Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Siobak, Kuliner Akulturasi Bali dan China di Buleleng, Diciptakan Tan Khe Lok sejak 1963

I Putu Mardika • Rabu, 13 November 2024 | 03:25 WIB

Siobak Khe Lok di Jalan Surapati Singaraja yang sudah legend sejak 1963 yang diciptakan oleh Almarhum Tan Khe Lok
Siobak Khe Lok di Jalan Surapati Singaraja yang sudah legend sejak 1963 yang diciptakan oleh Almarhum Tan Khe Lok
BALI EXPRESS.ID-Berwisata ke daerah Buleleng terasa kurang lengkap tanpa mencicipi kuliner khas setempat yang muncul sebagai bentuk akulturasi budaya Bali denga  China yakni Siobak. Makanan legendaris ini bahkan diyakini sudah ada sejak tahun 1963. Seperti apa sejarahnya?

Hidangan berbahan dasar daging babi ini diolah secara tradisional dan disajikan dengan kuah coklat kental yang memiliki cita rasa manis dan gurih. Tak lupa, pelengkap seperti kerupuk babi, acar timun, dan cabai segar turut menemani.

Seiring waktu, muncul varian siobak berbahan daging ayam yang dikenal sebagai sioke. Meskipun berbeda bahan utama, siobak dan sioke tetap mempertahankan kelezatan kuah kental serta pelengkap yang sama, menjadikannya bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.

Cita rasa siobak yang khas ini sudah dinikmati masyarakat Singaraja sejak 1963. Banyak yang meyakini jika keberadaan kuliner ini erat kaitannya dengan akulturasi budaya China dan Bali.

Bahkan, Tidak ada catatan tertulis, namun cerita turun-temurun memperkuat bahwa siobak adalah warisan kuliner hasil percampuran budaya China dan Bali.

Kuliner khas ini menjadi bukti keragaman budaya dan patut dicicipi bagi siapa saja yang berkunjung ke Singaraja, Bali Utara.

Ciri khas akulturasi budaya kuliner China bisa dilihat dari bumbu yang dituang saat penyajian siobak. Bumbu tersebut memiliki cita rasa khas yang berasal dari bahan yang disebut ngo hiong.

Ngo hiong atau yang sering disebut bubuk lima rempah merupakan hasil percampuran dari lima jenis rempah-rempah yang memiliki cita rasa tersendiri berupa cita rasa manis, asam, pahit, pedas, dan asin.

Bumbu ini sangat populer dan banyak digunakan pada masakan atau kuliner khas China atau Tionghoa.

Penggunaan bumbu ini pada siobak yang membuat rasa siobak menjadi semakin khas seperti masakan dari negeri China atau Tionghoa.

Saat ini, kita akan mudah menemukan pedagang siobak maupun sioke di sepanjang jalanan kota.

Namun, jika ingin mencari yang paling terkenal dan sudah ‘legend’nya di Singaraja, maka kita bisa mengunjungi warung yang bernama Warung Siobak Khe Lok yang beralamat di Jalan Surapati No. 66 Singaraja, Bali.

Warung Siobak Khe Lok ini sudah berdiri sejak tahun 1963. Bahkan saking terkenalnya, tiap kali mendengar kata siobak pasti yang terlintas di pikiran masyarakat Singaraja adalah sudah pasti Siobak Khe Lok ini.

Baca Juga: 8 Fakta di Balik Duka di Industri Hiburan Korea: Aktor Song Jae Rim Ditemukan Meninggal Dunia di Apartemennya, Surat Dua Halaman Picu Misteri

Nama Khe Lok adalah sosok pencipta dari kuliner Siobak ini. Almarhum Tan Khe Lok, seorang warga keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Buleleng.

Racikan khasnya telah memikat para penikmat kuliner sejak tahun 1963, membuat nama “Siobak Babi Khe Lok” identik dengan cita rasa siobak khas Bali Utara.

Ketut Antara, putra Almarhum Tan Khe Lok, menceritakan bahwa sang ayah memulai usaha siobak pada 1963 dengan bahan dasar daging babi yang diolah menggunakan ramuan khas bernama “Loh Yang.”

Kuah siobak dibuat dari campuran kecap manis dan asin, dengan kaldu yang diperoleh dari tulang kepala babi. Bumbu khasnya juga menggunakan tauco dan cabai kecil, serta tepung maizena untuk menghasilkan tekstur yang kental.

Siobak disajikan dengan potongan daging babi, gorengan “Loh Yang,” ati, kulit, serta jeroan, ditambah acar mentimun dan cabai bagi penikmat pedas.

Selepas wafatnya Tan Khe Lok pada 1971, Antara dan keluarganya meneruskan warisan kuliner ini, menjaga resep asli yang telah diajarkan almarhum. Untuk menghormati dan mengabadikan pencipta resep, Antara kini mengusulkan hak paten atas nama “Siobak Babi Khe Lok.”

“Kami merasa ini sudah takdir, menjalankan usaha siobak yang diwariskan almarhum,” ungkap Antara. Saat ini, keluarga Antara mengembangkan usaha kuliner ini dengan cabang-cabang di Singaraja, Denpasar, dan Seririt.

Setiap cabang mempertahankan cita rasa yang diwariskan oleh almarhum, menjaga keunikan Siobak Babi Khe Lok agar tetap menjadi kebanggaan kuliner Bali Utara. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #babi #china #Khe Lok #kuliner #siobak #buleleng