SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pelabuhan Tua Buleleng yang berlokasi di wilayah utara Bali adalah tempat yang strategis. Pelabuhan yang konon disebut-sebut sebagai pelabuhan pertama di Bali itu segaris lurus dengan wajah pusat Kota Singaraja. Pelabuhan itu menjadi pusat bertemunya para saudagar kapal besar yang berlayar membawa barang-barang yang menjadi komoditas dagang. Bila dibayangkan, tentu saja kondisi pelabuhan sungguh ramai.
Pelabuhan Tua Buleleng dulu juga disebut Pabean Buleleng. Pabean Buleleng adalah pelabuhan laut tua di pesisir utara Bali yang mencerminkan pentingnya posisi geografis pulau ini dalam jaringan perdagangan maritim internasional sejak awal Masehi. Letaknya yang berada di Jalur Sutra maritim membuatnya berperan penting dalam menghubungkan Bali dengan pedagang dari Timur dan Barat.
Pun demikian, tidak banyak catatan yang menceritakan tentang pelabuhan ini. Salah satu catatan yang membahas mengenai Pelabuhan Tua Buleleng adalah kisah perbudakan yang dilakukan Raja Buleleng. Pada tahun 1800-an, Raja Buleleng kala itu terlibat dalam perdagangan budak. Banyak anak-anak yang diperdagangkan kepada orang asing yang menjadi koleganya untuk dijadikan budak.
Pada tahun itu, perdagangan budak sangat lumrah. Bahkan tidak hanya Raja Buleleng saja yang melakukan. Wilayah lain juga melakukannya. Bahkan ada pula anak Papua yang dijadikan budak ke Inggris pada jaman itu.
Menurut catatan Filolog Bali, Sugi Lanus, budak Papua itu dipanggil Dick. Dan budak itu diberikan kepada Sir Thomas Stamford Raffles – seorang negarawan berkebangsaan Inggris yang kemudian menjadi Gubernur Hindia-Belanda pada masa itu.
Dikatakan Raffles menerima surat dari Raja Buleleng. Surat itu dikirim pada tahun 1226 hijriah. Dalam surat itu Raja Buleleng menghadiahkan Raffles seorang budak kecil bernama Ketut Jubeleng. “Jika tidak salah saya mengonversikan, itu sekitar tahun 1811 Masehi. Dan bila waktunya bertanggal sehari bulan safar, berarti Minggu 24 Februari 1811,” tulis Sugi Lanus dalam sebuah catatannya pada 7 Oktober 2020.
Ketut Jubeleng diberangkatkan dari Pelabuhan Tua Buleleng dengan menaiki kapal menuju Batavia (sekarang bernama Jakarta). Budak kecil yang diperkirakan berusia 5 tahun itu berangkat bersama Raffless serta surat yang telah ditandatangani oleh Raja Buleleng.
Menurut catatan ekspedisi Belanda oleh Willem Lodewijcksz pada tahun 1598, sudah dikenal sejak sebelum berdirinya Kerajaan Buleleng dan sebelum kepemimpinan Ki Panji Sakti pada abad ke-17. Ini menandakan bahwa Buleleng bukan hanya sebuah pelabuhan, tetapi bagian dari jaringan global yang melintasi Asia Tenggara. Posisi strategis ini, lantas menarik minat Raffles untuk mengembangkan pelabuhan menjadi lebih besar dan modern.
Koordinator Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng, Amoeng A. Rachman menguraikan, pada abad ke-18 dan 19, ketika komoditas seperti budak dan opium mendominasi perdagangan, kerajaan-kerajaan di Bali, termasuk Buleleng, menjadikan keduanya sebagai sumber pendapatan. Thomas Stamford Raffles, Gubernur Hindia Belanda (1811–1816), berusaha membangun relasi dengan Raja Buleleng, bahkan menerima budak dan kuda sebagai hadiah. Hal ini mencerminkan penerimaan Buleleng terhadap norma perdagangan kolonial pada saat itu, termasuk komoditas yang saat ini dianggap bermasalah secara etis, seperti perbudakan.
Keinginan Raffles untuk menjadikan Buleleng sebagai pusat pelabuhan internasional yang akan dinamakan Singapura, menunjukkan pandangannya terhadap potensi strategis pelabuhan tersebut. Namun, rencana ini berhadapan dengan ketidakcocokan pandangan yang mendasar. Raffles menentang perdagangan budak, sementara bagi Raja Buleleng, ini adalah sumber utama pendapatan. Selain perbedaan ideologis, ambisi Raffles juga terganjal oleh bencana besar, termasuk letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 dan gempa yang menghancurkan Buleleng pada akhir tahun yang sama.
“Ini menunjukkan bahwa faktor alam menjadi kendala nyata dalam pengembangan kawasan dan menjadi alasan kuat yang memengaruhi arah sejarah Bali,” paparnya.
Di sisi lain, Inggris menghadapi kendala politik dalam bentuk persaingan dengan Belanda, yang tidak menginginkan keterlibatan Inggris di kawasan ini. Dengan demikian, upaya Raffles menjadi contoh bahwa ambisi kolonial sering kali tidak memperhitungkan dampak sosial dan budaya terhadap komunitas lokal. Persaingan antar-negara kolonial juga seringkali menghalangi pengembangan yang berkelanjutan dan menguntungkan bagi wilayah lokal.
Catatan lain tentang nama Singapura juga muncul dalam Babad Puri Andul Jembrana. Tidak ada yang tahu persis tahun munculnya Babad Puri Andul itu. Hanya saja kala itu pemerintahan Hindia-Belanda di Bali sudah surut, namun dalam babad itu dikatakan masih menyebut Singaraja dengan nama Singapura.
Selain catatan, kesaksian almarhum Anak Agung Ngurah Sentanu (putra Raja Buleleng Terakhir, Anak Agung Panji Tisna), menyebutkan bahwa keluarga Kerajaan Buleleng pernah mendapatkan sebuah undangan ke Singapura yang ada di Buleleng.
Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya, kegagalan upaya Raffles menunjukkan batas kekuatan kolonial, yang terhalang oleh ketidaksepakatan dengan penguasa lokal, serta oleh tantangan geografis dan geologis yang tak dapat diabaikan. Seandainya Singapura berdiri di Buleleng, sejarah perdagangan dunia bisa saja berbeda.
“Nama Singaraja konon tidak diterima oleh masyarakat karena tidak populer. Yang diterima adalah nama Singaraja. Itu ditulis oleh Bill Dalton dalam bukunya berjudul Bali Handbook,” tutup Amoeng A. Rachman. ***
Editor : Dian Suryantini