Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ambengan Menuju Desa Mandiri Pangan, Pertanian Organik Jadi Solusi Ketahanan Pangan dan Kelestarian Lingkungan

Dian Suryantini • Kamis, 7 November 2024 | 21:00 WIB

 

Panen padi organik di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Panen padi organik di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pemerintah Desa Ambengan di Kecamatan Sukasada, Buleleng, tengah menggalakkan pertanian organik sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Program ini akan resmi diluncurkan pada awal 2025 dan bertujuan untuk memproduksi pangan yang sehat, berkualitas, serta bebas dari bahan kimia berbahaya.

Perbekel Desa Ambengan, Nyoman Seri, pada Selasa (5/11) menjelaskan bahwa inisiatif ini sejalan dengan komitmen desa dalam mendukung ekonomi hijau.

“Kami ingin memastikan tanah kembali subur, sehingga mikroorganisme dapat hidup dan berkembang dengan baik. Dengan begitu, lahan tidak mudah dialihfungsikan, dan hasil panen akan tetap stabil di tengah permintaan yang terus meningkat,” ungkapnya.

Desa Ambengan memiliki lahan sawah seluas 26 hektare yang terbagi dalam tiga subak utama, Subak Lawas, Subak Anyar, dan Subak Gede. Program ini diharapkan dapat menjaga produksi pertanian agar tetap tinggi sekaligus mengatasi ancaman perubahan fungsi lahan yang berpotensi menurunkan hasil panen secara signifikan.

Baca Juga: Hasil Panen dan Lahan Produksi Cabai di Buleleng Barat Menyusut, Diduga Karena Faktor Ini

Langkah konkret Pemdes Ambengan terlihat sejak tahun lalu melalui uji coba penggunaan pupuk organik pada demplot. Dengan dukungan Ikatan Pengusaha Muda Pribumi Indonesia (IP), pupuk organik diuji pada lahan dengan kelembaban tinggi dan pH tanah yang kurang ideal. Hasilnya, para petani melaporkan peningkatan hasil panen yang signifikan dan tanaman padi yang lebih sehat.

Melihat keberhasilan ini, Pemdes berencana mengalokasikan 30 persen dari anggaran ketahanan pangan desa pada 2025 untuk menyediakan pupuk organik dan bibit unggul kepada petani.

“Kami akan mendistribusikan bibit dan pupuk untuk membantu menekan biaya pengelolaan lahan, sehingga kesejahteraan petani meningkat,” tambah Nyoman Seri.

Ambisi Pemdes Ambengan untuk mempertahankan lahan pertanian dari ancaman alih fungsi dan menciptakan produk pangan sehat mendapat dukungan kuat dari masyarakat. Diharapkan program ini dapat menjadi inspirasi bagi desa lain dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus melestarikan lingkungan.

Komang Sumerta, salah seorang petani lokal berusia 55 tahun, merasakan manfaat besar dari uji coba ini. Sebelum menggunakan pupuk organik, hasil panennya seringkali rendah.

Baca Juga: Sejarah Desa Ambengan di Bali: Berkaitan dengan Tragedi Danau Tamblingan yang Merenggut 1.252 Nyawa

Kini, dengan pendekatan baru, penghasilannya meningkat dua kali lipat, mencapai Rp 13 juta per musim tanam. Selain itu, ia mencatat bahwa tanaman padinya lebih tahan terhadap penyakit dan tumbuh subur tanpa daun yang menguning.

Program ini membawa harapan besar bagi warga desa dan petani. Namun, tantangan untuk menjaga komitmen para petani dalam praktik organik perlu menjadi perhatian.

Pemdes diharapkan dapat konsisten dalam menyediakan sarana produksi dan edukasi pertanian berkelanjutan, agar program ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat Ambengan. ***

Editor : Dian Suryantini
#Padi Organik #ketahanan pangan #sukasada #ambengan #buleleng