Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Pura Tanah Lot Bali: Legenda Dang Hyang Nirartha dan Kekuatan Spiritual yang Mengubah Tanah Beraban

Putu Resa Kertawedangga • Rabu, 13 November 2024 | 20:37 WIB

Pura Tanah Lot di Kabupaten Tabanan, Bali, yang didirikan oleh Dang Hyang Nirartha.
Pura Tanah Lot di Kabupaten Tabanan, Bali, yang didirikan oleh Dang Hyang Nirartha.

BALIEXPRESS.ID - Pura Tanah Lot yang berada di Kabupaten Tabanan, Bali tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena kisah sejarah dan spiritual yang melatarbelakanginya.

Pada abad ke-15, seorang pendeta Hindu dari Pulau Jawa, yakni Bhagawan Dang Hyang Nirartha, datang ke Bali untuk menyebarkan agama Hindu.

Kedatangan beliau disambut baik oleh Raja Dalem Waturenggong, yang mendukung misi penyebaran agama Hindu di seluruh pulau Bali.

Baca Juga: Pemkab Klungkung Berikan TPP ASN 100 Persen di Tahun 2025, Ini Harapan Pj Bupati Jendrika

Suatu hari dalam perjalanannya, Dang Hyang Nirartha melihat sebuah sinar suci dari arah Laut Selatan Bali.

Cahaya itu membawanya ke sebuah pantai di Desa Beraban, Tabanan, yang saat itu dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, seorang pemimpin yang menganut aliran monotheisme dan menentang ajaran Hindu.

Meski demikian, Dang Hyang Nirartha tetap bertahan, melakukan meditasi di atas sebuah batu karang besar yang menyerupai burung beo.

Baca Juga: Petani Karangasem Minta Perlindungan Hukum ke DPD RI Terkait Kasus Sengketa Tanah

Berdasarkan legendanya, Pura Tanah Lot yang kini berada ditengah laut ternyata berawal dari kekuatan spiritualnya yang luar biasa dari Dang Hyang Nirartha.

Beliau mampu memindahkan batu karang tersebut ke tengah laut, menjadikannya sebuah pulau kecil yang dikenal dengan nama Tanah Lot, yang berarti "batu karang di tengah lautan".

Keajaiban ini membuat seluruh penduduk desa Beraban terkejut dan akhirnya mengakui kesaktian Dang Hyang Nirartha.

Baca Juga: Denny Sumargo Minta Maaf ke Komunitas Bugis-Makassar, Isu Ujaran Kebencian Berakhir Damai

Mereka pun memutuskan untuk mengikuti ajaran Hindu yang dibawa oleh beliau.

Sehingga Bendesa Beraban Sakti bersama penduduk desa akhirnya memeluk agama Hindu.

Pura Tanah Lot kemudian dibangun oleh Dang Hyang Nirartha sebagai tempat untuk menyembah Bhatara Segara, sebagai simbol penghormatan kepada kekuatan alam dan laut yang mengelilinginya.

Untuk melindungi kuil dari gangguan jahat, konon Dang Hyang Nirartha menciptakan seekor ular laut berbisa dengan kekuatan selendangnya.

Ular ini diyakini hidup di dasar Tanah Lot, menjaga kuil dari ancaman apapun.

Selain itu, sebelum meninggalkan desa Beraban, Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban.

Keris ini dipercaya memiliki kekuatan untuk menghilangkan penyakit tanaman.

Keris tersebut pun kini disimpan di Puri Kediri, dan setiap enam bulan sekali, diadakan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot untuk menghormati keris dan berkah yang dibawanya.

Sejak saat itu, desa Beraban mengalami peningkatan kesejahteraan yang signifikan, dengan hasil panen yang melimpah dan kehidupan yang penuh kedamaian.

Kini, Pura Tanah Lot tidak hanya menjadi tempat ibadah yang sakral, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata utama di Bali, dengan menyimpan kisah spiritual yang menghubungkan manusia dengan kekuatan alam dan Tuhan.

Pura ini mengajarkan nilai-nilai keharmonisan, penghormatan terhadap alam, dan kekuatan doa serta spiritualitas. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#bali #Dang Hyang Nirartha #sejarah #tanah lot #tabanan