BALIEXPRESS.ID-Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) wilayah III Denpasar menyebut jika fenomena udara kabur di Bali terjadi karena kabur Adveksi.
Fenomena ini sempat menggegerkan warganet di media sosial dan memunculkan beragam spekulasi.
Lalu ap aitu kabut Adveksi?
Dikutip dari berbagai sumber, kabut adveksi adalah kabut yang terbentuk saat udara yang hangat dan lembab melewati permukaan yang sejuk.
Proses ini dinamakan adveksi. Biasanya, terjadi pada tempat di mana udara hangat tropis bertemu dengan air laut yang lebih dingin.
Pergerakan udara yang membentuk kabut adveksi tidak naik dan tidak turun.
Pembentukan kabut adveksi dapat memanfaatkan salah satu dari dua jenis udara, yaitu udara dingin atau udara lembab panas.
Kabut adveksi sering terjadi di daerah-daerah yang berdekatan dengan sumber air, seperti pantai atau danau.
Udara lembap yang datang dari sumber air punya potensi membentuk kabut saat bersentuhan dengan permukaan dingin.
Proses ini melibatkan banyak faktor, mulai dari faktor suhu, kelembapan, dan faktor topografi lingkungan.
Baca Juga: HEBOH! Fenomena Langit Berkabut di Bali Gegerkan Warganet, Beragam Spekulasi Bermunculan
Fenomena alam kabut adveksi diketahui dapat memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan dan kesehatan.
- Dampak pada kesehatan: Kabut adveksi dapat menyebabkan masalah batuk dan pilek, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan. Kabut adveksi juga dapat mengandung partikel-partikel polutan.
- Dampak pada lingkungan: Kabut adveksi dapat berkontribusi pada pertumbuhan lumut dan ganggang.
- Dampak pada transportasi: Kabut adveksi dapat mengurangi jarak pandang, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan di jalan raya dan keterlambatan atau pembatalan penerbangan.
Sebelumnya, melalui akun media sosialnya, BBMKG menyebut bahwa udara kabur yang saat ini terjadi di langit Bali bukanlah kabut polusi atau pun efek dari letusan Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, NTT.
Dalam keterangannya, BBMKG Denpasar menyebut bahwa udara kabur yang saat ini terjadi di Bali dikarenakan adanya kabut Adveksi.
Kabut adveksi terjadi karena adanya tranfer kelembaban dari wilayah perairan ke wilayah daratan.
“Di mana pada saat pagi hari pancaran sinar matahari membuat daratan mendapat panas lebih cepat dibandingkan permukaan laut,” jelas rilis BBMKG dikutip pada Rabu (27/11/2024).
Lebih lanjut, BBMKG menyebut hal ini menyebabkan tekanan udara di darat menjadi lebih rendah.
Hal inilah yang menyebabkan uap air bergerak ke atas ke permukaan yang lebih dingin lalu mengembun dan terbentuklah udara kabur.
“Berbeda dengan kabut asap yang berbau dan menyengat, kabut adveksi ini tidak memiliki bau,” jelasnya.
Editor : Wiwin Meliana