BALIEXPRESS.ID-Tak hanya Niluh Djelantik, anggota DPR RI Dapil Bali Nyoman Parta pun ikut buka suara terkait viralnya video tiket masuk mahal ke Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo, Jawa Timur.
Melalui akun media sosial pribadinya, Nyoman Parta menyebut bahwa banyak mendapat aduan terkait video viral keluhan umat Hindu dari Bali itu.
Baca Juga: Buruh Proyek Ngamuk Bawa Pisau Kejar Teman-Teman di Badung, Berujung Dilawan dan Dibacok
Usai mencari tahu, rupanya tarif tiket masuk itu telah diatur dalam peraturan pemerintah nomor 36 tahun 2024 tentang jenis dan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak (pnbp) yang berlaku pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Lebih jauh, Nyoman Parta menyebut apapun alasannya, masuk ke tempat ibadah untuk tujuan sembahyang tidak boleh ada pungutan apapun.
“Namun apapun alasannya masuk ke tempat ibadah dengan tujuan sembahyang tidak boleh ada pungutan apapun,” jelasnya.
Pihaknya pun akan berkomunikasi dengan pihak Kementrian Lingkuhan Hidup dan Kementrian Kehutanan serta pengelola setempat.
Baca Juga: Niluh Djelantik Kritik Kenaikan Tiket Masuk Pura Luhur Giri Salaka, Minta Umat Hindu Tak Dibebani
“Kita segera akan lakukan komunikasi agar ada diskresi masuk ke tempat ibadah tidak boleh dilakukan pungutan,” jelasnya.
Sebelumnya, viral di media sosial keluhan umat Hindu membayar tiket masuk yang cukup tinggi saat bersembahyang ke Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo, Jawa Timur.
Dalam video yang dibagikan oleh akun Tiktok @Hinduchannel, terlihat rombongan Umat Hindu dari Singaraja, Bali melakukan tirta yatra ke Pura Luhur Giri Salak.
Terlihat dalam video, seorang Pemangku menanyakan pendapat Umat yang tangkil terkait kenaikan retribusi masuk pura.
Sebelumnya, tiket masuk yang dikenakan kepada Umat Hindu yang bersembahyang hanya Rp 5 ribu saja.
Namun sejak ada peraturan pemerintah yang baru, tike masuk naik menjadi Rp 20 ribu untuk hari biasa sedang Rp 30 ribu untuk hari libur atau weekend.
“Kalau kemarin retribusi kita hanya Rp 5 ribu kita masih memaklumi untuk orang sembahyang, tetapi ketika ada peraturan pemerintah retribusi sekrang menjadi 20 ribu dan 30 ribu untuk hari Minggu,” jelas seorang pemangku kepada pemedek Hindu dari Bali dikutip dalam video Jumat (15/11/2024).
“Bagaimana perasaan panjenengan semua terhadap kenaikan biaya seperti itu?”tanya seorang pemangku.
Mendapat pertanyaan seperti itu, seorang ibu-ibu perwakilan dari rombongan tirta yatra itu pun mengaku tiket masuk yang dikenakan di rasa sangat berat.
Pihaknya berharap agar pemerintah membedakan antara tiket masuk untuk orang yang ingin berwisata dan orang yang bertujuan untuk sembahyang.
Editor : Wiwin Meliana