Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Yang Plastik Jadi Cantik, Yang Organik Kembali ke Organik

Dian Suryantini • Kamis, 28 November 2024 | 23:36 WIB

Produk olahan sampah plastik berupa jam tangan yang dibuat oleh Eka Darmawan bersama Mulya Pradipta.
Produk olahan sampah plastik berupa jam tangan yang dibuat oleh Eka Darmawan bersama Mulya Pradipta.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Deru mesin pencacah memekik dari sebuah ruang. Bersama suara itu, serpihan-serpihan kecil keluar dalam jumlah cukup banyak seakan mesin itu memuntahkan seluruh isinya. Serpihan kecil itu adalah sampah plastik yang telah dipilah.

Mesin sederhana rakitan Putu Eka Darmawan itu berkerja dengan baik. Gigi-gigi mesin melahap setiap plastik. Eka Darmawan adalah pensiunan pekerja kapal pesiar. Usianya masih muda, sekitar 33 tahun. Ia memutuskan untuk berhenti dari kapal pesiar lantaran ingin dekat bersama keluarga kecilnya. Saat di kampung halaman di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng-Bali, ia mencoba untuk mengumpulkan sampah plastik. Gerakannya itu mendapat dukungan dari sang istri dan juga orangtua.

Aksi mengumpulkan sampah yang dilakukan Eka berbeda dengan yang lainnya. Ia bergerak pada bidang pencacahan. Lama bergelut, gerakannya semakin besar. Cacahan sampah plastik itu sempat ia jual hingga ke Cina. “Saya belajar saat kerja di kapal pesiar,” kata Eka, Kamis (28/11).

Pekerjaan mencacah plastik memang sangat jauh berbeda dengan pekerjaan Eka saat menjadi bartender di kapal pesiar. Tapi ia menikmati. Seperti halnya bartender yang melakukan juggling ke botol minuman, kini eka juga melakukan juggling pada botol-botol atau sampah-sampah plastik yang ia cacah. Tempat pencacahannya ia sebut dengan Rumah Plastik. Bukan tanpa alasan, dalam bangunan itu penuh dengan sampah-sampah plastik. Di sisi lain ia juga bercita-cita dapat membuat sebuah rumah dari 90 persen bahan plastik.

Akan tetapi, cita-cita itu masih belum dapat terealisasi. Saat ini Eka dengan Rumah Plastik yang dikelola menelurkan sebuah produk fashion. Tentu saja, produk itu juga berbahan sampah plastik. Sebuah jam tangan elegan berhasil dibuat. Bersama rekannya Mulya Pradipta, produk itu lantas diberi nama Crato. Dua generasi muda masa kini tersebut, membuktikan bahwa sampah bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sesuatu yang bermanfaat.

“Kami ingin dari limbah plastik ini terkelola dengan maksimal. Jika bisa tanpa menyisakan limbah lagi,” kata Eka.

Produk jam tangan ini sepenuhnya digarap oleh Mulia, dengan pasokan bahan baku disokong oleh Eka Darmawan dari Rumah Plastik. Sebuah kolaborasi anak muda yang yang saling menguntungkan. Menguntungkan dari segi bisnis, menguntungkan pula untuk lingkungan.

Di tangan Mulya, cacahan plastik itu diproses menggunakan mesin cetak hingga terbentuklah frame jam tangan yang elegan dan ramah lingkungan. Crato memanfaatkan sampah plastik yang diolah menjadi cacahan kecil, kemudian dilebur dan dijadikan bahan baku untuk printer 3 dimensi. Proses injeksi yang presisi memastikan setiap jam tangan memiliki kualitas terbaik, konsistensi tinggi, dan estetika yang memikat. Untuk memberikan kesan premium, Crato memadukan bahan ramah lingkungan ini dengan stainless steel, menciptakan desain minimalis yang berkelas. 

“Saat ini masih tahap penyempurnaan. Tetap sistemnya pre-order. Produk kami itu segmented. Satu produk butuh 300 gram cacahan plastik PP,” kata Mulya.

Bahan baku yang digunakan untuk membuat jam tangan dari sampah plastik.
Bahan baku yang digunakan untuk membuat jam tangan dari sampah plastik.

