BALIEXPRESS.ID-Pulau Bali, yang terletak di kawasan rawan gempa bumi dan tsunami, memiliki tiga sumber gempa utama yang dapat menimbulkan ancaman bencana.
Tiga sumber gempa tersebut berasal dari Megathrust Sumba di perairan selatan Bali, Busur Naik Belakang Flores di bagian utara, serta 30 sesar aktif yang ada di daratan Bali. Kondisi ini menjadikan Bali sebagai wilayah yang sangat rentan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami.
Baca Juga: Ini Penjelasan BMKG Soal Fenomena ‘Awan Kinton’ yang Turun di Wilayah Kalimantan
Untuk menghadapinya, perlu adanya upaya mitigasi yang melibatkan berbagai pihak. Salah satu pendekatan penting yang sedang dijalankan adalah melalui program Tsunami Ready Community (Komunitas Siaga Tsunami).
Program ini bertujuan untuk membentuk komunitas yang siap menghadapi ancaman tsunami, guna mengurangi dampak bencana serta meminimalkan korban jiwa dan kerugian ekonomi.
Pada tahun 2022, Desa Tanjung Benoa di Kabupaten Badung menjadi desa pertama di Indonesia yang berhasil dikukuhkan sebagai Tsunami Ready Community oleh UNESCO.
Keberhasilan ini diraih berkat kerjasama yang solid antara Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III, Stasiun Geofisika Denpasar, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Badung, dan berbagai pihak terkait lainnya. Desa Tanjung Benoa telah berhasil memenuhi 12 indikator yang ditetapkan dalam program Tsunami Ready Community, yang mencakup kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi tsunami.
Tidak hanya Tanjung Benoa, desa lainnya di Bali, yaitu Desa Pengastulan di Kabupaten Buleleng, juga berhasil meraih pengakuan serupa pada tahun 2023.
Baca Juga: Apa Itu Awan Kinton? Fenomena Awan Turun dari Langit Hebohkan Netizen
Dengan pencapaian ini, Bali semakin memperlihatkan komitmennya dalam membangun komunitas yang tangguh dan siap menghadapi ancaman bencana alam.
Pada tahun 2024, bertepatan dengan The 2nd UNESCO-IOC Global Tsunami Symposium yang diselenggarakan di Banda Aceh untuk memperingati 20 tahun tsunami Aceh, Desa Tanjung Benoa dan Desa Pengastulan mendapat undangan khusus untuk hadir dan berbagi pengalaman sebagai komunitas yang telah sukses menjalankan program Tsunami Ready Community.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Tanjung Benoa, Dr. I Wayan Deddy Sumantra, S.Sn., M.Si., bersama Sekretaris Desa Pengastulan, Muhammad Ali, turut hadir mewakili desa mereka. Dr. Deddy Sumantra menyampaikan bahwa pengakuan sebagai Tsunami Ready Community harus terus dipertahankan melalui upaya mitigasi kebencanaan yang berkelanjutan.
Ia juga berbagi pengalaman mengenai dampak positif program ini terhadap sektor pariwisata di Tanjung Benoa.
Menurutnya, pengakuan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman tsunami, tetapi juga memberi dampak positif dalam meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap keamanan destinasi wisata Bali.
Baca Juga: Dari Bali Utara ke Panggung Nasional, Desa Les Dinobatkan Sebagai Desa Wisata Terbaik Indonesia 2024
Keberhasilan Desa Tanjung Benoa dan Desa Pengastulan mendapatkan pengakuan dari UNESCO menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara berbagai pihak—termasuk BMKG, pemerintah daerah, BPBD, masyarakat, dan sektor swasta—dapat mewujudkan tujuan besar untuk mencapai Zero Victim atau tidak ada korban jiwa dalam bencana alam.
Melalui kesiapsiagaan yang matang, masyarakat dapat menghadapi ancaman bencana dengan lebih tenang dan terorganisir, sehingga dampaknya bisa diminimalkan.
Pengakuan internasional terhadap dua desa ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia, khususnya di Bali, untuk mengikuti jejak mereka dalam membentuk komunitas yang siaga bencana.
Upaya ini juga merupakan bagian dari strategi mitigasi bencana yang lebih luas di Bali, yang bertujuan untuk melindungi warganya serta menjaga sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian pulau ini.
Editor : Wiwin Meliana