditaruh tulisan dari bibit mangrove metode itu coba melawan alam. Ditanam di sana jaringnya dipasang menghambat serangan kerang, hama tritip. Dipasang bambunya menjaga arus ombak. Penanaman awal bagus sudah dilakukan pemeliharaan ada yang mati diganti. Pelaksana lapangannya bagus itu,” ungkapnya, Selasa (22/10).

Penanaman mangrove menggunakan metode guludan dan pemeliharaan yang berbeda dari cara konvensional.

Baca Juga: Tips Atasi Silau Saat Berkendara di malam Hari, Untuk Keselamatan Berlalu Lintas

Subandi hanya memberikan saran kepada Bali Tol untuk merealisasikannya.

Meskipun terlihat indah, penanaman ini memerlukan upaya besar karena media tanam yang salah, dengan biaya dan perawatan yang sangat mahal.

”Berat sekali, sangat dipaksakan, biayanya mahal. Buang-buang uang. Itu tata ruang laut dipaksakan G20 kemarin menampilkan ikon tema mangrove,” tuturnya.

Baca Juga: Buntut Kasus Penyiraman Air Keras, Polisi Dalami Laporan Pencemaran Nama Baik Korban

Namun, di sisi lain, penanaman mangrove saat G20 ada yang berhasil.

Seperti di pinggir lokasi tersebut tumbuh hijau karena ditanam lebih tinggi.

Lebih lanjut pihaknya menyarankan untuk tidak melanjutkan menanam daripada susah hidup karena medianya tidak sesuai.

Baca Juga: WOW! Panen Melimpah, Harga Kopi Robusta di Tabanan Tetap Stabil: Buruan Cek Harganya!

Sebab, jika dilanjutkan biayanya tidak murah. ”Filosofi tanaman tumbuh di tempat tumbuhnya jika tempat tumbuh tidak memenuhi syarat kita paksakan kita dengan metode tapi gagal. Terkesan terbengkalai karena berat melawan alam,” katanya.(***)

Editor : Rika Riyanti
#bali #mangrove #Tahura Ngurah Rai #g20