Tidak hanya produk fashion, Rumah Plastik juga memiliki produknya sendiri. Satu set meja dan kursi bertengger cantik dengan warna yang kalem. Tentu saja, kursi itu juga terbuat dari sampah plastik. Garapan itu dikombinasikan dengan kayu jati.

Di balik produk ini, terdapat visi dan misi khusus yakni peduli terhadap lingkungan. Dari sampah plastik, menjadi elegansi tanpa batas membuat Crato dan Rumah Plastik lebih dari sekadar produk. Ini adalah cerita tentang keberlanjutan, kreativitas, dan masa depan yang lebih baik.

Gebrakan Rumah Plastik tidak berhenti sampai disitu. Pemerintah Kabupaten Buleleng mengendus aksi yang dilakukan, sehingga Rumah Plastik disunting sebagai penyedia bahan baku plastik. Mereka menggunakan sampah plastik itu untuk campuran aspal. Alhasil jalan sepanjang 15 kilometer menuju Pura Segara Rupek berhasil dibangun. Satu ton aspal membutuhkan campuran cacahan plastik sebanyak 3 kilogram. Bila panjang jalan 1 kilometer maka dibutuhkan sekitar 1.500 ton aspal. Itu berarti ada 4.500 kilogram cacahan sampah plastik sebagai campuran aspal untuk 15 kilometer jalan itu.

“Ini jadi solusi sampah di Buleleng yang kian hari kian bertambah. Formulanya sudah ada jadi tinggal buat,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Kabupaten Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra.

Permasalahan sampah di Buleleng tidak hanya soal sampah plastik. Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik juga akan menimbulkan berbagai masalah. Bau sampah yang menumpuk, lingkungan yang kumuh hingga penyebaran penyakit. Tetapi persoalan-persoalan itu tidak dibiarkan terjadi di Desa Baktiseraga, Buleleng.

Desa itu memiliki Tempat Pengolahan Sampah Reuse-Reduce-Recycle (TPS3R), bantuan dari Pemerintah Kabupaten Buleleng tahun 2020. Setelah mendirikan TPS3R, Tempat Pembuangan Sampah yang dulunya sangat kumuh kini menjadi lebih ramah lingkungan. Di tempat ini sampah organik yang telah dipilah dari rumah tangga diolah menjadi pupuk. Meskipun milik desa, pengolahan sampah-sampah organik itu dilakukan oleh anak-anak muda desa setempat.

Aktivitas pengambilan sampah dilakukan dari pagi hari dari pukul 09.00 wita hingga pukul 11.00 wita. Pihak TPS3R itu mewajibkan kepada setiap rumah tangga untuk memilah sampahnya. Dari organik, plastik, dan residu. “Organiknya kami bawa ke TPS3R untuk diolah menjadi kompos dan lain-lain. Plastiknya kami bawa ke bank sampah plastik dan residunya kami taruh transisi yang langsung nanti dibawa ke TPA Kabupaten,” ungkap Kepala Desa Baktiseraga, I Gusti Putu Armada.

Urban Farming yang dikelola Desa Baktiseraga, Buleleng dengan pupuk organik yang diolah dari TPS3R.
Urban Farming yang dikelola Desa Baktiseraga, Buleleng dengan pupuk organik yang diolah dari TPS3R.

Pengolahan sampah organik yang dikelola di TPS3R tidak berhenti sampai pembuatan pupuk. Pupuk yang diproduksi dari hasil sampah rumah tangga itu didistribusikan ke lahan urban farming yang dibuat oleh desa. Urban farming yang dibuat itu memanfaatkan lahan kosong milik warga. Pengelolaannya pun bersinergi dengan PKK Desa Baktiseraga.

Pada lahan tersebut, terdapat lebih dari 10 petak. Petak-petak itu lantas ditanami sayur-mayur. Hasilnya, mereka jual dan dipetik untuk konsumsi pribadi oleh pengelola TPS3R. Tidak tanggung-tanggung, omset dari penjualan sayur yang ditanam pada urban farming itu mencapai Rp 3 juta. Dengan pengelolaan yang dilakukan oleh dua orang serta para ibu-ibu PKK itu mampu memberikan penghasilan tambahan.

Cara kreatif ini pun juga dimanfaatkan oleh beberapa tenaga pendidik sebagai media edukasi bagi siswa-siswinya. ***

Editor : Dian Suryantini
#sampah plastik #jam tangan #rumah plastik #TPS3R #urban farming