Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Kalibukbuk: Dari Kerajaan Tanah Gesar Hingga Serangan Ikan Banu

Wiwin Meliana • Sabtu, 16 November 2024 | 16:04 WIB

Sejarah desa Kalibukbuk, di Buleleng
Sejarah desa Kalibukbuk, di Buleleng

BALIEXPRESS.ID-Desa Kalibukbuk, yang terletak di kawasan Bali Utara, memiliki sejarah yang kaya dan penuh makna, yang terikat dengan kisah kerajaan kecil bernama Tanah Gesar.

Menurut cerita yang diturunkan oleh orang tua setempat, dahulu kala, Tanah Gesar dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Sebagian besar rakyat kerajaan ini bermata pencaharian sebagai nelayan, yang setiap hari pergi melaut untuk mencari ikan, baik siang maupun malam. Kehidupan masyarakat kerajaan ini sangat sejahtera dan damai.

Baca Juga: Pesona Mistis Bali dan Keajaiban Tukad Campuhan Pakerisan: Patung Dewa Siwa hingga Penjaga Gaib di Sungai Suci

Namun, kedamaian itu terganggu oleh musibah yang menimpa kerajaan. Para nelayan mulai ketakutan untuk pergi melaut, karena di laut terdapat ikan-ikan ganas dengan paruh lancip yang siap menyerang dan membunuh siapa saja yang mendekat.

Musibah ini membuat kerajaan terhantam kesulitan, dan berbagai upaya untuk mengalahkan ikan-ikan banu tersebut tak membuahkan hasil. Sang raja pun merasa kebingungan dan memutuskan untuk mengadakan sayembara, dengan hadiah wilayah kerajaan bagi siapa pun yang dapat mengalahkan ikan-ikan tersebut.

Sayembara ini menarik banyak peserta, namun tak ada satu pun yang berhasil. Hingga suatu hari, seorang anak kecil yang berpakaian kumal datang menghadap sang raja.

Meski awalnya ragu, raja akhirnya menerima saran dari anak tersebut untuk membuat api unggun memanjang yang dikelilingi oleh klopak batang pisang.

Rakyat diminta untuk bersorak sorai dan menantang ikan-ikan banu itu. Ternyata, strategi ini berhasil. Ikan-ikan banu itu terpancing, menyerang rakyat, dan akhirnya terperangkap dan terbakar dalam api unggun tersebut.

Baca Juga: Menghebohkan! Inul Daratista Absen dari Layar Televisi, Ternyata Ini Penyebabnya

Keberhasilan anak kecil ini membuat rakyat dan raja bersuka cita. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Setelah kerajaan aman, sang raja yang tadinya berterima kasih, malah timbul niat serakah untuk tidak memenuhi janjinya kepada anak tersebut. Ia berniat untuk membunuh anak itu dengan cara yang kejam.

Ketika abdi kerajaan diperintahkan untuk mencincang tubuh anak itu, keajaiban terjadi. Semut-semut datang mengerumuni tubuh anak tersebut, dan semakin lama semakin banyak, hingga membentuk tumpukan setinggi gunung. Semut-semut itu seolah meratapi kematian sang anak.

Melihat fenomena aneh tersebut, sang raja ketakutan dan melarikan diri ke arah selatan dan timur, meninggalkan kerajaan dan rakyatnya.

 Pada saat itulah, sang raja menyadari kesalahannya, dan merasa bingung dengan tindakan ambisius yang telah dilakukannya. Dalam kebingungannya, raja pun memutuskan untuk mengganti nama kerajaan Tanah Gesar menjadi Kalibukbuk.

Baca Juga: Kejutan Investasi Rp 48,8 Triliun untuk Bandara Baru di Bali Utara: Ini Pesan Mangku Pastika

Nama ini memiliki makna mendalam: "Kali" berasal dari kata "Kala" yang berarti waktu, dan "Bukbuk" berasal dari "Ibuk" yang berarti kebingungan. Nama Kalibukbuk pun mencerminkan perasaan kebingungan sang raja yang disebabkan oleh ambisinya sendiri.

Sejarah ini hingga kini masih dikenang oleh masyarakat Desa Kalibukbuk, dan semakin diperkuat dengan penemuan berbagai benda prasejarah di wilayah ini, seperti Pura Dalem Panji, situs Buddha, dan benda-benda purbakala lainnya.

Keberadaan situs-situs bersejarah ini menjadi bukti nyata dari warisan budaya yang dimiliki oleh desa ini, yang tak hanya memiliki sejarah yang kaya, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

 

Editor : Wiwin Meliana
#kalibukbuk #sejarah #desa #buleleng