SINGARAJA, BALI EXPRESS – Gubernur Bali, Wayan Koster, menyebutkan bahwa alih fungsi lahan di Bali semakin tinggi, khususnya pada lahan-lahan produktif. Menurutnya, peralihan fungsi lahan yang tidak terkendali dapat berdampak pada krisis pangan di masa depan, sehingga perlu penanganan serius.
Koster menegaskan bahwa Bali, yang dikenal dengan sektor pertanian dan perkebunannya, menghadapi tantangan besar terkait alih fungsi lahan. Sebagian besar lahan yang seharusnya digunakan untuk produksi pangan kini beralih menjadi lahan untuk pembangunan infrastruktur, wisata, dan pemukiman.
"Alih fungsi lahan produktif menjadi lahan non-pertanian harus segera ditangani agar ketersediaan pangan di Bali tetap terjaga," ujar Koster Rabu (6/11) pagi.
Dalam hal ketahanan pangan, Koster mengungkapkan bahwa kebutuhan pangan Bali sangat bergantung pada hasil pertanian yang berasal dari empat wilayah utama, yakni Tabanan, Badung, Gianyar, dan Buleleng. Keempat wilayah ini dikenal sebagai lumbung pangan bagi Bali, di mana sebagian besar produksi beras, sayur, dan buah-buahan dipasok untuk memenuhi kebutuhan lokal.
Baca Juga: Tak Hanya Pariwisata, Koster Siapkan Enam Sektor Ekonomi untuk Masa Depan Bali
"Alih fungsi lahan yang terjadi di wilayah-wilayah tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus, karena dapat memengaruhi ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat Bali," tambah Koster.
Gubernur Bali tersebut juga menyampaikan bahwa pihaknya akan berupaya memperkuat kebijakan perlindungan lahan pertanian dan memperbaiki pengelolaan ruang di Bali agar lahan produktif tetap dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian dan ketahanan pangan.
Alih fungsi lahan yang berkelanjutan, tambah Koster, juga bisa berdampak pada lingkungan, mengingat banyaknya lahan pertanian yang hilang, sementara pembangunan yang pesat justru mengancam keseimbangan ekosistem Bali.
Dalam upaya mendukung ketahanan pangan, Koster berharap agar masyarakat, pemangku kepentingan, dan pemerintah daerah dapat bekerja sama menjaga keberlanjutan lahan produktif demi masa depan Bali yang lebih sejahtera dan aman pangan. ***
Editor : Dian Suryantini